Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
S3 : ARES FERNANDEZ



🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK, EMAK SAYANG BANGET SAMA KALIAN.🌹


🌹IGEH EMAK JUGA DI FOLLOW  DI : @REDLILY123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN.🌹


Dalam perjalanan, Laura berusaha menggoda Ares. Dia sesekali bergerak hingga bagian bawah gaunnya sedikit terangkat. Yang mana hal itu membuat Ares mengerutkan keningnya, dia heran Laura yang tidak bisa diam sejak tadi.


"Apa kau baik baik saja?" Tanya Ares dengan polosnya.


"Ah iya… aku hanya merasa tidak nyaman dengan pakaian yang aku pakai."


Ares mengangguk. "Nah, aku juga akan memberitahumu tadi. Itu terlihat seperti alat memasak nasi milik Oma ku. Wahh…, apalagi suaranya kresek kresek," ungkap Ares mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya. "Kau berubah pikiran? Ingin kembali?"


"Tidak, aku tidak mau kembali. Teman temanku sudah menungguku di sana," ucap Laura yang memilih untuk diam. Dia heran bagaimana bisa Ares berhenti tertarik padanya hanya sampai di titik ini. Pria itu tidak menanyakan sesuatu yang menjadi tanda kalau pria itu ingin memilikinya.


Bagaimana Laura tau? Tentu saja dia memiliki banyak pengalaman dengan pria pria di luar sana. Dan pria lebih muda tidak sulit ditaklukan, kecuali Ares yang saat ini sangat sulit Laura pancing ke zona yang lebih panas.


"Bagaimana wanita idealmu?"


"Tipe idealku?"


"Ya, wanita yang seperti apa? Yang berambut panjang? Berambut pendek? Yang seksi? Yang putih? Katakan bagaimana kriteria wanita idamanmu."


"Aku tidak punya kriteria idaman," ungkap Ares jujur.


Yang mana malah membuat Laura tertawa. "Katakan saja apa yang kau sukai, yang seksi bukan?"


Ares menggeleng. "Ini aneh, sebenarnya aku tidak punya tipe ideal untuk pasanganku. Maksudku, jika aku suka wanita yang berambut pendek, bukankah itu menandakan aku tidak menyukainya jika dia berambut panjang?"


Kening Laura berkerut, dia tidak mengerti. "Aku benar benar tidak paham."


"Maksudku jika aku menyukai seseorang, aku akan menyukai apapun yang ada dalam orang itu tanpa memikirkan kriteria idaman. Karena selama itu adalah dia, aku akan menyukainya."


"Begitukah?" Tanya Laura yang kembali terdiam. Dia memilih untuk menebalkan bibir nya lagi saat tempat tujuan mereka semakin dekat.


Sementara Ares menaruh curiga kemana dirinya akan dibawa. Dan ternyata benar saja, google maps membawanya ke tempat yang Ares janjikan tidak akan dia datangi sebelum lulus SMA.


Itu adalah sebuah bar yang menyatu dengan klab malam.


"Kau serius? Pesta ulang tahun di sini?"


"Iya, ayolah. Mereka ada di ruangan VVIP, jadi tidak akan menyatu dengan tamu lain."


Ares keluar dari mobil, diikuti oleh Laura yang tiba tiba menggandeng tangannya. "Kau tidak masalah bukan?"


Sebelum Ares mengeluarkan kalimat, Laura kembali memotong. "Biarkan saja seperti ini, aku tidak akan melebihi batas. Lagipula kau berjanji menemaniku, tidakkah kau ingin aku sedih?"


"Oh astaga, baiklah. Aku sedikit risih dengan pakaianmu, Laura. Gaunnya terlalu rendah, orang bisa dengan mudah menatap belahan dadamu."


Laura tertawa girang. "Ini sengaja, supaya kau bisa melihatnya dengan jelas."


Yang mana kalimat itu membuat Ares memilih diam, hatinya berkata, 'Lebih baik aku melihat seluruhnya di redtube daripada setengahnya dan tidak menggoda sama sekali."


Begitu masuk, telinga Ares langsung disuguhi oleh suara musik yang berdentum keras. Wah, klab malam sudah dimulai di waktu yang masih siang. Tapi menurut Ares tempat ini cukup pintar, dari luar tidak terdengar apapun.


Menaiki lantai dua, di sana ada meja meja dan kursi dimana orang orang tidak sebanyak di bawah.


"Ruangan ulang tahun temanku ada di lantai tiga."


Dari lantai dua menuju lantai tiga, mereka menaiki lift. Ares diperlihatkan ada koridor di mana banyak pintu dengan nomor di depannya.


Memasuki ruangan nomor satu. Begitu pintu didorong, suara musik yang sama berisiknya dengan lantai satu kembali terdengar.


Ares terdiam sesaat melihat banyaknya manusia seusia Laura yang memakai pakaian seksi, dengan pasangan mereka yang datang. Bahkan ada pria yang lebih cocok untuk menjadi paman mereka.


"Uh oh, aku dewasa lebih cepat," gumam Ares.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Kali ini Athena membawa kedua temannya ke salah satu resto Jepang yang ada di mall. Sengaja memilih mall karena Athena hendak membeli beberapa barang dari sini.


"Uh… ini sangat enak, Thea. Kau yang terbaik," ucap Arin.


Yang mana membuat Cantika mengangguk menyetujui. "Yaaa, ini sangatlah enak."


"Makan yang banyak teman teman, nanti bantu aku memahami Kimia ya."


"Cantika yang ahli dalam Kimia, jangan tanya aku."


"Hei, Cantika itu lebih pandai dalam bermusik. Bukan begitu, Cantika?"


Sebelum Cantika menjawab, Arin lebih dulu memotong pembicaraan. "Musik? Dia hebat dalam hal itu? Serius? Apa yang kau bisa, Cantika?"


"Dia mahir bermain piano, aku sangat terkesan saat dia memainkan piano saat kami masih kecil."


"Woaaaahhh, apa kau masih bermain?"


Kini giliran Cantika yang mengeluarkan suara. "Tidak, aku sudah tidak bermain lagi."


"Kenapa?" Tanya Athena dan Arin secara bersamaan. "Kenapa? Katakan padaku alasannya."


"Astaga, Cantika. Aku tahu kau begitu hebat, kenapa berhenti?" Tanya Athena tidak terima.


"Aku rasa aku tidak terlalu pandai dalam hal itu."


"Omong kosong," gumam Athena. "Aku bahkan butuh waktu sangat lama untuk mempelajari biola."


"Kupikir kau akan menjadi desainer dan pemilik kosmetik, Thea," ucap Arin.


"Iya, aku hanya mengasah kemampuanku yang lain. Aku akan menjadi pemilik kosmetik terbaik di dunia supaya semua orang terlihat natural, tidak seperti perempuan bernama Laura."


Seketika Arin mengingat tentang Ares. "Ah ya, apa mereka benar benar berkencan sekarang?"


"Tanyakan pada mak comblangnya."


Arin menatap Cantika. "Apa?" Tanya Cantika kaget. "Aku tidak tahu. Sungguh."


"Bagaimana pendapatmu, Thea? Kau tidak apa saudara kembarmu berpacaran dengan orang seperti itu? Kau paham kan maksudku?"


Athena mengangguk. Dia memang sedikit tidak terima jika saudara kembarnya memiliki pacar seperti Laura. Tapi dia bisa apa? Toh Athena juga mempercayai Ares jika saudaranya itu akan memilih pasangan yang baik seperti ibu mereka.


"Bagaimana kalau mereka sampai menikah?"


"Tidak mungkin, aku tahu Ares akan memilih pasangan hidupnya dengan sangat baik."


"Uh… aku dengar Ares memberikannya cookies saat dia ulang tahun," ucap Arin merasakan iri. 


Dan itu membuat Cantika terdiam, sumpitnya tidak lagi bergerak dan dia berhenti mengunyah. Dia bertanya tanya apa yang harus dilakukannya, dia takut Ares terluka atau dirinya terlalu ikut campur pada hubungan keduanya.


"Cantika?"


"Cantika?"


"Tika?"


"Woy!"


"Hei!"


BRAK! Athena memukul meja yang mana membuat Cantika berhasil kembali pada kesadarannya.


"Huh? Apa?"


"Astaga, Cantika. Apa kau sakit hati?" Tanya Arin.


"Tidak, bukan begitu."


"Jangan menaruh perasaan pada saudaraku, Cantika. Aku sudah memberimu peringatan. Kau boleh mengaguminya, jangan lebih. Nanti kau sakit hati. Ares tidak pernah terduga, aku tidak mau kau sakit jantung karenanya."


🌹🌹🌹🌹


Ares menepati janjinya dengan tidak akan menyentuh alkohol sebelum lulus SMA. Jadi dia hanya duduk dan memakan beberapa cemilan kecil di sana. Makanan makanan itu tidak membuatnya kenyang, membuat Ares memikirkan nasi padang di kepalanya.


Apalagi saat Ares menggilir ponselnya dan melihat beberapa gambar makanan yang dia inginkan itu. "Huhuhu, nasi padang," ucap Ares menelan ludahnya kasar.


"Ares Fernandez? Apa itu kau?"


Ares menutup ponselnya dan menatap seorang pria yang lebih tua darinya mendekat dan duduk di sampingnya. "Woaahh, aku tidak percaya kau sudah besar."


"Apa aku mengenalmu?"


"Tidak, tapi aku mengenalmu dan ayahmu, kau akan menjadi penerus Fernandez Corp, apa benar pusat real estate terbesar itu akan pindah?"


"Kantor pusat akan tetap ada di setiap negara, hanya saja kami sedang berusaha melebarkan sayap ke benua Amerika dan Eropa. Harus ada yang berkorban bukan?"


"Itu hebat, aku harap kita bisa menjalin kerjasama. Ngomong ngomong aku Denias, aku punya usaha menyiapkan alat alat rumah sakit. Tidak sebesar milikmu."


"Aku berdoa suatu saat agar alat alat buatanmu ada di rumah sakitku," ucap Ares dengan penuh wibawa.


Well, dia sangat pandai menjadi bunglon. Ares bisa menjadi apa saja sesuai lawan bicaranya, mengikuti arus yang membuatnya sangat mudah dalam bersosialisasi.


"Datang ke sini bersama pacarmu?"


"Bukan, dia temanku."


"Serius? Laura bukan pacarmu?"


"Kau mengenalnya?"


Denias mengangguk. "Dia kerabat jauh pacarku, dia biasanya tidak mengajak pria yang bukan pacarnya."


"Aku hanya pria yang dia temukan di pinggir jalan," ucap Ares yang mana membuat lawan bicaranya tertawa lepas.


Interaksi keduanya tidak lepas dari beberapa pasang mata yang memperhatikan kedekatan keduanya.


"Lihat itu, Laura. Tidak biasanya Denis menemukan lawan bicaranya. Dia hanya bicara pada orang yang penting, pria yang ka bawa benar benar orang yang hebat, Kakak membacanya di internet."


Laura tersenyum penuh kemenangan, dia meminum alkohol dengan sekali teguk. "Aku akan membuatnya tergila gila padaku."


"Ya, perkenalkan sesuatu yang belum pernah dia ketahui sebelumnya. Supaya dia takjub dan terjebak denganmu."


Kemudian teman temannya yang lain ikut ke dalam pembicaraan dengan memuji muji visual Ares yang luar biasa tampan


"Bahkan di umurnya yang masih 17 tahun, aku sudah melihat sisi CEO yang akan dikeluarkannya. Dia benar benar sesuatu."


"Dia tampan, dia akan memiliki perusahaan real estate terbaik di Asia. Belum lagi rumah sakitnya yang berada di mana mana. Masa depan cerah jika bersamanya."


"Laura, Kau hebat."


"Bagaimana bisa kau menemukannya?"


"Oh lihat, jam nya itu sangat mahal. Aku tidak percaya kau mendapatkan yang kaya dan tampan secara bersamaan."


Laura hanya tersenyum puas dengan apa yang dia lakukan, membanggakan diri pada teman temannya yang hanya memiliki kekasih sebatas kaya saja. Berbeda dengan Ares yang sangat kaya.


Sampai kerabat jauhnya mengatakan, "Dia sepertinya bosan, mulailah beraksi dan buat dia terjebak bersamamu."


"Oke, Kak," ucap Laura melangkah mendekati Ares saat Denis sudah meninggalkannya. "Apa kau bosan?"


"Sedang mencoba beradaptasi, masih lama?"


"Ini pertama kalinya kau ke tempat seperti ini?"


Ares mengangguk, dia terkejut saat Laura tiba tiba duduk terlalu dekat dengannya, bahkan tubuh keduanya menempel.


"Bisakah kau… aku gerah."


"Ares… akan aku perlihatkan sebuah dunia yang belum pernah kau ketahui."


"Apa?"


Laura mendongkak, tangannya terulur memegang rahang tegas Ares. Matanya terpejam hendak mencium pria di depannya.


Sampai… "uhuk! Uhuk! Apa yang kau minum, Laura? Baunya sangat busuk."


🌹🌹🌹🌹


To Be Continue