
🌹Vote atuh guys🌹
Oma mendengarnya, dia segera melangkah dan menarik Lily ke belakangnya.
"Keluar kalian! Keluar! Ini bukan rumah penampungan orang miskin seperti kalian! Pulang, dasar para wanita kekurangan uang! Pergi!"
Dena berdecak, dengan santainya dia berkata, "Ayo pergi ke kamarku, Megan. Di sini bising, Mama bisa mengajarkanmu beberapa cara menghangatkan pria. Ayo pergi dari sini."
"Pergi keluar! Bukan masuk kamar dasar kau wanita serpihan iblis!"
Dena dan Megan tidak mendengar, mereka malah melangkah pergi sambil menggoyangkan pantat. Membuat Oma memegang kepalanya yang terasa pening.
"Oma…." Lily membawa Oma duduk. "Oma, tidak apa apa?"
"Lily, kenapa kau tidak membalas?"
Lily hanya diam.
"Kau paham bukan apa yang mereka katakan?"
Lily mengangguk.
"Kenapa kau tidak melawan?"
Karena untuk Lily, dia terbiasa menelan semua hinaan tanpa membalas. Bukan hanya membuang waktu, itu hanya akan memperburuk keadaan. Dari kejauhan saja dapat dilihat sifat Megan dan Dena, dan itu bukanlah orang yang bukan pantas dibalas.
"Lily…."
"Lily tidak ingin memperburuk keadaan, Oma."
"Mereka merendahkanmu."
Lily diam, membuat Oma mengerti. "Kau terbiasa dengan cacian? Makian?"
Lily mengangguk pelan. "Lily tidak pernah membalas mereka."
"Lalu bagaimana kau akan bertahan dengan semua rasa sakit itu?"
"Lily akan pergi, Oma. Biarkan saja mereka mengoceh, benar atau tidaknya ucapan mereka itu untuk mereka sendiri."
"Lila…." Oma memegang kepalanya yang terasa sakit. "Kau benar benar harus merasakan rasa sakit yang mendalam untuk melawan."
"Oma," ucap Lily mengerucutkan bibirnya.
"Kau tahu, Iily, kau akan cepat mati jika menelan semuanya. Kau harus kuat, mulutmu harus menjadi tameng untuk hatimu, berjanjilah kau akan membalas, bukan diam. Keluarkan semua kekesalan itu, jangan di pendam."
Lily akhirnya mengangguk saat Oma menggenggam tangannya kuat. Lily terbiasa tidak membalas, karena posisinya serba salah sejak kecil.Â
"Kau adalah ratu di Keluarga Fernandez, kau akan menghasilkan penerus penerus raja di mansion ini. Jangan diam sampai anak anakmu nanti tersakiti."
Lily menegang, dia tidak menginginkan itu. "Lily mengerti, Oma."
"Bagus, sudah sarapan?"
Lily mengangguk. "Lily hendak menggambil dasi milik David."
"Pergilah, Oma akan menemui David."
Oma segera menuju kamar David saat Lily mencari dasi. Oma membuka pintu kamar tanpa mengetuk. "David!"
"Ada apa, Oma?"
"Usir dua siluman itu, sekarang!"
"Oma, ada apa?"
"Mereka mempermalukan istrimu dengan mengejek Lily, kau tahu istrimu sangat sedih? Jika saja dia tidak tahan, dia akan meninggalkanmu."
Seketika David menegang, dia diam dengan tatapan kosong.
"Apa yang kau tunggu huh?"
Dan saat itulah, Oma memgeluarkan semua kekesalannya. Menyebutkan satu per satu kesalahan mereka, sopan santun mereka yang kurang sampai ketidakpantasan Lily diperlakulan sebagai istri David.
"Kau mau Lily pergi dari sini, huh? Wajahnya masam, dia menahan tangisan!"
🌹🌹🌹
Lily menemukan dasi yang dia cari. Berjalan pelan, Lily kembali ke kamar. Dan saat itulah Oma dan David hendak keluar.
"Kalian mau ke mana?"
"Diam di kamar, Sayang," ucap David mencium pipi Lily dan meninggalkannya seorang diri.
Saat itulah David melangkah lebih dulu untuk menemui Dena, dia membuka pintu kamar Dena, tapi dikunci.
"Mama, aku ingin bicara," ucap David.
"Astaga, David, sebentar."
Saat Dena membuka, di sana lah David melihat Dena yang tersenyum manis bersama Megan sedang duduk di atas ranjang.Â
"Masuklah, Sayang." Dena mencoba menarik tangan David. "Kau ingin berduaan dengan Megan?"
"I want to talk to Mama. (Aku ingin bicara dengan Mama.)"
"Just say it. (Katakan saja.)"
"Get out of here, Mama. (Pergi dari sini, Mama.)"
Dena tertawa tidak percaya, dia menatap Megan yang juga melakukannya. "Hello, my dear son, I am your mother, the person who gave birth to you, and I have the right to live here, I have the right to manage your life, I also have the right to choose the marriage I want. Your life is in my hands. (Hello, putraku Sayang, aku ini ibumu, orang yang melahirkanmu, dan aku berhak tinggal di sini, aku berhak mengatur hidupmu, aku juga berhak memilih menatu yang aku inginkan. Hidupmu ada di tanganku.)"
Sebelum David bicara, Dena lebih dulu menyela, "Megan come here. (Megan kemarilah.)"
Dan Megan yang hanya memakai pakaian seksi itu mendekat.Â
"Look at her, tall, educated and beautiful. What can your wife be proud of? There is no. He is ugly, poor, stupid and short. You will damage Fernandez's blood. (Lihat dia, tinggi, berpendidikan dan cantik. Apa yang bisa istrimu banggakan? Tidak ada. Dia itu jelek, miskin, bodoh dan pendek. Kau akan merusak darah Fernandez.)"
Dena malah tertawa. "Berhenti bercanda dan ceraikan dia."
"If you don't leave, I'll deactivate your account. I will not send money again. (Jika Mama tidak pergi, akan aku nonaktifkan rekening Mama. Aku tidak akan mengirim uang lagi.)"
Awalnya Dena mengangkat tangan sambil menggoyangkan rambut, seolah tidak percaya pada apa yang akan dilakukan David. "Lakukan saja."
Dan saat itulah David menelpon Holland. "Hallo, Holland, nonaktifkan semua rekening atas nama Mamaku, dan tarik semua uangnya pada rekening istriku."
"Baiklah!" Dena merebut ponsel David dan berteriak pada Holland. "Jangan lakukan itu, Holland, atau kau akan mendapatkan pelajaran."
"Mama tenang," ucap Megan mencari perhatian.
Dena mematikan telpon dan memberikannya lagi pada David. "Jangan lakukan itu."
"Maka pergi dari sini."
"Kau tega? Pada Mamamu?"
"Mama, tenang. Kita pergi saja dan cari tempat berteduh."
David terkekeh melihat Megan memainkan drama. "Bring your stuff, I ordered a hotel. Go away from here. If in five minutes you are still there, I will do bad things, Mama. I will not give you a penny. (Bawa barang kalian, aku sudah memesankan hotel. Pergi dari sini. Jika dalam lima menit kalian masih ada, aku akan melakukan hal buruk, Mama. Aku tidak akan memberikan sepeser pun pada kalian.)"
David keluar, membuat Dena dan Megan menghentakan kaki. "Apa yang akan kita lakukan, Mama?"
"Kita pergi saja dulu."
Keduanya berkemas bersiap untuk pergi. Dan saat keluar dari pintu, David sudah menunggu di sana dengan menyiapkan taksi yang akan mengantar keduanya.
"Teganya kau, David."
"Silahkan pergi, Mama."
Saat itulah Oma datang dengan ember falcon di tangannya. "Kalian belum mau pergi?"
"Apa urusanmu nenek tua?" Dena menatap tajam.
"Kau adalah urusanku, dan ini adalah untukmu." Oma membuka penutup ember falcon, lalu melempar isinya pada Dena dan Megan.
"Aaaaaaaaaa!" Keduanya menjerit kuat.
Dan Oma tertawa melempari mereka dengan kodok kecil yang dibelikan Eta semalam. "Haha haha hahaha! Menikahlah kalian dengan pangeran kook! Huuuuuuuhaaaaaayyy!"
David berdiri mematung di sana, melihat Dena dan Megan ketakutan sampai akhirnya masuk ke dalam mobil.
David menatap Oma heran.
"Apa? Kenapa melihat Oma seperti itu?"
Tanpa diduga, David bertepuk tangan. "Oma, kau hebat."
🌹🌹🌹
Jam sudah hampir malam, David belum keluar dari ruangannya. Dia benar benar merindukan Lily, apalagi Lily tidak mengiriminya makan siang dikarenakan David ada urusan dengan pengusaha lain.
Seteleh selesai dengan pekerjaannya, David bergegas pergi.
Saat macet, ada seorang anak menawarkan buket pada David. "Untuk pacar dan istrinya, Tuan."
"Istri dan pacar saya adalah orang yang sama," jawab David.
"Ya, untuk pacar sekaligus istri."
"Saya menikahinya, baru berpacaran dengannya."
"Mau beli atau tidak?!" Tanya penjual itu menahan kekesalan.
"Berikan aku mawar."
Dan itu David lakukan tanpa sadar, dia membeli bunga dengan membayangkan akan memberikannya pada Lily lalu mendapatkan ciuman.
Namun, saat rasa percaya diri dan tingkat keegoisannya kembali datang, David membiarkan bunga itu di mobil saat sampai di mansion.
"Aku pulang, Oma," ucap David pada Oma yang sedang merajut, dia mencium pipinya. "Selamat sore, Oma."
"David… duduk sebentar."
"Ada apa, Oma?"
"Lily terlihat masih sedih, Oma rasa dia tipikal orang yang memendam semuanya sendirian, terlihat gurat sedihnya. Oma rasa kau harus membawanya ke tempat baru untuk sementara."
David mengangguk. "David akan membawanya ke apartemen David."
Seketika Oma terlihat bingung, pasalnya apartemen David adalah area pribadi yang bahkan belum terjamah olehnya. Dan Oma tahu itu adalah pertanda baik, David membawa Lily pada kehidupannya tanpa menutupi tempat itu.Â
"Ba… baiklah, dia ada di atas. Belum makan malam."
David segera bergegas, dia naik dan mndapati Lily sedang menyetrika pakaiannya.
"Sayang…."
"David? Sudah pulang? Ingin mandi sekarang?"
David menggeleng, dia datang memeluk Lily. "Ayo pergi."
"Kemana?"
"Ke apartemenku."
"Kau punya apartemen?"
🌹🌹🌹
To be continue.