Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Menutupi Ketidaksempurnaan



🌹VOTE🌹


Tubuh Lily bergetar tatkala David membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Saat pria itu mencium bibirnya, membelai rambutnya dan menghisap lehernya. Apalagi ketika tangan David merayap membuka paha Lily.


"Masih sakit….," Ucap Lily beralibi. Karena kenyataanya juga seperti itu, Lily juga ingin berjalan-jalan besok. 


"Hanya masuk, tidak bergerak, aku janji," ucap David. Dia selalu ingin melakukannya, apalagi menjelang malam.


David bukan pria yang tidur dua kali dengan wanita yang sama. Pengecualian untuk Lily, David ingin melakukannya lagi dan lagi. Berdekatan dan terus dekat hingga akhirnya kembali menyatu.


"David…. Sebentar…."


David tidak berhenti, dia dibungkam oleh ciuman David yang lembut, dengan tangannya yang membuka mula dari gaun Lily.


David terlalu lihai, hingga dengan mudahnya dia membuat Lily telanjang dada. Hanya satu lagi yang perlu di singkirkan.


David memegang benda kenyal itu, perlahan mengelusnya bersamaan dengan ciumannya yang beralih ke leher.


Lily mencoba membungkam mulutnya dari desahan hebat. Kenyataannya dia kembali basah saat David memasukan satu jarinya ke dalam celana dalamnya.


"David…."


"Hanya masuk."


Dan Lily merasa ini sedikit tidak adil, dirinya tidak mengenakan apapun, tapi David menggunakan pakaian lengkap. Dia hanya menurunkan rel sleting celanya, menggesekan kejantanannya pada milik Lily.


"David…"


"Masuk… aku akan masuk."


"Aaaaakkkhhhh…." Lily menggigit bibir bawahnya ketika kepalanya yang baru masuk. Kewanitaannya sepertinya kembali mengecil dalam satu malam, dan itu membuatnya kembali merasakan sensasi geli juga sakit di saat bersamaan.


"Sedikit lagi…." 


Dan Lily tahu itu belum setengahnya, milik David terlalu panjang.


"Aaakkhhhh…." Lily membungkam desahannya di ceruk leher David.


"Sebentar, Sayang."


David ingin menghentak, tapi dia jelas tahu kondisi Lily. Berada di dalamnya saja membuat David berkedut.


Lily memejamkan matanya sambil menyembunyilan wajah di dada David ketika semuanya memenuhi kewanitaannya. David berhasil memasukan semuanya, dan itu sampai menyentuh dinding rahimnya.


"Sudah sampai, Sayang. Sekarang kau bisa tidur."


David gila, bagaimana dirinya bisa tidur dengan keadaan kewanitaan yang mengganjal kuat di sana. 


"David…. Aku tidak nyaman."


"Kau akan terbiasa."


Entah kapan hal itu terjadi, kejantanan David menengang kuat. Membesar dan membuat Lily tidak nyaman, apalagi dengan tangan David yang masih merayap menyentuh dadanya. 


Kenyataannya, David sengja membuat Lily memintanya agar bergerak.


"Sudah, ayo tidur."


"Aku…. Ini terlalu mengganjal," ucap Lily bergerak, membuat David berusaha menahan pinggangnya untuk menghentak.


David menggertakan giginya menahan kenikmatan ketika Lily bergerak sedikit saja.


"David, geli….," Ucap Lily tidak tahan untuk melepaskan benda itu. Namun, David menahan pinggangnya. Semakin berusaha Lily menjauh, David menanamkannya lebih dalam.


"Ayo, tidur. Besok adalah hari yang panjang."


Dan Lily tahu, David tidak akan melepaskannya sampa pria itu meledak.


"Satu kali saja, nanti cabut."


David membuka matanya, dia menyeringai. "Oke, satu kali ledakan karena kau yang minta."


"Pelan-pelan."


"Tidak ada lagi rasa sakit, aku janji, hanya ada kenikmatan."


Lily memejamkan matanya ketika David mulai bergerak berirama, menanmkannya begitu dalam hingga istrinya bersura, "A… aaakkkhh….."


Terus bergerak, sampai akhirnya menjadi hentakan yang menyelam dalam dan membuat Lily hilang akal. Titik sensitif di seluruh tubuhnya dikendalikan David. Sentuhan, hentakan, ciuman dan gigitan nakal yang dilakukannya.


🌹🌹🌹


Lily bangun lebih dulu, dia bergegas bangun saat melihat sinar matahari sudah bersinar. Dia hendak bangun, tapi David menahan pinggangnya. Dengan riang gembira, Lily berkata, "David, sudah siang. Ayo bersepeda."


"Bersepeda?" 


Lily mengangguk.


Saat membuka mata, David dikejutkan oleh senyuman lebar Lily. Giginya yang putih berjajar rapi, membuat matanya agak menyipit. Kulitnya putih.


"Kenapa? Ayo kita keluar."


"Beri aku ciuman."


Lily melakukannya malu-malu, dia mengecup bibir David. "Ayo keluar."


"Apa tidak sakit?"


"Tidak, sudah baikan. Ayo kita keluar."


David tahu Lily masih merasakan sakit, mengingat dirinya kembali berhenti tengah malam. "Apa yang ingin kau lakukan? Bersepeda?"


Lily mengangguk kuat. "Ayo….."


David menggeliat. "Apapun untukmu, Sayang."


Lily tersenyum gembira, dia mengambil handuk untuk melilitkan di tubuhnya dan pergi ke kamar mandi.


David yang ditinggalkan merasa kesal, dia segera bergegas mengikuti Lily dengan tanpa pakaian sehelaipun.


"Kenapa tidak mandi dalam bathub?"


Lily yang sepertinya sibuk mandi, dengan air shower yang berisik membuatnya tidak menengar David. Membuat pria itu berdecak dan memeluk Lily dari belakang. Membuat Lily tersentak kaget.


"Aku… akan memandikanmu setelah aku mandi."


"Bersama saja," ucap Davi menciumi punggung istrinya dari belakang, mereka diguyur air shower yang hangat.


"Apakah kau masih bisa tumbuh?"


"Tidak tahu."


"Kau terlalu pendek."


Kenyataannya, David kesulitan mencium Lily jika mereka berdiri. Lily terlalu mungil untuk umurnya yang masih 19 tahun.


Ketika tangan David merayap di dadanya, Lily menahannya. "Ki… kita akan keluar."


"Ck, kau tidak tahu arti bulan madu ya?"


"Kita di sini tidak sebulan," ucap Lily dengan suaranya yang kecil.


"Baiklah, pekan madu. Maksudnya, setiap detik harus dipenuhi dengan madu."


"Makan madu?"


David menyabuni Lily dari belakang. "Bukan, bagaimana tekstur madu?"


"Lengket dan manis."


"Ya, benihku lengket, ladangmu manis. Perpaduan yang sempurna bukan?"


Pipi Lily memerah. Meskipun David telah melihat tubuhnya, merasakannya, bahkan berulang kali, Lily tetap saja malu jika membicarakannya. Pasalnya, Lily malu saat mengingat dirinya hilang kendali saat David mulai mengaktifkan pabrik.


"Kau masih malu? Kenapa kau malu? Kau seharusnya berdandan dengan lebih cantik agar aku yang tampan dan kaya tidak beralih dan tetap menatap wajahmu seorang, menebar benih di ladangmu."


Lily diam.


"Kau pasti tidak ingin kehilanganku bukan?"


Tidak ada jawaban dari Lily.


"Aku ini kaya, dan tampan."


Lily mencoba memanfaatkan momen. "Kalau kau kaya kau pasti bisa menyewa sepeda dan berkelilimg Pangandaran sepuasnya."


"Tentu aku bisa," ucap David seketika.


Dan berhasil, membuat Lily dan David mandi lebih cepat.


Ketika Lily sedang mengeringkan rambut, dan David berpakaian, David bertanya, "Kau tidak memakai sun protect?"


Lily menggeleng, membuat David mendekat. "Pakai ini."


Lily bingung, ini adalah sejenis cairan berwarna putih. 


"Kau benar-benar memalukan, begini cara memakainya."


Lily terkejut saat David mendudukannya di meja rias. "Seperti ini."


David menyentuh wajah Lily perlahan dan penuh kasih sayang. Membuat Lily diam menatap David yang melakukannya penuh dengan kesabaran. Lily ingin menangis, tapi menahannya seorang diri. Dia terharu, David peduli padanya. Meskipun tingkat narsisnya selalu tingkat dewa, perlahan dia memperlihatkan kepeduliannya.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?"


"Seperti apa?" Lily segera berpaling 


"Astaga… kau mengagumiku diam-diam."


🌹🌹🌹


"Nyewa sepeda, Pak?" Tanya sang pemilik.


"Untuk pasangan, Pak. Ada?" David bertanya.


"Oh, untuk pasangan paling ini, Pak. Yang gocengan, sisa yang ini." Yang ini yang dimaksud adalah sepeda dengan empat bangku, hanya tersisa satu untuk dua orang. Dan itu sepeda biasa dengan penumpang yang diam.


"Jika ingin mengayuh keduanya, naik saja yang empat ini."


"Saya tidak mau sepeda kembar siam empat."


"Kalau begitu yang ini saja, Pak."


David diam, sebenarnya dia tidak terlalu mahir menaiki sepeda.


"Nanti si Ibunya di gonceng di belakang, Pak. Kan romantis."


Menatap Lily sebagai persetujuan, Lily mengangguk. Terpaksa David memilih.


"Berapa, Pak?"


"50 ribu per jam, bisa kurang kok, Pak."


"Jangankan 50 ribu," gumam David, dia mengeluarkan sebuah cek. "Sisanya untuk, Bapak."


"Maaf, Pak. Saya tidak menerima pembayaran seperti ini, harus tunai. Silahkan di lihat," ucapnya sambil menunjuk pada pohon dengan plang keterangan di sana.


David diam, pasalnya dia tidak pernah membawa uang tunai.


"David…. Aku bawa uang tunai."


Tentu saja itu adalah tindakan menjatuhkan harga dirinya. Apalagi saat Lily mengeluarkan uang 100ribu dan memberikannya pada bapak-bapak itu.


"Ini, Pak."


"Makasih, Bu. Silahkan pilih."


"David, ayo. Aku sudah membayarnya."


"Ini teh Bapak atau Ibu yang mau nyetir?"


"Tentu saja saya, Pak," ucap David melupakan kalau dirinya tidak mahir naik sepeda.


🌹🌹🌹


TBC.