
🌹VOTE🌹
"Lily," panggil David saat dia sudah siap dalam bathub.Â
"Sebentar."
"Ayo cepat."
Lily masuk kamar mandi, dia mendapati David yang bertubuh sixpack sedang duduk dalam bathub. Lily masih malu, apalagi melihat air belum sepenuhnya merendam. Bagian kejantanan David belum terendam, dia tidur layaknya anak baik. Tidak seperti saat bangun, dia mampu menyiksa Lily lewat hentakannya.
"Lily…"
"Sebentar," ucap Lily memilih salah satu parfume mandi yang akan dipakainya.Â
Sampai dia mendekat, David memberinya isyarat agar masuk ke dalam.
"Mandi bersamaku."
"Ba… baik."
"Duduk di pangkuanku."
"Iya," ucap Lily datang dan duduk di sana.
Seperti biasa, Lily selalu meninggalkan pakaian dalam. Yang membuat David kembali jahil, dia mengusap punggung istrinya yang sedang memandikan.
"Buka saja pakaianmu, supaya mandi sekalian."
"Mmm….." Lily terlihat bingung.
"Ada apa? Kau ingin menolak lagi mandi bersama pria tampan sepertiku?"
Sebenarnya Lily tahu, ini bukan hanya mandi biasa. David pasti akan berselunjur di dalamnya. Dan ini sudah siang.
"Ini sudah siang, David."
"Aku tidak peduli," ucap David perlahan membuka bra Lily.Â
Perempuan itu menunduk malu, apalagi saat dadanya terpampang di depan David. Bagaimana pria itu menyentuhnya pelan, membuat tubuhnya bergetar.
"David… aku harus menggosok punggungmu."
"Gosok saja."
"Kau harus berbalik."
"Tidak, seperti ini saja."
"Astaga!" Lily kaget saat David mengadukan dadanya yang kenyal bersama dada David yang liat. Puncak dada mereka bersentuhan, membuat Lily kegelian.
"Nah, sekarang tanganmu bisa mencapai punggungku."
Supaya mempercepat waktu, Lily menggosok punggung David sambil memeluknya. Lily gelisah saat David membuat pola pola aneh di punggungnya, apalagi merasakan dada mereka bergesekan.
David menyeringai merasakan puncak dada Lily mengeras dan menegang akibat gesekan. Menjahili istrinya agar tidak fokus, David mengusap di pinggir gunung Lily dengan ibu jari.
Tidak puas, jari David turun melewati bongkahan p*nt*t Lily dan masuk ke dalam celana dalam.
"David….." Lily menahan napas saat David sedikit mengangkat tubuhnya hingga memberikan akses tangan suamunya pada kewanitaannya.
David merasakannya, bagaimana kewanitaan Lily hangat di dalam air, begitu mendamba untuk kejantanannya. David ingin menanamkan dirinya dalam kehangatan itu, menghentak berulang menggantikan semalam.
David mulai menggerakan jarinya, dan Lily mulai gelisah.
"David…. Siang…."
"Siang juga, Sayang," ucap David memberikan ciuman dalam, dia memasukan lidahnya pada mulut Lily dan mengobrak abrik isi mulut istrinya.
"Hhhhmmmpppp…. Hhhhmmmpphh…." Desahan Lily tertahan oleh ciuman yang begitu dalam, sementara di bawah sana kewanitaannya ditusuk tusuk oleh satu jari tengah David.
"Hhhhhmmmmpphhh!" Lily mengelijang merasa kenikmatan saat David menambahkan satu jari.
Tangan David menahan lehernya hingga ciuman mereka tidak bisa lepas, sementara di bawah air sana, David menyiksa Lily dengan kenikmatan.
Tubuh Lily naik turun sesuai irama tusukam jari David. Tubuh mereka berdempet satu sama lain.
Hingga ketika David melepaskan ciuman, itu bersamaan dengan masuknya kejantanan David pada kewanitaan Lily.
Dan kejantanan yang kekar itu masuk secara perlahan.
"Jangan bergerak Sayang," ucap David ketika kepala kejantanannya baru saja masuk.
Lily menggigit bibirnya menahan suara, matanya terprejam menahan rasa ketika lubang kewanitaannya kembali melebar oleh kejantanan David yang begitu besar.
"Sudah," ucap Lily dengan suara tertahan. "Sudah dalam."
"Belum cukup dalam," ucap David mendorong pinggang Lily untuk duduk lebih dalam lagi.
"Ahh…"
Dan David melihat pemandangan indah, bagaimana Lily menahan sensasi kejantanan David menusuk hingga bagian terdalam.
"Sayang…." David menarik Lily untuk dia cium lagi. "Coba bergerak…"
Lily tidak kuasa menahan gelenyar aneh di dalam tubuhnya, bergerak saja membuatnya lemah. Dan karena Lily belum bisa mengendalikan, David berdiri dan membawa Lily ke atas ranjang.
Dan semakin lama, hentakan itu terdengar semakin jelas bersahutan dengan napas Lily yang tertahan.
Sampai akhirnya, setelah Lily lama membuka kakinya, David mencapai puncak. Ini yang pertama untuk David, tapi sudah yang ketiga untuk Lily.
David mencium bibir Lily saat dia mengeluarkan benihnya.
Tubuh Lily menegang merasakan panas di kewanitaannya.
"Aaaaa… aaaahhh…" suara Lily tersendat sendat, rasa panas yang begitu kuat, membuat kewanitaannya berkedut.Â
🌹🌹🌹
Oma mengerutkan kening, keduanya belum juga turun.
"Eta… harus ada yang diluruskan di sini."
"Saya akan naik, Nyonya."
"Tidak, biarkan saja mereka."
"Baik."
Oma yang sudah menyelesaikan sarapan sejak tadi sedang menunggu David pergi, dia ingin senam bersama Lily.
"Kenapa mereka belum keluar?"
Karena kesal, akhirnya Oma naik ke atas. Bersamaan dengan David yang keluar kamar.
David menyeringai. "Selamat pagi, Oma. Aku akan berangkat," ucap David memberi Oma ciuman.
Tangan Oma menahan David. "Apa yang kau dan Lily lakukan?"
"Membuat adonan."
"Tidak, Oma," ucap David kembali memberikan ciuman di pipi. "Lihat saja sendiri."
"Awas saja jika Lily pingsan! Oma buat kau menyesal!"
"Bye, Oma."
Oma segera bergegas ke kamar Lily. Dia melihat Lily yang sedang membereskan kamar dengan memakai kaos David yang kebesaran.
"Lily?"
"Oma? Maaf Lily belum membereskannya."
Oma menatap ke atas ranjang yang basah dan acak-acakan. Membuat Oma berdehem. "Lily, kemarilah duduk sebentar bersama Oma."
Lily melakukannya, dia duduk di sofa bersama Oma. "Ya, Oma?"
"Bagaimana kalau kita memulai program kehamilan sekarang?"
"Oma…..," ucap Lily malu.
"Kenapa malu? Oma akan menyuruh Mete dan Eta menyiapkan hal hal yang membuat kau menuju kehamilan."
Lily diam, masih malu.
"Kau mau kan?"
Lily tidak memiliki alasan menyakiti hati Oma, maka dia mengangguk.
Oma bertepuk tangan senang, dia memeluk Lily. "Sayangku… Oma tidak sabar menggendong anakmu."
Lily tersenyum.Â
"Aku yakin akan bagus perpaduan antara dirimu dan David."
"Benarkah?"
"Ya… David banyak menuruni penampilan ibunya." Oma mengatakanya dengan malas, pasalnya dia tidak menyukai Ibu dari David yang kini berada di Amerika.
"Ada apa, Oma?"
"Tidak ada, Sayang. Hanya saja…. Setelah anakku meninggal karena kecelakaan, dia dengan mudahnya pergi ke Amerika bersama pacar barunya. Beruntungnya David sangat menempel pada Oma, dia tidak ingin berpisah."
Lily tersenyum mencoba mencairkan suasana. "Pasti David sangat lucu sekarang."
"Ya, sangat. Sampai saat inipun dia lucu bukan? Kau menyukainya."
"O--oma….."
"Ck, dasar perempuan. Oma akan buat kau cantik kembali."
"David tidak ingin pipiku mengempes kembali, Oma," ucap Lily memegang pipinya. "Dia suka seperti ini."
"Pipimu terlihat lebar."
"David….." Lily malu malu. "Dia suka menciumnya."
"Haahahah, Oma yakin dia mengira itu bantal, Lila."
"Lily, Oma. Namaku Lily."
"Iya itu maksud Oma."
🌹🌹🌹
Lily menatap rantang di depannya dengan mata berbinar, dia segera membungkusnya dengan kain supaya lebih kuat.
"Sudah siap?"
"Sudah, Oma. Lily berangkat dulu ya."
"Hati-hati."
Lily mengangguk.
"Eta!"
"Ya, Nyonya Besar?"
"Holland sudah siap?"
"Ya, Nyonya."
Oma menoleh kembali pada Lily. "Pergilah."
"Sampai jumpa, Oma."
Lily dengan riang kembali menjalani aktivitasnya sebagai seorang istri.
"Selamat siang, Nyonya Muda."
"Siang, Holland." Lily masuk saat Holland membukakan pintu untuknya.
"Anda sudah baikan, Nyonya?"
"Aku sembuh, Holland."
Mobil mulai keluar dari mansion.
"Anda ingin membeli sesuatu dahulu, Nyonya?"
"Tidak, Holland."
Lily menahan senyuman menuju kantor David. Dia merindukan rutinitas ini.
Sampai Lily melihat sebuah kantung kresek hitam di bawah kursi, Lily mengambilnya. Dia membuka dan memgerutkan kening melihatnya.
"Holland, milik siapa ini?"
Holland tergagap, itu adalah pengaman senapan untuk David. Tuannya meminta Holland membelinya tadi malam.
"Holland? Pengaman milik siapa ini?"
Holland masih diam.
"Apa David yang memintamu membelikannya? Ini milik David 'kan?"
Lily sedikit khawatir saat menanyakannya. Pasalnya, dia tahu kalau David tidak pernah memakai pengaman jika bersamanya. "Apa dia yang meminta ini padamu?"
Holland merasa bersalah mendengar suara kecil dan rapuh Lily.
"Holland?"
🌹🌹🌹
tbc.