Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
S3 : ARES FERNANDEZ



🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK SEMUANYA.🌹


🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA IGEH EMAK YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK, AJAK JUGA YANG LAIN BUAT BACA INI YA.🌹


“Ganti dulu bajunya, Tika. Nanti bantu Nenek masak.”


“Iya, Nek.” Cantika masuk ke dalam lebih dulu.


“Nak Ares ganti bajunya ya, ada punya Kakek belum dipake kok. Kasihan itu basah.”


Karena Ares diajarkan oleh Oma tentang tatakrama, dia mengangguk. “Iya, Nek.”


“Ayo masuk dulu,” ucap Nenek membawa masuk dari pintu belakang.


Ares menunggu di sana, sementara Nenek membawakan pakaian ganti untuknya.


“Ini pakaian gantinya, pakai kamar mandi yang itu saja.”


“Baik, Nek.”


Ares membawa kaos itu ke dalam kamar mandi, dia membentangkannya saat sudah sampai di dalam kamar mandi. Ares menelan ludahnya kasar, itu kaos yang bertuliskan petugas museum. Memang masih baru, tapi jelas jelas ini terlihat seperti penjaga museum.


Untuk menghormati, Ares memilih untuk memakainya. Dan bukan hanya tulisannya yang aneh, tapi bajunya yang juga kebesaran. Kaos itu berukuran XXL yang mana membuat Ares terlihat aneh. “Wah, aku mirip remaja yang baru saja memakai baju curian. Bukankah aku terlihat seperti orang orangan sawah?” tanya Ares pada dirinya sendiri sambil merentangkan tangannya dan menatap dirinya sendiri dalam cermin.


“Sudahlah,” ucap Ares keluar.


“Nah…., kan cocok.”


“Cocok jadi penjaga museum, Nek?”


“Eh bukan lah, Nak Ares tampan. Cocok pakai baju apa saja.”


“Ah, efek wajah ya, Nek.”


“Iya, makannya Kakek gak pakai, soalnya bajunya kebesaran. Kalau dipakai Nak Ares kan bagus.”


“Nenek bisa saja,” ucap Ares memilih duduk di sofa yang ada di bagian dapur.


“Jangan duduk di situ, Nak,” ucap Nenek dengan wajah panic.


“Kenapa, Nek? Ada dedemitnya?”


“Bukan, di dalam saja nunggunya.”


“Oh, gak papa, Nek. Di sini saja.”


“Athena nya kemana? Kok belum main ke rumah Cantika?”


“Nenek tahu pada Athena?”


“Lah mana bisa tidak tahu, Cantika sering bercerita tentang kalian berdua. Kemarin juga bercerita kalau bertemu lagi teman semasa kecilnya.”


Ares tersenyum mendengarnya. “Athena ada les biola, jadi tidak ke sini. Lain kali Ares suruh datang ke sini.”


“Iya, main ke sini. Nanti sama sama makan masakan Cantika.”


“Cantika masak, Nek?”


“Makannya tinggal dulu untuk makan malam ya, makan masakan Cantika.”


🌹🌹🌹🌹🌹


Cantika yang sudah mengganti pakaiannya itu segera turun untuk memasak bersama sang nenek dan menyiapkan makan malam. Sebelum masak, Cantika selalu melihat ibunya dari luar pintu.


Ibunya sedang menelpon, dan Cantika selalu mendengarkan dari luar sana.


“Mas, berhentilah jika lelah. Jangan membuat dirimu sendiri sakit.”


“……”


“Aku tahu, tapi jangan sia siakan uang yang tersisa untuk aku yang mungkin tidak akan sembuh.”


“……”


“Aku tidak bermaksud mengatakan itu, aku hanya….. kita tidak boleh membuat masa depan Cantika gelap.”


“…..”


“Aku ingin dia kembali mendalami musiknya, dia sangat mencintai piano dan pertunjukan itu, dan kita merengutnya.”


“…..”


“Ya, sekolah di sini juga bagus. Tapi kehidupan cerah Cantika sudah terbentuk di sana, sekolah music yang dia sukai.”


“…..”


“Kau tahu apa yang dia lakukan di sini? Dia menghemat banyak uang, dia tidak menikmati sekolahnya.”


“…..”


“Berikan uang yang kau kumpulkan untuk memindahkan kembali Cantika ke sana, dia harus punya masa depan yang cerah.”


Cantika memilih untuk berhenti mendengarkan. Dirinya sudah tahu, kalau perusahaan ayahnya ada diambang kebangkrutan, itu alasannya dirinya dan mama nya berada di sini untuk menghemat biaya.


Alasan Cantika menghemat juga itu, dia ingin semua uang yang dicari mama nya hanya untuknya. Cantika hanya ingin mama nya sembuh.


“Cantika! Ayo masak!”


“Iya, Nek.”


Cantika menyeka air matanya dan melangkah menuju ke dapur dengan ceria. “Wah, Ares, kau terlihat seperti Kakek.”


“Ahahahaha.” Ares tertawa hamar. “Aku yakin Kakek sangat tampan.”


“Nak Ares, Nenek harap kau suka dengan terong dan sayuran sejenisnya.”


“Karena aku yang akan masak,” ucap Cantika.


“Wah…., aku agak merinding.”


“Aku pandai memasak Ares, lihat saja kau akan kagum melihat keahlianku.”


Ares hanya tertawa. “Apa ada yang bisa aku bantu?”


“Tidak perlu,” ucap Nenek. “Tamu duduk saja dan melihat.”


🌹🌹🌹🌹


“Terima kasih akan makan malamnya, Nek. Maaf Ares tidak bawa apa apa.”


“Tidak apa, Nenek sudah senang kau datang.”


“Ares merasa tidak enak tidak membawa apa apa.”


“Kalau begitu nanti bawa banyak uang ya.”


Seketika Ares terdiam, yang mana membuat Nenek tertawa memperlihatkan giginya yang hampir ompong.


“Hahahahaa!”


“Hahahaha!”


Begitu keduanya tertawa, membuat Cantika melihat keduanya dengan cara yang aneh.


“Selera humor Nenek lebih baik dari pada Daddy Ares.”


“Sudah pulang, nanti orangtuamu cemas. Sudah diberi kabar bukan?”


“Sudah, Nek.”


Dan setelah Nenek kembali ke dalam, meninggalkan Ares dan Athena yang ada di teras depan.


Hujan sudah reda, matahari mulai muncul lagi.


“Bye, baju itu boleh untukmu nenek bilang.”


Ares melihat baju di dalam jaketnya. “Oke, terima kasih. Lihatkan baju apapun pas dipakai olehku yang tampan.”


Cantika mengangguk dengan jujur. “Memang benar, mana ada orang orangan sawah tampan.”


“Cantika,” panggil Nenek dari dalam. “Tolong bawakan makan malam untuk mama mu.”


“Baik, Nek.”


Kemudian tatapan Cantika kembali pada Ares.


“Apa Mama mu terganggu dengan kedatanganku?”


“Tidak, Mama memang nyaman menghabiskan waktu di kamar. Maaf dia tidak menemuimu, dia sedang tidak enak badan.”


“Lain kali aku akan datang membawa sesuatu.”


Cantika mengangguk dan melambaikan tangannya. Dari sana dia melihat Ares yang naik motor dan mengibaskan rambutnya.


Membuat Cantika menutup mulutnya, dan Ares menyadari itu.


“Ada apa denganmu?”


“Kau sangat tampan, Ares,” ucap Cantika sambil mengangkat jempolnya.


Ares yang mendengar itu jelas mengibas-ngibaskan rambutnya. “Rasakan serangan ketampanan ini, hahahahaha.”


Dan saat menoleh lagi pada Cantika, dia sudah tidak ada di sana. Membuat wajah Ares datar seketika, “Astaga, dia sudah masuk?”


🌹🌹🌹🌹🌹


 


 


TO BE CONTINUE