
🌹VOTE🌹
"Tunggu di sini, Sayang," ucap David memberi isyarat pada Oma untuk menahan Lily di kamar hotel.
Mereka telah menyelesaikan resepsi pernikahannya tepat jam 12 malam. David memaksa Lily diam di kamar, sementara dirinya akan menyelesaikan masalah dengan Dena.
Setelah mendengar semuanya dari Tuan Chen, David bergegas menemui ibunya yang ada di kamar lain yang dia sediakan.
"Dia di dalam?"
"Iya, Tuan Muda."
David masuk, dia melihat Dena yang tertidur di atas ranjang. "Berheti pura pura tidur, Mama. Aku tahu semuanya."
Seketika Dena membuka matanya, dia menoleh ke arah David dan menggenggam tangan putranya yang berdiri di hadapannya. "Maafkan, Mama. Ini semua rencana Megan."
"Hei, aku bilang aku pensiun dari melakukan hal jahat," ucap Megan yang baru saja keluat dari kamar mandi. "Aku sudah menjadi kasir, aku tidak ingin ikut rencana ini denganmu."
"Pergi dari sini," ucap David yang membuat Holland segera menarik Megan keluar, meninggalkan David bersama dengan Dena.
"Teganya, teganya Mama melakukan itu pada Lily, pada menantu Mama yang sedang mengandung anak anakku!"
"Percayalah, Mama melakukan ini demi dirimu, David. Mama ingin kau hidup bahagia."
"Kebahagiaanku milik Lily, Mama. Lily adalah segalanya, bagaimana bisa Mama menghancurkan kebahagiaanku? Memisahkan Lily denganku dan merencanakan agar kandunganny gugur?"
Dena diam menunduk, wajahnya cemberut tidak memperlihatkan sedikitpun penyesalan
"Kapan Mama akan menerima Lily?!"
Dena diam kembali.
"Dia mengandung cucumu, Mama."
"Dia miskin!"
"Lalu apa bedanya denganmu?! Hatimu miskin, Mama."
"Dia adalah wanita dengan derajat paling rendah."
David terkekeh tidak percaya, dia menahan air matanya.
"Kau ingin menangis? Untuk wanita rendahan itu?"
David menarik napasnya dalam. "Mama, kau tidak berubah."
"Aku akan berubah baik pada istrimu jika itu bukan wanita rendahan."
"Aku melakukan ini untukmu, Mama. Aku akan menarik semua fasilitas yang aku berikan. Kartu kredit, tabungan, mobil dan rumah."
"Apa?! Kau tidak bisa melakukan itu, David! Aku ibumu!"
"Aku bisa melakukannya, apa pun akan aku lakukan."
"Kau akan berdosa melakukan itu pada Mama!"
"Tidak, Mama. Aku berdosa jika membiarkanmu menjadi orang jahat."
"Bagaimana dengan adik adikmu? Apa kau tega?"
"Seharusnya kau pikirkan itu sebelum melakukan kejahatan ini, Mama."
Dan David melangkah begitu saja, membuat Dena berteriak. "David! David!'
Holland menahan Dena di sana agar tidak mengejar David.
"Renungkan kata kata Tuan Muda, Nyonya."
Lalu Holland mengikuti David yang kini melangkah menuju kamar tempat Tuan dan Nyonya Chen. Mereka orang tua Lily.
David mengetuk pintu dengan sopan.
Tuan Chen yang membuka.
"Kalian tidak ingin bertemu dengan Lily?"
Tuan Chen diam. Sampai sebuah suara menyahut, "Aku ingin bicara dengan mereka, David."
David menoleh. "Sayang? Kenapa kau bisa di sini? Oma tidak menjagamu?"
"Oma tertidur saat membacakan aku cerita putri duyung. Aku ingin melihat mereka."
🌹🌹🌹
Tuan dan Nyonya Chen terdiam menatap Lily yang masih memakai gaun pengantin dengan perutnya yang membuncit.
Hingga keheningan pecah oleh kalimat Lily. "Terima kasih."
Tuan Chen menatap putrinya. "Tidak, terima kasih karena mau bertemu dengan kami."
Lily tersenyum. "Kalian akan pergi sekarang?"
"Ya, anak kami dititipkan di tetangga."
Lily diam, dia tidak seberuntung adiknya itu. Dia diterlantarkan, tapi dia bahagia memiliki akhir dengan air mata haru.
"Maafkan kami, Nak."
Lily menggeleng. "Apa yang terjadi di masa lalu membawaku ke tempat ini. Terima kasih."
Nyonya Chen yang sedari tadi diam akhirnya mengeluarkan suara, "Berapa bulan?'
"Akan menginjak lima."
"Usiamu baru dua puluh, kenapa buru buru memiliki anak?"
"Jangan bicara seperti itu," ucap Tuan Chen mengingatkan.
"Usianya masih muda, ada banyak kemungkinan yang akan terjadi."
"David sudah matang, dia ingin segera memiliki bayi."
"Jangan khawatirkan itu, Tuan Fernandez memiliki banyak uang," ucap Tuan Chen mengingatkan istrinya.
Nyonya Chen melanjutkan, "Makan makanan yang benar, jangan biarkan anakmu menjadi bodoh. Ikuti apa yang dikatakan suamimu."
Saat Lily hendak menyahut, terdengar suara Holland dari luar. "Pesawat kalian akan berangkan dua jam lagi, Tuan Chen."
"Kita harus bergegas," ucap Nyonya Chen berdiri.
Namun suaminya kembali menariknya agar duduk. "Minta maaf padanya."
"Kenapa harus?" Tanya Nyonya Chen.
"Lakukan."
Dan tanpa diduga, Nyonya Chen yang memiliki wajah datar itu akhirnya menangis keras. "Aku tidak bisa meminta maaf, karena kesalahanku takan hilang dengan kata itu. Aku terlalu berdosa."
Melihat ibunya menangisa sambil memukul mukul dadanya, Lily mendekat dengan air mata berlinang.
"Aku berdosa, aku terlalu berdosa untuk meminta pengampunan. Seharusnya dia tidak melihat wajah buruk rupaku lagi."
Lily menggeleng. "Ibu…..," ucapnya lalu memeluk ibunya.
Yang mana membuat Nyonya Chen menangis semakin kuat.
"Jangan peluk aku, aku berdosa padamu. Tinggalkan aku dengan semua penyesalan itu."
Tuan Chen menangis, dia ikut memeluk istri dan anaknya dalam pelukan.
Malam itu, suara tangisan mengakhiri hari ketiganya.
🌹🌹🌹
Tbc.