
🌹VOTE🌹
"Cepat pulang!" Teriak Oma dalam Video Call.
"Nanti, Oma. Lusa juga pulang."
"Kenapa ditambah lagi?"
"David yang meminta," ucap Lily malu malu.
Oma berdecak di sana. "Oma sudah lelah latihan."
"Huh? Latihan? Oma latihan apa?"
Oma segera menepuk bibirnya sendiri, dia malah cengengesan seperti anak kecil. "Bukan apa apa. Di mana David?"
"David sedang menelpon di luar," ucap Lily melihat ke arah luar. "Oma sudah makan?"
"Oma makan hati melihat kalian tidak pulang."
"Oma….." Lily mengerucutkan bibirnya. "Lusa juga Lily pulang."
"Baiklah, Oma tutup dulu telponnya. Dah."
"Dah, Oma."
Lily tersenyum, dia segera melangkah menuju David yang sedang menelpon lalu memeluknya secara tiba tiba dari belakang. Lily masih malu malu, tapi untungnya dia kini mulai mengeluarkan perasaannya.
"Astaga, kau merindukanku?"
"Menelpon siapa?"
David menggigit bibirnya, dia haru jujur. Maoa darinya David berbalik dan membiarkan Lily memeluknya. "Sayang…."
"Hmm?"
"Sudah selesai menelpon Oma?"
"Ya, siapa yang menelponmu? Sebastian?"
"Iya…," ucap David dengan ragu. "Bass dan Luke akan datang."
Seketika Lily melepaskan pelukannya. "Apa?"
"Apanya apa?"
"Mereka akan datang? Untuk apa?"
"Itu…"
"David."
David menarik napasnya dalam dan mengeluarkannya dalam satu tarikan napas. "Aku dan mereka akan menuruni air terjun."
"Astaga…," gumam Lily, dia berjalan mundur perlahan hendak masuk.
Tapi David menahannya. "Hanya satu hari."
"Satu hari? Itu alasannya kau menambah hingga senin? Untuk bersama mereka?"
"Sayang, Luke diam diam kabur dari kekasihnya di Swiss, dan Sebastian meninggalkan keluarganya untuk datang ke sini."
"Kau yang mengundang?"
David diam sesaat.
"David."
"Ini tempat kami bermain dulu."
Sampai akhirnya Lily sadar, sebelum dia datang ke kehidupan David, pria itu sudah bersama kedua sahabatnya. Hanya saja saat ini Lily sedang tidak ingin ditinggalkan sendirian, apalagi dalam keadaan hamil.
Lily menghitung dalam hati, itu cara dia mengendalikan amarah supaya tidak terjadi hal mengerikan. Karena bagi Lily, hal yang paling berbahaya adalah amarah. Jangan bermain api jika tidak ingin terbakar.
"Pergilah, tapi hati hati dan lekas kembali."
David tersenyum, dia memeluk istrinya. "Kemarilah, Sayang… terima kasih."
🌹🌹🌹
"Bagaimana?" Tanya Luke.
"Kita bisa pergi sekarang."
"Dan mobilnya?"
"Nanti aku menyuruh orang," ucap Sebastian melangkah hendak menuju villa.Â
Sore hari di daerah perkampungan, membuat Sebastian memakai kacamatanya. Dia menatap sekeliling yang begitu indah.Â
Dengan langkahnya yang tegak, Sebastian merokok sambil berjalan.
Sampai dia melihat seorang gadis desa sedang mengayuh sepeda. Kebetulan dia memakai rok, dan angin bertiup di saat yang tepat. Membuat Sebastian bersiul untuknya.
Lalu disusul dengan kalimat, "Hai, seksi."
Dia pikir gadis itu akan terpesona malu. Kenyataannya, dia berhenti dan meninggalkan speda untuk berjalan ke arahnya.
Sebastian berbalik ingin tahu apa yang akan dilakukan gadis itu. Sepersekian detik setelah dia berbalik, gadis itu melemparkan sendal capitnya.
PLAK!
Tepat mengenai kening Sebastian hingga membuatnya jatuh. Bukan karena lemparan itu kuat, tapi sandal yang dilemparkan sepertinya bekas menginjak *** ayam hingga bau menyengat.
"Dasar mesum! Rok terbuka seharusnya ditutupi! Bukan disiuli!"
Setelah mengatakannya gadis itu pergi melewati Luke yang tertawa.Â
"Ha ha ha, apa kau baru saja dilempari sandal?"
"Diam kau!"
"Sandal apa ini? Sendal Sellow?"
"Baca dengan benar, itu Swallow," ucap Sebastian berdiri dan kembali melangkah, dia membuang kacamatanya yang berada di ujung hidung. "Sial."
Luke masih berada di belakang temannya saat menuju villa David terlebih dahulu.
"Mereka di dalam."
"Aku tahu," ucap Sebastian masuk saat tahu tidak dikunci.
Dan Sebastian yang pertama melihat Lily sedang makan cemilan sambil berdiri. Lily yang belum menyadari keberadaan keduanya membuat Sebastian bersiul dan berkata, "Hai, Buncit."
Seketika Lily berhenti mengunyah. "Kau bilang apa? Buncit?"
Lily yang kesal melemparkan botol air kosong hingga mengenai kening Sebastian.
BUK!
Dan Sebastian kembali terjatuh. Bukan karena kuatnya, tapi karena kaget.
"Hahaha, Bas, keningmu merah."
"Tidak sopan, aku ini sedang hamil."
🌹🌹🌹
TBC.