Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Petunjuk



🌹Kasih teman rekomendasi novel ini ya, biar si merah semangat🌹


Tiga bulan kemudian….


Alarm membangunkan Lily, dia membuka matanya pelan dan menggeliat. Lily mengusap perutnya yang mulai membuncit, senyuman terpatri di wajahnya, dia menyambut dunia dengan berkata, "Selamat pagi, anak anak mama."


Kemudian Lily bangun, dia keluar apartemen untuk mendapatkan bahan makanan yang seperti biasa sudah ada di sana.


Kali ini Lily akan memasak sayur bening sesuai instruksi dokter. Lily memang selalu memeriksa kandungannya ke sebuah klinik di bawah selama satu bulan sekali. Dan itu menggunakan uangnya sendiri dari hasil bekerja. Lily enggan mendapatkan uang dari Oma, mengingat David akan mudah melacak keberadaannya.


Sambil memasak, Lily memutar musik klasik untuk di dengarkan janin yang ada dalam perutnya.


Beruntungnya lagi, Lily kini tidak pernah muntah atau merasa mual lagi, tapi perasaan sensitive nya tetap ada. 


Saat sedang memasak, telpon jadul milik Lily berdering seperti hari sebelumnya.


Lily mengangkatnya. "Hallo, Oma?"


"Lily, apa yang kau masak?"


"Lily sedang memasak sayur bening, Oma."


"Bagaimana tidurmu?"


"Sangat nyenyak."


"Jangan lupa minum susu."


Lily tersenyum mendengar perhatian Oma. "Baik, Oma."


"Jangan terlalu lelah, Lily."


"Aku mengerti, Oma."


Terdengar Oma yang menarik napas. "Kapan Oma bisa ke sana?"


"Oma, Oma tahu aku tidak ingin dikunjungi. Dia bisa menemukanku."


Oma diam sebentar. "Sampai kapan kau akan bersembunyi, Nak?"


Dan pertanyaan itu membuat Lily mengingat semua tindakan yang David lakukan, membuat air matanya menetes dan perutnya terasa kram seketika. Lily menahannya dengan meremas tangannya sendiri dan memejamkan mata.


"Lily?"


"Aku mohon, Oma. Jangan memaksaku untuk bertemu dengannya."


Oma mengerti, dia segera mengalihkan pembicaraan. "Maafkan, Oma. Lanjutkan apa yang kau kerjakan. Jika ada apa apa hubungi Oma."


"Baik, Oma," ucap Lily menutup telpon.


Lily bergegas ke kamar mandi, dia mengusap wajahnya dengan air guna menenangka dan menghilangkan jejak kesakitan itu


Lily menarik napasnya dalam, dia menghirup udara segar sebelum menatap cermin dan berkata pada diri sendiri, "Kau akan baik baik saja, tenanglah."


Saat itu, terdengara ketukan pintu. 


"Sebentar!" Teriak Lily segera membukanya.


Di sana ada Radit yang membawa kamera.


"Selamat pagi, aku mencium aroma enak di sini."


Lily terkekeh. "Aku belum selesai masak, jika sudah aku akan mengantarkannya ke sana."


"Santai saja, aku hanya mengantarkan file yang harus kau edit, Tina. Aku simpan di sini ya," ucap Radit menyimpan kameranya di sana.


"Baiklah, aku akan mengantarkan sarapanmu segera."


Radit terkekeh, dia melihat ke sekeliling aprtemen Tina yang rapi. Radit tahu hidup Lily terserah padanya, tapi dia ingin adik kecilnya itu tidak salah mengambil tindakan. Maka darinya Radit bertanya, "Kapan kau akan memberi tahu suamimu, Tina?"


"Kak, aku tidak ingin membicarakannya."


"Tina, ayolah. Kau sudah dewasa, bukan seperti ini cara keluar dan menyelesaikan masalah. Kau sudah berada di sini tiga bulan lebih."


"Apa kau keberatan?" Lily fokus pada masakannya.


"Tina, aku tidak ingin kau salah bertindak hanya karena pemikiranmu yang masih labil."


"Masih labil?" Lily membalikan badan dan menatap Radit kesal. "Kakak, sejak kecil aku tinggal di panti, lalu menikah dengan CEO perusahaanku sendiri, lalu semuanya terjadi begitu saja sampai akhirnya aku benar benar tersakiti. Aku kini akan menjadi seorang ibu, Kak. Aku tidak ingin anak anakku merasakannya." 


Kemudian Lily mendumal, "Melihat wajahnya saja perutku kram."


"Bukakah dokter bilang itu karena perasaanmu padanya yang marah dan kesal? Jika perasaanmu lain, maka bayi bayimu akan baik baik saja, Tina."


Lily memilih kembali fokus pada masakannya. "Kakak boleh menunggu di apartemen kakak."


"Astaga, Tina." Radit berdiri. 


"Jangan lupa pekerjaanmu ada di atas meja," ucap Radit sebelum kembali menutup pintu.


Ya, inilah pekerjaan Lily sekarang, dia seorang edit photoshoop yang bekerja secara profesional. Membuat David memperkerjakannya. 


Mungkin gajinya tidak sebesar saat dia menjadi istri David yang mencapai millyaran, tapi dengan ini Lily bisa menghidupi dirinya sendiri.


Setelah memasak siap, Lily memasukannya ke dalam mangkuk dan mengantarkannya pada Radit. "Ini untukmu, Kak."


"Wow, terima kasih, Tina."


"Sama sama, kapan kau akan membawa hasilnya?"


"Kalau bisa sore ini, klienku ingin memasangnya di undangan pernikahan mereka."


"Baik, Kak." Lily bergegas kembali ke apartemennya.


Sesekali, dia teringat dengan David. Mustahil Lily melupakannya begitu saja, David adalah bagian dari hidupnya. Tapi mengingat semua yang telah dilakukannya, membuat Lily ingin menangis meraung.


Dan yang dia lakukan saat mengingat David hanyalah mengusap perut, dia mengatakan pada mereka, "Tenanglah anak anak Mama, kalian aka selalu bersama Mama."


🌹🌹🌹


Eta segera bergegas saat mendapat panggilan yang ditunggu, dia mengetuk pintu kamar Oma sebelum masuk. Di sana dia melihat majikannya sedang terlelap tidur siang.


Eta segera mendekat, dia membangunkannya pelan. "Nyonya Besar…. Nyonya?"


"Huh?" Oma tersentak kaget, dia membuka matanya seketika. Oma segera memakai kacamata. "Ada apa?"


"Ini telpon dari pria yang mencari keberadaan Nyonya Lily atas perintah Tuan Muda."


Oma segera mengambil alih, dia menempelkan telpon itu ke telinganya.


Eta hanya menatap penuh tanda tanya melihat Oma yang hanya bergumam tanpa menjawab, sampai menutup telpon pun, Oma tetap bergumam.


"Eta."


"Ya, Nyonya Besar?"


"Siapkan uang pensiunanku satu millyar."


"Satu millyar, Nyonya Besar? Pria itu memintanya?"


"Tidak apa, kita berikan saja. Lily ingin tetap bersembunyi, tidak ada yang bisa aku lakukan."


"Bagaimana dengan perjuangan Tuan Muda, Nyonya Besar?"


"Sebentar lagi, keduanya harus belajar, apalagi David. Seharusnya dia lebih pintar memilih teman, bukannya seperti ini."


"Baik, Nyonya Besar."


Setelah kepergian Eta, Oma mengusap keningnya yang terasa pening. Dia sudah tidak bisa mengendalikan semuanya.


Sayangnya, Oma juga tidak kalah pintar. Selama Holland ada di pihaknya, Oma bisa menyogok uang lebih banyak daripada yang dijanjikan David. Namun, Oma pikir dirinya tidak akan bertahan lama, mengingat bisnis David semakin berkembang.


Pemberitaan mengenai dunia ekonomi terus tertuju padanya, David kembali mengguncang Asia dengan semua yang dia lakukan demi bisnis. Membuat Oma sedikit kewalahan.


Dan kekhawatiran itu bertambah saat Holland menelpon.


"Hallo, Holland?"


"Nyonya Besar, saya tidak bisa membantu anda lagi."


"Apa? Apa maksudmu begitu?"


"Saya mohon beri kesempatan pada Tuan Muda untuk menjelaskan semuanya, dia punya alasan melakukan itu. Ini saatnya, Nyonya Besar. Jika tidak semuanya akan terlambat."


"Apa kau mendengarnya?"


"Tuan David tidak sengaja memberitahu diriku saat dia mabuk."


Oma diam sejenak, dia bingung.


"Maafkan dia, Nyonya Besar. Cucumu sangat menyayangimu. Ingat saat kau sakit dahulu? Dia menemanimu di sisinya. Kini waktunya kau merangkul dan memaafkannya."


Oma pikir tidak segampang itu, tapi lama lama dia juga merasa bersalah telah keterlaluan menghukum cucunya. 


"Nyonya Besar?"


"Baiklah, Holland. Aku akan menelponnya. Kau bisa berpihak padanya lagi."


Oma segera menutup telpon Holland, dia menarik napas sebelum menghubungi David. Oma ingat, bagaimana dirinya sering kali mengusir David dan enggan mendengarkan penjelasannya. Oma pikir itu cara agar David dewasa dan mengerti cara kerja dunia. Tanpa Oma sadari dirinya menghukum terlalu keterlaluan.


"Hallo?"


Oma memejamkan mata sesaat mendengar suara David.


"David, datanglah ke rumah."


"Ya?"


"Oma ingin mendengar semuanya."


David diam, seolah tidak percaya di sana.


"David?"


"Baik, Oma. Aku akan datang."


Dan Oma menyeka air matanya, dia pikir ini waktu yang tepat mengakhiri perang dingin bersama darah dagingnya. Oma segera keluar dari kamar, dia bergegas turun untuk menemui Eta.


"Eta!"


"Ya, Nyonya Besar?"


"Siapkan makanan, David akan datang."


"Ya, Nyonya?"


"Dan juga buatkan makanan kesukaan David, dia akan menyukainya."


Tidak lama setelah Eta menyiapkan makan siang, David datang dengan BMW baru miliknya. Oma menyambut kedatangannya di ambang pintu.


Dan untuk pertama kalinya, Oma kembali melihat ekspresi wajah David yang sama seperti saat kehilangan Papanya dahulu.


"Oma…."


Oma otomatis memeluk David. Keduanya tidak mengatakan apa pun, hanya bahasa tubuh yang menjelaskan semuanya.


Oma segera membimbing David ke ruang makan.


"Oma membuat makan siang."


Saat David duduk, dia melihat banyak makanan bergaya barat. Membuat David berkata, "Oma, aku tidak memakan sesuatu seperti ini lagi."


"Lalu? Apa yang kau makan?"


"Aku ingin makan tumis daun singkong."


Dan inilah satu satunya cara David membuat kenangan Lily selalu terjaga.


🌹🌹🌹


David pulang ke apartemennya setelag bicara dengan Oma. Yang dia lakukan di sana adalah menyiram tanaman yang ditinggalkan Lily, merawat semuanya dan selalu membereskan pakaian pakaiannya agar tidak kena debu.


Tiga bulan David menahan kerinduan, tiga bulan David memendam amarah dan bersabar demi tercapainya tujuan.


Setidaknya, sekarang Oma sudah berada di tangannya.


David pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaian, setelahnya dia menyalakan rokok dan berjalan ke arah balkon.


Hatinya bertanya tanya, ke mana perginya kekasihnya. Ke mana dia membawa calon anak anaknya dan bagaimana kabar mereka sekarang.


Sampai lamunan David tersadar oleh telpon dari Holland.


"Hallo, Holland, ada apa?"


"Saya ingin mengingatkan, bahwa dua minggu lagi adalah ulang tahun Nyonya Muda yang ke dua puluh, Tuan."


David terdiam.


"Tuan? Lima bulan lalu anda menyuruh saya menyiapkan pesta kejutan, apakah anda ingin membatalkannya?"


"Tidak, Holland. Tetap laksanakan, aku akan mendapatkan Lily dalam satu pekan."


"Baik, Tuan."


Telpon terpurus, membuat David kembali berpikir keras. Dua minggu lagi Lily akan menginjak dua puluh tahun, itu yang selalu mengingatkan David bahwa umur Lily masih muda dan labil.


Jauh di bawahnya, Lily memang seharusnya masih bermain dengan kawan sebayanya. Tidak menikah, dan parahnya itu dengan pria yang jauh lebih tua darinya.


David menghirup rokok dalam. 


"Di mana kalian? Anak anakku sayang, aku bahkan tidak bisa menyentuh perutnya."


Davis terus bermonogami seorang diri.


Dan cincin untuk melamar Lily, masih ada di sakunya. David mengeluarkannya. "Aku harap dapat memakaikan cincin ini dengan cepat padamu, Sayang."


Dan tidak lama setelah David mengatakan itu, dia merasakan mual yang sangat hebat hingga membuatnya berlari menuju kamar mandi.


David memuntahkan isi perutnya, yang membuatnya pening dan langsung mencari alkohol sebagai pereda.


Inilah yang terjadi akhir akhir ini, David sering muntah tanpa alasan, padahal dokter bilang kondisinya baik baik saja.


"Apa yang terjadi padaku?"


Fokus David terbagi saat ada orang menekan bel. David segera turun, di sana dia mendapati orang suruhannya.


"Bagaimana hasilnya?"


"Dia berada di apartemen kecil di Bekasi seorang diri, Tuan."


Setelah menerima penjelasan dan berkas, David membawanya ke dalam. Dia menyunggingkan senyumannya. "Bersiaplah, Sayang, kalian akan kembali ke pelukanku."


🌹🌹🌹


to be continue............