
🌹VOTEEE YEEE GHAISSS🌹
Saat berkemas pulang pun, Lily masih cemberut dan hanya bertanya saat perlu saja. Itu membuat David tidak bisa berkutik, dia kehilangan terlalu jauh istrinya.
Mungkin karena ikatan batin entah apa, Lily seolah tau apa yang dipikiran salahnya ketika itu.
"Sayang…..," ucap David mendekat dan memeluk Lily dari belakang. "Aku merindukanmu."
Lily tidak banyak berkata, dia tetap melipat pakaiannya. Dia bahkan tidak menghiraukan David suaminya.
"Sayang?"
"Aku sedang berkemas, lepaskan dulu."
"Apa kau masih marah?" Tanya David tetap tidak melepaskan pelukannya. "Maafkan aku, Sayang….."
"Aku tidak marah," ucap Lily melepaskam ikatan tangan David di perut buncitnya kemudian melangkah untuk memasukan pakaian dalam koper. "Aku hanya kesal."
David menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dunia pernikahan tidak semudah yang dibicarakan jika salah satunya tidak terbuka. Dan dia menyesali sikapnya yang seperti itu. "Sayang….., bagaimana kalau kita berduaan selagi anak anak tidur?"
Lily terdiam sesaat, dia menghela napas dan berbalik menatap suaminya. Lily juga ingin perasaannya jauh lebih baik. "Jalan jalan?"
"Ya, di tepi danau?"
Lily mengangguk, membuat David segera membawakan sweater untuk istrinya. Dan dengan halus dia berkata, "Pakailah ini, supaya anak kita tidak kedinginan."
Dan setelah memakaikan pakaian hangat itu pada istrinya, David memberikan kecupan di kening cukup lama.
"Biarkan para pelayan yang membereskan ini. Kita jalan jalan saja ya."
Lily mengangguk.
David menggenggam tangan istrinya, dan membawanya keluar dari penginapan.
Melangkah menembus angin malam, mereka akan pulang besok. Dan David belum melaksanakan jadwal berduaan juga mengunjungi calon anaknya dalam perut.
Beberapa kali saat mereka melangkah, David mencium tangan istrinya yang dia genggam. "Aku sangat mencintaimu."
"Bagaimana kabar adik adikmu?" Tanya Lily pelan pelan, dia ingin membuka pembicaraan mengenaik kematian Dena.
"Mereka akan baik baik saja, George akan mengurusnya. Aku akan mengiriminya uang setiap bulan."
"Aku pikir kau harus menjadwalkan untuk datang setiap waktu pada mereka."
David mengerutkan keningnya. "Haruskah?"
"David…..," ucapan Lily terdengar halus. "Beberapa orang tidak butuh harta untuk bahagia, tapi perhatian. Mungkin akan sangat baik jika kita datang jika salah satu dari mereka ulang tahun."
David mengangguk anggukan kepala. "Aku rasa itu ide yang bagus, tapi jumlah mereka banyak, Sayang."
"Kau punya opsi lain?"
"Ya, kita datang tiga bulan sekali. Aku rasa itu cukup dengan menyesuaikan liburan anak anak kita."
"Bagaimana dengan…..," ucapan Lily menggantung saat akan menanyakan suami Dena yang sekarang.
David tersenyum melihat istrinya yang sangat baik dalam menjaga perasaannya. "Itu kekasihnya, bukan suaminya. Ibuku hanya pernah menikah dengan ayahku. Pria itu kabur entah kemana, meninggalkan enam anak."
"Wow, itu cukup banyak."
David mengangguk. "Aku tidak paham apa yang dipikirkan Mama sampai dia memilih mengakhiri hidupnya."
Inilah yang David suka dari Lily, dia selalu menjadi penenang dalam segala hal. "Maaf aku mengecewakanmu."
"Tidak apa, jangan lakukan itu lagi."
David mengangguk, dia menarik istrinya ke dalam pelukannya.
Lily mengusap punggung suaminya. "Lakukan yang terbaik. Kau merasakan bagaimana tumbuh tanpa ibu dan ayah, jangan biarkan adik adikmu merasakannya. Kasihani mereka, sayangi mereka. Mereka tidak punya siapa siapa lagi selain kita."
🌹🌹🌹
Sampai larut malam pun, Lily dan David masih berduaan menatap danau dengan bulan purnama di atasnya.
Mereka duduk di sebuah kursi menatap orang orang di sebrang danau yang penuh di pasar malam.
"Apa anak anak menyulitkanmu?"
"Mereka menemaniku saat kau tidak ada."
David mencium puncak kepala istrinya. "Kau yakin akan pulang besok?"
"Aku tau kau punya banyak pekerjaan, David. Danau ini sangat cantik, terima kasih."
"Tadinya jika kau tidak hamil, aku ingin mengajakmu berenang, Sayang," ucap David.
Membuat Lily mengadah. "Apa itu masalah?"
"Well….., aku merencanakan hal hal romantis."
Paham dengan maksud suaminya, Lily memilih diam setelah menelan ludahnya kasar.
"Kita belum membeli oleh oleh untuk Oma, Sayang."
"Aku sudah membelinya."
"Really?" Tanya David terkejut.
"Ya, supaya malam ini kita bisa berduaan."
"Aku belum bisa berduaan dengan anak anak. Mereka masih marah padakku."
Lily tersenyum. "Mereka akan baik baik saja dan melupakan semuanya besok."
"Aku harap begitu. Lusa aku dan Sebastian juga memiliki proyek bersama."
"Bas?" Tanya Lily heran. "Dia akan ke Indonesia?"
"Dia akan kembali ke sini dan tinggal di sini. Mana tahan dia di Amerika."
"Apa yang sebenarnya terjadi di Amerika?"
David tersenyum penuh makna mengingat temannya itu. "Apa kau tahu, Sayang?"
"Apa?"
"Mantan kekasih Sebastian menjadi ibu tirinya sekarang. Itu yang membuatnya tidak percaya wanita dan hidup hanya untuk kesenangan."
🌹🌹🌹
TBC