
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK🌹
🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123🌹
🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN🌹
"Oma, kita mau kemana sebenarnya?" tanya Lily yang penasaran.
"Kita akan menemui teman teman Oma."
"Astaga, benarkah? Seharusnya aku memakai pakaian yang lebih layak."
"Itu sudah bagus."
"Ini terlihat seperti akan ke pemakaman," ucap Lily yang sedang berjalan kaki sambil memperhatikan dirinya sendiri. "Aku tidak ingin membuat Oma ma…..," ucapan Lily menggantung saat dirinya melihat bahwa dirinya dibawa ke kuburan tua.
"Oma… ini dimana? Ini menyeramkan," ucap Lily.
"Disinilah teman teman Oma."
"Benarkah? Mereka sudah…."
Oma mengangguk dan membawa Lily ke salah satu tempat dimana di sana banyak kuburan yang dikelilingi pagar.
"Mereka semua di sini."
"Mereka semua?"
"Ya, mereka meninggal saat akan pergi berkaryawisata. Dalam satu bis."
"Astaga, Oma. Aku turut berduka cita."
"Tidak apa," ucap Oma menyeka air matanya sambil memetik bunga yang ada di sana kemudian menyimpannya. "Tahu maksud Oma, Lila?"
"Kenapa?"
"Jangan sia siakan waktu, lakukan selagi kau mampu. Jangan sampai kematian datang lebih dulu."
🌹🌹🌹
"Kamaliaaaaaa?!"
BUK! Athena memukul punggunh Ares yang sedang berteriak teriak itu, yang mana membuat Ares segera membalikan badannya menatap adiknya.
Awalnya Ares hendak marah, tapi tidak jadi saat menyadari Athena. "Nah ini dia. Kau baru keluar dengan Kamal?"
"Kamal apa, ayo kelual," ucap Athena menarik tangan Ares keluar dari gedung itu.
Yang mana membuat Ares menggeleng geleng kan kepalanya sambil berkata, "Aku harus mengambil buku milikku. Nanti gurunya marah."
"Ayo ikut aku dulu!" athena benar benar kesal.
Membuat penjaga di sana mengikuti dan bertanya, "Apa kalian baik baik saja?"
Sampai diluar gedung, Athena melepaskan genggaman tangannya. "Thea bilang, bukunya ada di kamal. Kamal tempat tidul!"
"Kamar?" tanya Ares kaget.
Athena mengangguk.
"Kenapa tidak bilang dari tadi, aku tidak membawanya!"
"Thea mengatakannya, itu di kamal."
"Kau menyebut kamar, Thea. Bukan kamal."
"Kau tahu Thea bicala sepelti ini! Kenapa meledek?"
"Siapa yang meledek? Aku hanya tidak paham."
Athena terdiam dengan bibirnya yang dia majukan menahan tangis.
"Lain kali kau seharusnya menyimpannya kembali ke kamarku."
"Lain kali kau sehalusnya mengeljalan pl sendili tanpa meminta bantuan Thea," ucap Athena sambil menahan tangis dan masuk ke dalam meninggalkan Ares di sana.
Ares mematung di sana. "Kenapa dia menangis? Kan dia juga mendapatkan kudapan tambahan milikku," gumamnya sambil kembali ke gedung anak laki laki.
Ares kebingungan bagaimana dirinya akan menghadapi hari ini. Apalagi Nina tidak ada di sini, sehingga dia harus berfikir bagaimana caranya menghindari guru yang menurutnya menyebalkan.
Sambil melangkah, Ares berfikir.
Menelpon ke rumah pun tidak akan berguna, apalagi jam istirahat hanya sebentar.
Dan bersamaan dengan suara bel berbunyi, Ares mendapatkan ide. Dia belok ke arah belakang menuju ke toilet.
Dia tersenyum dan berfikir bisa lolos dengan cara berdiam di toilet. Tapi nyatanya sekolah itu memiliki penjagaan yang ketat terhadap keamanan anak anak.
"Hei, adek manis. Kamu mau kemana?"
Ares terdiam, dia membalikan badannya. "Aku sakit perut ingin ke toilet."
"Baiklah, ayo aku antar."
Dan Ares tidak dapat membantah, apalagi seseorang itu sudah menggengam tangannya.
Dia mengantarkan Ares sampai kamar mandi anak anak.
"Nah, aku akan menunggu di sini. Kau bisa sendiri bukan?"
Ares mengangguk dan masuk ke bilik WC. Dia terdiam sejenak di sana. "Aku tidak mulas, benda apa yang harus dijadikan suara gugurnya bunga?"
🌹🌹🌹
To be Continue