
🌹Vote rame rame dan ajak yang lain baca ini ya🌹
Lily memandang kosong pada televisi yang menayangkan film kartun, bagian tubuhnya tidak bergerak kecuali kelopak matanya saja untuk berkedip. Lily seperti mayat hidup.
Untuk ketukan pintu saja, Lily enggan membukanya. Sampai Radit sendiri masuk dan melihat keadaab Lily yang masih sama seperti sebelumnya.
Radit yang membeli makanan, menyimpannya di meja depan Lily. Perlahan dia mengguncang bahu perempuan itu sampai akhirnya Lily tersadar.Â
"Kak Radit?" Tanya dia dengan suara parau dan wajah terlihat jelas telah menangis.
"Makan dulu, ini sudah sore."
"Baik, Kak."
Lily turun untuk duduk di karpet, dia membuka styrofoam itu, melihat ada nasi kuning dengan ayam geprek kesukaannya.
Radit melihat banyak barang Lily yang masih berserakan di mana mana, belum masuk ke koper.
"Ingin aku bantu memasukan ini, Tina?"
Lily yang sedang makan hanya mengangguk pelan, membuat Radit segera membantu membereskannya.
"Tina, suamimu adalah David Fernandez, dia bisa melakukan apa saja. Pertimbangkan dengan baik."
"Aku ingin pergi," ucapnya lagi.
Hal yang membuat Radit takut adalah dengan kekuasaan David yang bisa saja membawa anak anak Lily saat sudah lahir nanti, dia punya pengacara pribadi yang bisa melakukan apa saja demi dirinya. Dan pengacara itu tidak lain adalah mereka yang pandai dengan ilmu sosial yang David sekolahkan sampai akhirnya rela mati untuknya.
Contohnya saja saat perusahaan pesaing David menduh hotel David sebagai tempat prostitusi. Semua bukti mengarah pada David, tapi celaka malah untuk lawan mainnya.
Terlepas dari itu, Radit juga mendapat telpon dari Ibunya saat dia memberitahu kalau suami Lily adalah David Fernandez. Ibu dari Radit tidak ingin perusahaan yang susah payah di bangun suaminya hancur terinjak.
"Tina, anak anakmu butuh sosok papanya. Jangan egois."
"Kenapa harus aku yang terus mengalah?"
"Tina, kau tahu sifat dia. Hanya dirimu yang mampu meluluhkannya. Jangan mengambil keputusan dengan tergesa gesa, ingat, kalian pernah melewati masa masa manis bersama."
Lily terdiam, dia berhenti mengunyah sesaat. Tidak membalas apa pun selain menatap kosong.
Membuat Radit angkat tangan, dia kembali memasukan barang barang Lily. Hingga telpon menyadarkannya.
Dan Radit terkejut dengan siapa yang menelponnya, dia segera pergi ke balkon untuk mengangkatnya.
"Hallo?"
Tidak ada jawaban dari sana.
"Mega?"
"Dimana kau? Ayah sakit, dia ingin bertemu."
"Kakak akan berangkat besok."
"Terserah."
"Tunggu, Mega," ucap Radit saat adiknya hendak menutup telpon. "Kau jangan khawatir kakak akan mengambil perusahaan Ayah, Kakak akan menerima tawaran Universitas untuk mengajar di sana. Jadi aku punya pekerjaan yang tidak bisa aku tinggalkan."
"Aku tidak peduli."
"Di mana kau sekarang?"
Mega diam.
"Mega?"
"Aku di depan pintu apartemenmu."
Segera Radit mematikan telpon dan bergegas.
"Kau mau ke mana, Kak?" Tanya Lily.
"Sebentar, Tina. Adikku ada di sini."
Dan benar saja, saat Radit keluar di sana ada Mega yang berdiri di depan pintu. Radit segera mendekat. "Mega."
"Kau tidak pulang karena perempuan miskin itu?"
"Jaga ucapanmu."
"Kau mengabaikan perintah Ayah, haruskah aku ingatkan bahwa kau hanyalah anak angkat?"
Radit mengetatkan rahangnya. "Pulanglah, nanti Ibu mencari. Kakak harus beres beres."
Saat Radit membuka pintu, Mega ikut masuk ke dalam. Membuat Radit terkejut. "Mega, pulang. Jangan buat Ibu khawatir."
"Jangan buat Ibu khawatir? Kau membuat Ibu kecewa dengan lebih peduli pada istri orang yang sedang hamil itu."
"Darimana kau tau?"
"Kau pikir untuk apa aku belajar IT selama ini?"
"Mega, jangan campuri urusan Kakak. Ini bukan daerahmu, pulanglah."
"Dan kau akan di sini? Memeluk wanita menyedihkan itu?"
"Mega!" Radit marah, dia mencoba merendamnya dengan tarikan napas. "Aku tahu kau membenciku sejak dulu, tapi tolong Mega, aku adalah Kakakmu. Suka atau tidak aku adalah bagian dari keluargamu. Jika masalahnya adalah warisan, kau tidak perlu cemas, aku akan mengembalikannya padamu. Jadi berhenti mem--"
"Aku mencintaimu, Kak."
Radit diam seketika, dia menatap Mega seolah perkataan itu adalah lelucon. "Berhenti bercanda dan pulang, jangan buat Ibu khawatir."
"Aku bilang aku mencintaimu! Itu alasanku membencimu karena aku tidak bisa memilikimu. Sejak dulu aku mencintaimu, Kak. Bagaimana kalau kita menikah saja? Kita lari bersama? Lagipula kita tidak memiliki ikatan darah."
"Kau gila," ucap Radit melepaskan tangan Mega yang memegangnya. "Mega, aku kakakmu."
"Hanya dalam surat, aslinya kau orang asing. Ayo menikah denganmu."
Radit terkekeh. "Kau memakai narkoba bukan? Usiamu baru delapan belas tahun dan kau berani memakai barang haram itu?"
"Cobalah untuk melupakan ucapanku, aku akan membuatmu menikahiku, bagaimana pun caranya."
Dan saat Mega keluar, Radit mengusap wajahnya kasar.
"Kegilaan macam apa lagi ini, Tuhan?"
🌹🌹🌹
Oma menangis menyesali perbuatannya yang tidak mendengarkan penjelasan David sebelumnya, dia meneteskan air matanya tanpa henti.
"Tenanglah, Nyonya Besar. Semua akan baik baik saja."
"Eta, aku malah membuat Lily membeci David. Apa yang harus aku lakukan?"
"Tuan Muda pasti bisa menyelesaikan semuanya."
Eta mengusap punggung Oma yang terus menangis, sampai dia mendengar seseorang masuk. Eta mengeceknya, dia melihat dari lantai dua, di sana David datang. Eta segera masuk dan memberitahukannya pada Oma.
"Nyonya Besar, Tuan Muda ada di sini."
"Bersama Lily?"
"Tidak, Nyonya."
Tidak lama kemudian, David berada di ambang pintu. Membuat Eta segera bergegas pergi dan menutup pintu supaya mereka dapat ruang.
Air mata Oma semakin menetes. "David…. Maafkan Oma."
"Berhenti menangis Oma, wajahmu jadi jelek."
"Kurang ajar," ucap Oma segera mengubah ekspresi wajahnya. "Bagaimana Lily?"
"Dia enggan pulang dan malah marah."
"David…." Oma kembali hendak menangis, dia memegang tangan cucunya. "Bagaimana ini? Apa yang akan kita lakukan? Lily bahkan menutup telpon Oma, dia membenci Oma."
"Aku akan menculiknya, Oma."
"Apa?" Ekspresi sedih Oma langsung berganti dengan ekspresi kebingungan.
"Aku akan menculiknya besok siang, saat ini aku yakin dia masih syok."
"David, apa?"
"Aku berhak atas istriku, Oma. Jika ada yang menentang, aku akan menggiling mereka dan membuldoser otak mereka."
Oma menjitak kepala cucunya.
"Oma!"
"Orang yang akan menculiknya adalah dokter kandungan."
"Apa kau gila?"
David terkekeh, dia mencabut salah satu ubah Oma. "Oma, rambutmu semakin banyak ubannya."
"Dasar cucu tengik!"
"Oma ingat aku selalu menyekolahkan anak anak terlantar yang punya potensi?"
Oma mengangguk.
"Nah, waktu itu aku menemukan anak yang selalu mencuri sedang mengobati pejalan kaki yang tertabrak. Aku menyekolahkannya, kebetulan dia memilih menjadi dokter kandungan sekaligus dokter saraf."
"Apa bisa mngambil dua jurusan seperti itu?"
"Apa yang tidak bisa untukku?" Tanya David dengan alis terangkat. "Dokter kandungan untuk Lily, dokter saraf untuk Oma."
"Gila!"
David tertawa kuat, membuat Oma yakin jika cucunya baik baik saja dan semua akan ada dalam kendalinya.
"Tenang saja, Oma. Aku akan menculik Lily, mengikatnya dan membuka telinganya supaya mendengarkan."
"Jangan kasar padanya."
"Jika cara halusku ditolak, aku akan melakukannya."
"Berhenti menggila kau cucu tengik!"
David malah tertawa, dia mencium pipi Oma. "Aku akan pergi, banyak ada yang harus aku lakukan."
"Jangan menangis terus."
David tertawa mengejek. "Aku anti menangis, Oma tau itu."
"Dasar, lihat saja nanti."
David pergi dari mansion itu, memasuki mobil sambil merokok. David hendak kembali ke apartemennya untuk mempersiapkan sesuatu, tentu saja untuk kedatangan Lily.
Sampai akhirnya dia mendapatkan telpon dari Sebastian.
David menolaknya sebanyak tiga kali, dia baru mengangkatnya di panggilan ke enpat.
"Ada apa?"
"Aku akan bunuh diri besok pagi."
David mengerutkan keningnya. "Terserah padamu."
David menutup telpon, dia memilih lebih cepat menuju ke apartemen.
Di basement, dia melihat Holland sudah menunggunya di sana.
"Ada apa, Holland?"
Holland memberikan berkas di tangannya.
David membaca dengan seksama, dan dia berkata, "Siapkan jet pribadi, minta izin pada pemerintah untuk meminjam area lepas landas. Bilang pada mereka, David Fernandez yang akan pergi."
"Baik, Tuan Muda."
"Lakukan dengan baik dan cepat."
🌹🌹🌹
Pagi itu, Lily bersiap siap untuk sarapan lalu ikut bersama Radit. Tidak ada yang dipikirkannya lagi. Oma, David dan anak anak dalam kandungannya terkalahkan oleh ego.
Sampai Radit mengetuk pintu.
"Tina!"
"Sebentar," ucap Lily membuka pintunya. "Sarapannya belum siap."
"Aku akan keluar sebentar."
"Ke mana?"
"Adikku, dia mabuk di pagi hari. Aku akan membawanya ke sini."
"Baiklah," ucap Lily menatap Radit yang tergesa gesa dengan memakai jaketnya.
Dan saat Lily hendak menutup pintu, dia melihat seseorang berjalan di koridor. Orang itu tidak asing, membuat Lily kaget dan bergegas ingin masuk.
Sayangnya tangan pria itu menahan agar pintu tidak tertutup.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan."
Sebastian terkekeh, dia membuka kacamatanya. "Ini wanita yang membuat hidup David kacau sampai dia melepaskan apa yang selama ini dia inginkan?"
"Pergi dan lepaskan tanganmu."
Bukannya menjauh, Sebastian malah mendorong pintu hingga Lily hampir terjatuh.
"Apa yang kau lakukan?" Tany Lily ketakutan dengan perut yang dia pegang, rasa sakit itu mulai menjalar.
Dan Sebastian kembali tertawa dengan ringannya. "Teruslah merasakan sakit sampai akhirnya kau sengsara."
"Apa yang kau inginkan?"
"Dengar, Lily. Aku mengatakan ini bukan untuk David, tapi untuk menyadarkan kebodohanmu dan untuk memberitahumu bahwa kau tuli. Memang benar kejujuran David padamu dijadikan taruhan untuk mendapatkan kapal pesiar. Dan dia menang, kau tahu apa yang dia lakukan pada kapal pesiar mewagku? Dia menghancurkannya sampai tidak bersisa."
Lily diam masih dengan tanda tanya sambil memeluk perutnya.
"Tidak percaya, dengarkan percakapan aku dan David yang sengaja aku rekam."
Dan Sebastian memutar pembicaraan di mana Lily menguping saat itu.
'Woho! Ha ha ha ha ha! Kau menang David, aku menantangmu memberi tahu istrimu tentang taruhan kita di awal, dan sesuai dugaanmu, dia tetap berada di sampingmu.'
'Itu artinya aku menang lagi.'
'Ya, Bung. Kau selalu menang, kau memberitahunya tentang taruhan untuk taruhan yang lain. Selamat, kau mendapatkan kapal pesiarku. Kau hebat merekam saat adegan itu.'
'Kapalnya sudah aku ambil.'
'Aku tahu, itu milikmu.'
Lily ingat dia hanya mendengarkan sampai situ, ternyata ada kelanjutannya di rekaman Sebastian.
'Apa yang akan kau lakukan pada kapal pesiar mewah itu?'
'Aku sudah melakukan sesuatu padanya?'
'Apa maksudmu?'
"Saat percakapan ini David memberikanku tablet."
'Sialan! Kau menghancurkan kapalku?!'
'Itu kapalku, Bas. Dan perlu kau tahu, kapal itu tidak ada harganya di bandingkan istriku. Jadi, berhenti ikut campur lagi dalam pernikahanku. Kapal itu hanya seogok sampah dibandingkan berharganya istriku, kekasihku, dia adalah belahan jiwaku.'
Air mata Lily menetes saat rekaman berakhir.
"Masih belum percaya?" Sebastian menelpon Luke.
Dia sengaja menyalakan tombol pengeras.
"Hallo, Bas. Ada apa?"
"Di sini ada Lily, katakan apa yang David rencanakan denganmu."
"Astaga, Hai, Lily. Sebenarnya David sudah merencanakan ini sebelumnya, dia ingin membuat Sebastian mendapat pelajaran hidup dengan menghancurkan kapalnya. Dia tidak mempermainkanmu, dia mencintaimu."
Sebastian menutup telpon setelah Luke selesai, dia menatap Lily yang menangis tidak percaya.
"Ah, dan perlu kau ketahui. David sekarang sedang bersiap untuk berangkat ke Amerika, dia akan menetap di sana selamanya. Ini dia nama pesawatnya." Sebastian menyimpan secarik kertas di meja. "Fernandez E-215 sebuah pesawat jet yang akan mengangkut David dan barang barangnya."
Lily menatap terkejut. "Dia… akan pergi?"
"Kau pikir untuk apa dia bertahan pada wanita yang mengusirnya? Oh ya, sebagai permintaan maafku, aku memesankan taksi online di bawah untukmu. Berjaga jaga jika kau ingin mengejar David."
🌹🌹🌹
to be continue
ha ha ha ha ha ha ha