
🌹VOTE🌹
David membaringkan tubuhnya menunggu Lily di kamar mandi.
"Apa kau pingsan?"
"Tidak, tunggu sebentar."
Pasalnya, Lily berada di dalam selama lebih dari 30 menit, dan David mulai khawatir. "Apa kau mulas?"
"Tidak, David. Aku hanya sedang buang air kecil."
"Itu sangat lama! Ayolah keluar, Lily!"
"Sebentar lagi, tunggu sebentar."
Sebenarnya, Lily sedang diam di kamar mandi. Dia menatap cincin pernikahannya bersama David. Diam-diam Lily tersenyum sendiri, entah mengapa kesedihan atas kedua orangtuanya hilang begitu saja.Â
Satu lagi yang membuat Lily termenung di sana, pangkal pahanya terasa sangat sakit. Lily mengintipnya, ada bercak bercak kemerahan di sana, membuat Lily malu sendiri.
"Lily ayo keluar!"
"Sebentar," ucap Lily berdiri, dia mulai berjalan perlahan. Kakinya terasa sakit, tapi Lily memaksakan.
Saat membuka pintu, dia melihat David yang sedang bersiap-siap. "Pergi sekarang?"
"Kenapa kau lama sekali?"
"Tidak."
"Kenapa berjalan sendiri?"
"Aku bisa."
David berdecak melihat Lily yang melangkah terseret-seret. "Kau masih sakit."
"Sudah tidak." Lily mencoba melangkah, tapi dia terjatuh saat rasa sakit di pangkal pahanya semakin terasa ngilu. "Akkhh.."
"Lihat, aku bilang apa," ucap David menahan kesal, dia mendekat dan mendudukan Lily di bibir ranjang. "Masih sakit kan?"
Lily mengangguk.
"Kenapa kau berbohong?"
"Apa kita akan makan di luar?" Tanya Lily dengan suara yang pelan.Â
David tahu apa yang dimaksudkan dan diinginkan Lily, maka darinya dia berdehem. "Kau tidak ingin keluar?"
"Aku tidak ingin membuatmu terus menggendongku."
Kenyataannya David suka saat dada Lily menempel di punggungnya. "Kau ingin makan di sini saja?"
"Ya, lalu tidur siang."
Saat itulah David menyeringai. "Jangan bilang kau ingin tidur denganmu."
Tanpa diduga, Lily malah mengangguk pelan. "Aku mengantuk."
"Ck, dasar pengantuk," ucap David berdiri, dia mendekati sebua telpon rumah di villa dan meminta pelayan untuk membawakan seafood ke kamarnya.Â
Lily menatap David yang membelakangi, bagaimana kaos hitam menutupi tubuhnya yang liat. Lily menunduk seketika saat David berbalik.
"Apa kau sedang mengagumiku?"
Lily segera menggeleng. "Tidak."
"Jangan berbohong, kau suka padaku, kau suka membuat balonku meledak."
Seketika pipi Lily memerah, dia mengerti apa yang dimaksud David. Dan sialnya, pria itu berbaring di ranjang yang dibelakangi Lily, David berdehem, membuat Lily menoleh mencari jawaban.
"Kenapa diam? Masih berlaku aku ingin mendapat kecupan."
Lily mengerucutkan bibirnya.
"Tidak ada yang berubah, saat kau sembuh kau akan memandikanku, dan memberiku kecupan setiap pagi. Oke?"
Lily mengangguk.
"Sekarang cium aku."
Lily merangkak ke atas ranjang dan memberikan apa yang diinginkan David. Sayangnya, pria itu menahan tengkuk Lily.
"A… ada apa?"
Dan David selalu hilang kendali saa mendengar suara Lily yang kecil dan halus. Membuat sesuatu dalam dirinya terbangun hidup.Â
"Cium aku lagi."
Lily melakukannya dengan gementar.
"Apa benar-benar masih sakit?"
Bagamana tidak, David melakukannya lama sekali. Dan itu membuat ngilu yang amat mendalam di kewanitaan Lily. "Masih sakit."
"Kalau nanti malam?"
Lily menggeleng tidak tahu. Saat itu David menarik tengkuknya untuk mencium bibir istrinya kembali. Sayangnya, ciuman mereka terhenti karena ketukan pintu pelayan yang membawakan makan siang untuk keduanya.
Ciuman yang lembut layaknya memakan ice cream di siang hari harus berhenti, membuat David mengumpat kesal. Tanpa sadar David berkata, "Tidak ingin lepas."
🌹🌹🌹
Lily dengan telaten membukakan cangkang kerang untuk David. Menyimpannya di atas nasi lalu menyuapkannya pada suaminya. Terlihat bagaimana David yang lahap menikmatinya.
"Aku ingin kepiting."
"Ini?" Tanya Lily pada kepiting bakar.
"Yang asam manis."
Lily mahir membuka cangkang kepiting. Membuat David bertanya, "Kau mahir membukanya, apa kau pernah bekerja di tempat makan?"
Niat David hanya bercanda, tanpa disangka Lily menjawab sambil mengangguk. "Ya, aku bekerja sambil sekolah saat SMP."
"Di rumah makan?"
"Iya, rumah makan kerang. Jadi aku terbiasa membukanya," ucap Lily dengan suara pelan, dia menyuapi David dengan campuran nasi.
Ketika ada butiran nasi di pipi, Lily mengambilnya, dan tanpa diduga dia memakannya. Membuat David menatap Lily lekat. "Apa kau juga sering menyuapi orang?"
"Ya, anak-anak panti."
"Sesering itu?"
"Ada apa memangnya?" Lily menatap David takut. Pasalnya pria itu menaikan nada bicaranya.Â
"Tidak, kau pasti tidak akan kerepotan punya banyak anak dariku. Kau ingin bukan punya anak setampan diriku? Sayang sekali Oma memberimu tugas itu, membuatku harus ikut bersusah payah setiap malam."
Lily memilih diam, kenarsisan David selalu dia biarkan.
"Hidungnya mancung sepertiku. Dan juga kaya, aku akan memberi Oma cicit laki-laki."
Lily menyuapkan makanan untuknya.
"Kau ingin punya anak dariku bukan?"
Lily bingung harus mejawab apa, pasalnya David selalu memberi pertanyaan yang membuat dirinya seolah mengemis. Padahal, kenyataannya David yang enggan berhenti membuat adonan seperti tadi malam.
"Benar bukan?"
Pipi Lily memerah, membuat David tertawa. "Lihat, sudah aku duga kau menginginkannya. Tenanglah, kau mendapatkan benih premium di tempat premium. Semuanya akan sempurna seperti diriku yang tampan dan kaya."
Lily menoleh pada jendela, di mana ada gantungan dream catcher di sana. Membuatnya tidak mendengarkan perkataan David, dan itu membuatnya kesal.
"Lily."
"Ya, apa yang kau katakan?"
"Ck, apa yang kau lihat?"
"Itu…." Lily malu-malu berkata saat menyuapi David. "Bisakah kita membeli oleh-oleh untuk Oma?"
David diam, membuat Lily mengira pria itu marah. Lily menundukan pandang.
"Kenapa kau diam?"
"Jika tidak, tidak apa."
"Astaga, kau masih mengira aku miskin?"
Lily berani menatap David kembali.
"Lily, aku ini kaya. Apapun yang kau inginkan akan aku berikan."
Lily hanya mengangguk-angguk sebagai jawaban. Dan itu membuat David tidak puas. "Kau tidak percaya."
"Aku percaya, David."
"Kau tidak percaya."
David berdiri, mengambil ponselnya dan kembali memperlihatkan layar ponselnya pada Lily. "Lihat, ini uangku, dan ini hanya salah satunya."
Mata Lily melotot, dia menghitung nol yang ada di belakang. "Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, sebelas, dua belas, tiga belas, empat belas, lima belas."
"Ck, kau tidak akan selesai menghitungnya dalam sehari," ucap David memadamkan layar ponsel.
Membuat Lily menatap suaminya.Â
"Lihat banyak bukan? Aku bahkan membeli semua dagangan di tempat ini. Percaya padaku?"
"Aku percaya."
"Percaya apa?"
Lily menjawab dengan suara kecil, "Banyak uang."
"Lily, aku kaya, bukan banyak uang. Kaya hati, kaya wajah, kaya akan kesempurnaan."
"Ba.. baiklah, kau sempurna."
"Bagus, sebagai hadiah akan aku beri ciuman. Kemarilah."
🌹🌹🌹
TBC.