
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK SEMUANYA.🌹
🌹IGEH EMAK JUGA DI FOLLOW DI : @REDLILY123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN SEMUA. JANGAN LUPA AJAK YANG LAIN BACA KARYA RECEH EMAK INI YA.🌹
Cantika berusaha menahan tawanya ketika melihat Ares yang menengadah dengan dokter yang mencoba mengambil mangga mungil itu dari lubang hidungnya. Untuk menahan tawanya, Cantika memalingkan wajahnya, sementara tangannya terus digenggam oleh Ares yang sesekali merengek karena rasa pegal dan malu.
“Tutup tirainya!” teriak Ares saat melihat beberapa pasang mata yang melihat ke arahnya sambil menahan tawa. Yang mana membuat dokter itu memberikan isyarat pada perawat untuk segera menutup tirai.
Mereka berada di ruang terbuka yang berada di dekat lobi, kepanikan Ares membuatnya lupa kalau dirinya adalah pemilik rumah sakit ini dan tidak datang ke lantai VVIP. Dia berlari dan langsung duduk di hospital bed yang ada di sana, sementara Cantika sibuk mencari bantuan.
Dokter yang mengenali siapa Ares langsung menanganinya di sana, melihat Ares yang panic juga membuat dokter itu lupa untuk membawanya ke lantai VVIP di paling atas.
“Apakah keluar?” tanya Ares masih menengadahkan kepala mengadahkan lubang hidungnya pada dokter wanita tua itu.
“Sedikit lagi….. akhirnya.”
Sebuah mangga mungil itu berhasil dikeluarkan, dokter itu tersenyum. “Mangga nya masih berada di permukaan, jadi mudah mengeluarkannya. Saya bahkan masih bisa melihatnya saat berada di hidung anda.”
“Tapi itu membuat lubang hidung saya besar, apa sekarang melebar?” tanya Ares pada dokter itu.
Wanita tua itu menggeleng. “Hanya sedikit merah, lubang hidungnya kembali ke bentuk semula. Tuan Fernandez.”
“Uh? Kau mengenalku, dokter?”
“Saya sudah menghubungi keluarga anda.”
Seketika Ares melebarkan matanya, tidak percaya jika dokter itu memanggil keluarganya. Karena Ares yakin, dia akan menjadi bahan ejekan untuk Daddy dan saudaranya. “Kenapa anda menghubungi mereka, Dokter?”
“Anda panic, Tuan Fernandez, sepertinya butuh pendampingan. Apa anda butuh sesuatu yang lain? Ingin pindah ke ruangan VVIP?”
“Tidak, kau bisa meninggalkanku, dan bawa mangga itu menjauh dariku. Terima kasih, dokter.”
Dokter itu mengangguk, dia menyimpan alat yang mengambil mangga sebelumnya pada sebuah kotak aluminium yang dibawa perawat kemudian keluar dari sana.
Ares berdehem dan meminta Cantika kembali menutup tirai.
Cantika masih mengulum senyumannya. “Kau masih tampan, jangan khawatir.”
“Hidungku sakit, tapi merasa melegakan.” Apa karena semua upilnya menempel di mangga? Lanjut Ares dalam batinnya. “Itu menyakitkan.”
“Hidungmu sedikit merah,” ucap Cantika mengusapnya menggunakan sapu tangan. “Apakah masih sakit?”
“Itu tidak penting, apa aku masih tampan?”
Cantika mengangguk. “Kau masih pria paling tampan, jangan khawatir.”
🌹🌹🌹🌹
“Kita harus pergi sebelum keluargaku datang,” ucap Ares yang hendak bergegas, bisa bisa dirinya menjadi bahan tertawaan jika keluarganya melihat dan mengetahuinya. “Ayo.”
“Aku harus mengisi formulir di resepsionis dulu.”
“Tidak perlu, rumah sakit ini milikku. Tunjukan saja KTP ku pada mereka.”
Ares mengeluarkannya dari dompet, kemudian menatap Cantika dengan penuh harapan. Dirinya malu ke sana dan mengatakan apa yang terjadi. jadi Ares menyerahkan KTP nya pada Cantika.
“Apa ini?”
“Bisa kau yang melakukannya.”
“Baiklah,” ucap Cantika keluar dari tirai itu sambil membawa KTP milik Ares.
Saat menuju resepsionis, sebuah suara lebih dulu menghentikan. “Cantikaaaaa!”
Itu Athena, yang mana membuat Cantika menengok dan melihat wajah panic Athena mendekat, bersama kedua orangtua Ares yang ada di belakangnya. Ya tuhan, Cantika ingat mereka. Keduanya masih sama seperti beberapa tahun yang lalu.
“Bagaimana keadaan Ares? Aku dengar mangga masuk ke hidungnya? Hahahahah! Dimana dia?”
“Di balik tirai itu,” ucap Cantika yang membuat Athena segera melangkah menemui saudara kembarnya.
Sementara Lily mendekati Cantika lebih dulu. “Cantika?”
“Hallo, Tante. Hallo, Om.”
“Kau sudah besar,” ucap Lily mengusap wajah Cantika yang begitu manis. “Apa Ares parah? Tante dengar hidungnya tersumbat mangga muda?”
“Iya, dia sudah baik baik saja, di ada di sana.”
“Astaga, hanya tersumbat mangga,” gumam David yang mendapatkan pukulan dari Lily. “Aw, Sayang. Itu menyakitkan.”
“Bereskan pembayarannya, aku akan melihat anak kita. Ayo, Cantika.”
“Ares?” panggil Lily, dia membuka tirai yang menghalangi dan melihat Athena yang sedang mencoba merekam Ares.
“Perlihatkan lubang hidungmu, Ares. Ini untuk kenangan, ayo lakukan.”
“Mom! Thea menggangguku! Dia gila! Mommy!”
“Mom! Lubang hidungnya membesar, kita harus meliputnya. Untuk kenangan bukan, Mom?”
Lily menatap Cantika sambil tersenyum. “Tolong tetap berteman dengan mereka.”
🌹🌹🌹🌹
“Aku akan menjengukmu hari ini bersama Arin. Jadi lekaslah pulang. Dan jangan bawa dia bermain lagi, Ares. Biarkan Cantika beristirahat, kenapa kau selalu membawanya? Tidak membawa perempuan incaran mu saja. Biarkan Cantika istirahat.”
Karena kalimat itulah Ares segera mengantarkan Cantika pulang. Dan tentu saja, Ares menjadi bahan ejekan baru untuk Daddy dan Athena, yang mana membuatnya kesal akan hal itu.
Ares mengantarkan Athena sampai di luar gerbang karena pagarnya tertutup.
“Terima kasih, sampai jumpa lagi.”
“Besok kau sekolah ‘kan?”
Cantika menganggukan kepalanya. “Iya, aku akan sekolah.”
“Ponselmu belum benar?”
“Kakek belum pulang, aku rasa malam ini akan bisa dipakai.”
“Ya Sudah, cepat masuk.”
“Kau duluan, aku harus memastikan Ares yang tampan pergi dengan selamat.”
Yang mana hal itu membuat Ares berdehem, dia kembali memakai helmnya. “Aku pulang.”
“Hati hati.”
Seseorang yang dari tadi mengawasi akhirnya keluar dari tempat bersembunyi setelah Ares pergi. Dia mencegah Cantika kembali masuk ke dalam rumah.
“Cantika!” panggil Laura.
Cantika menengok. “Oh, hai? Kenapa?”
“Kau sudah aku peringatkan untuk menjauhi Ares, kenapa kau terus mendekatinya?”
“Aku mengantarnya ke rumah sakit, dia perlu bantuan.”
“Kau tuli atau bagaimana? Kenapa kau tidak menghargai perasaanku sebagai wanita?”
“Apa kau menghargai perasaan Ares yang membuat cookies seharian untukmu? Aku menemukan keranjang dan cookies itu di tempat sampah, belum tersentuh. Kau membuangnya?”
Laura gelagapan seketika, yang membuat bukti bahwa dia memang benar benar membuangnya. Laura memang melakukannya, dia tidak ingin makanan itu membuatnya gemuk. karena kebenarannya dia sangat menyukai uang daripada hal hal tersebut.
“Benar ‘kan? Kau membuangnya?”
“Lalu apa masalahnya?”
“Ares menyukaimu. Jika kau tidak tulus padanya, tinggalkan saja daripada menyakitinya.”
“Lalu apa masalahnya? Bagaimanapun Ares menyukaiku, bukan menyukaimu yang hitam dan juga jelek. Kau hanya temannya, aku akan menjadi pacarnya. Dan aku juga menyukai Ares dengan tulus.”
“Apa dia tau kau membuang cookies miliknya?”
“Kau mau apa? Memberitahunya? Itu akan memberikan kesan kalau kau mengadu domba, atau kau cemburu. Ares akan percaya padaku. Dan kau akan menghancurkan perasaannya?”
“Kau yang menghancurkan perasaanya dengan membuang makanan yang dia buat.”
“Maka rahasiakan itu, lagipula aku menyesal.”
“Kau tidak terlihat menyesalinya.”
“Penyesalan tidak dapat dilihat, kau ini kenapa?” gumam Laura yang pergi meninggalkan Cantika di sana.
Gadis itu hanya bisa menghela napas sambil menggelengkan kepalanya.
“Baiklah, terserah.”
🌹🌹🌹🌹🌹
TO BE CONTINUE