Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Tengik



🌹VOTE YA GAIS🌹


Lily menatap jengkel pria yang sedang menggendong Baby Athena dalam pangkuannya. Sesekali dia melihat dan menggelitik Baby Ares yang ada di dalam box bayi.


Mereka berada di dalam kamar, dan orang orang di luar sana sedang menyiapkan makan malam besar.


Tidak ada rasa bahagia sedikit pun untuk Lily melihat rumah dua tingkat yang mewah ini. Dirinya benar benar ingin memakan David bulat bulat.


"Astaga, Sayang, Ares sayang calm and cool sepertiku," ucap David membanggakan diri. "Dan si kecil mungil cantik ini mirip denganmu, dia sangat ekspresif."


"Oh ya," ucap Lily malas.


Dia menarik napas dalam dan melangkah menuju Baby Ares. Dia ingat belum menyusui bayi laki lakinya.


"Apa yang akan kau lakukan?"


"Menyusuinya," jawab Lily dingin dan cuek.


Dia duduk di pinggir ranjang sambil menyusui Baby Ares. Yang mana membuat bayinya perlahan memejamkan mata.


Berbeda dengan Baby Athena yang beberapa kali menangis. "Uhh… My Baby… ini Daddy, Sayang. Kau merindukan Daddy bukan? Ayo beri Daddy ciuman, Daddy baru saja pulang."


Lily menyahut dengan suara pelan. "Ya, pulang dari kematian."


Saat itulah David paham istrinya masih kesal, membuatnya keluar sebentar untuk menitipkannya di pengasuh. 


David kembali ke dalam. "Sayang…."


"Jangan mendekat," ucap Lily dengan suara dingin juga malasnya. "Kau hantu."


"Sayang…., Aku ingin memberi kejutan padamu."


"Aku tidak ingin membahasnya," ucap Lily kesal. Dia menidurkan Baby Ares yang tertidur di dalam box.


Saat berbalik, dia beradu dengan suaminya. "Astaga," gumam Lily terkejut. "Menyingkirlah, aku hendak ke kamar mandi."


"Kau masih marah?"


"Tidak," ucap Lily menolak keadaan. Dia melewati David begitu saja menuju kamar mandi.


Di sana dia menguncinya dari dalam, guna suaminya tidak bisa masuk. Lily memejamkan mata sambil menarik napas dalam. Ada rasa marah luar biasa di dadanya. Bahkan setiap membalas perkataan David, tangannya tidak tahan untuk memukuli pria itu karena lancang telah bermain dengan maut.


"Sayang…..," panggil David dari luar. "Suamimu yang tampan, kaya dan baik hati ini pulang. Aku belum mendapat balasan pelukan hangat darimu."


Ingin sekali Lily membalas dengan menyuruh David memeluk tiang.


"Sayang…., Jangan marah lagi. Aku tidak akan menguranginya. Ayoo keluar dan cium aku, aku merindukanmu."


Lily diam, dia memilih membasuh wajah supaya menyamarkan air matanya. Dan saat Lily sedang mencuvi wajah, pintu tiba tiba terbuka.


"Sayang?" Tanya David polos.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau masuk?" Lily sangat kesal, pasalnya dia butuh ruangan untuk sendiri dan memahami keadaan. "Bagaimana kau bisa masuk?"


"Eum…. Dengan kunci," ucap David mengangkat kunci cadangan.


"Astaga, kau sangat tidak mengerti, David," ucap Lily melewati David dan meninggalkannya kembali.


"Sayang… ayolah aku tidak bisa diabaikan. Aku tampan, kaya dan sempurna. Tidak baik meninggalkan suamimu seperti itu."


Lily tidak peduli. Dia keluar dari kamar utama dan meminta pengasuh untuk menunggu Baby Ares.


🌹🌹🌹


Lily belum memahami kenapa David melakukannya. Dia ingin diam dan memedam amarahnya yang masih membara.


Saat pesta makan malam pun, Lily bicara seperlunya, dengan wajah yang tidak menampakan binar bahagia.


"Lila… makanlah ini, Oma yang masak."


"Terima kasih, Oma," ucap Lily menerima sayur lodeh di piring.


"Apa kau ingin sayur ini, Hantu?" Tanya Oma pada David.


"Oma!" David tidak suka.


"Oh, haruskah aku memanggilmu Roh?"


"Bagaimaa kalau raksasa."


"Astaga, kalian diamlah," ucap Sebastian yang ada di sana ikut makan malam.


Ini adalag makan malam keluarga dan teman terdekat. Eta, Nina dan Holland ikut makan di sana. Dengan Sebastian sebagai penambah.


Sebastian kesulitan menemukan daging. "Kenapa semuanya berwarna hijau? Mana daging?"


"Makan yang ada."


"Aku ingin daging, Oma."


"Baiklah, Oma akan memasak dagingmu."


Sontak saja itu membuat Sebastian diam tanpa bicara.


Oma kembali menatap Lily yang tidak semangat. "Lila… rumahnya bagus bukan?"


"Bagus, Oma." Lily menjawab dengan senyuman kecil, tapi tanpa tatapan.


"Ruangannya cantik bukan?"


"Cantik, Oma."


"Kau suka bukan?"


"Suka, Oma."


"David tengik bukan?"


"Tengik, Om-- Eh, apa yang Oma katakan?"


Oma menyeringai dan menatap David. Lalu berbisik di telinga cucunya. "Rasakan, kau tidak bisa membuat adonan dengannya. Lily bilang kau tengik."


Dan saat itulah David gelisah, keringat dingin membasahi tubuh. Makan saja tidak fokus.


Apalagi ditambah bisikan Oma yang mengatakan, "Tengik… tengik…. Tengik…"


🌹🌹🌹


TBC.