Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
S2 : Permintaan maaf



🌹Votee yeee Ghaissss, Jangan lupa ajak teman baca cerita ini okey🌹


Pikiran Lily semakin tidak karuan, dia berpikir kalau David mulai berfikiran kalau semua ini gara gara dirinya. Sekarang, bukan hanya takut ditinggalkan oleh David, tapi Lily takut melihat anak anaknya sedih menanti kehadirannya.


"Mom?" Tanya Ares yang mengintip dari ambang pintu.


Buru buru Lily menghapus air matanya. "Ya, Honey? Ada apa?"


"Apa kau menangis?"


"No."


"Ada air mata di sana."


Lily menggeleng. "Ini hanya kelilipan."


"Tapi, Mommy……," ucapan Ares menggantung karena kaki kecilnya melangkah kemudian memeluk Lily di atas ranjang. "We are here for you."


Lily memeluk kembali Ares sambil tersenyum, dia memberikan ciuman di pipi putranya. "Ayo berjalan jalan di samping danau."


"Really?!"


"Ya, ajak Thea. Kita akan berwisata kuliner."


"Yeeeee!" Ares berlari untuk memanggil saudarinya.


Lily tersenyum melihat tingkah keduanya, seharusnya dia tidak berfikiran negatif dan fokus pada anak anaknya.


"Ayo pakai jaket kalian."


Saat keluar dari penginapan, beberapa orang mengikuti mereka yang terdiri dari pengasuh dan penjaga. Jarak mereka tidak terlalu jauh dan dekat, para penjaga dan pengasuh itu pandai berbaur sehingga Lily merasa tidak diikiti.


Berjalan di samping danau, kaki kaki kecil anaknya melanglah lebih cepat.


"Come on, Mommy. Ares mau siomay."


"And Thea mau sosis."


"Oke, we got it," ucap Lily berjanji pada mereka.


Ares dan Athena senang bukan kepalang, karena beberapa hari terakhir mereka tidak keluar demi menemani sang mommy yang tengah sedih.


Dan ketika Lily mulai lelah, dia memberi isyarat pada para pengasuh untuk menggendong putra putrinya.


"Apa Mommy lelah?" Tanya Ares.


Mendengar itu, Athena ikut khawatir. "Mommy lelah? Mommy sakil?"


"Tidak, Sayang. Mommy ingin duduk di sini untuk memotret kalian yang naik komidi putar bersama dengan Nanny, oke?"


Anak anak itu mengangguk dan bersedia digendong pengasuhnya untuk menaiki komidi putar.


Sementara Lily duduk di sana dan kembali memeriksa ponselnya apakah David memberinya jawaban atau tidak. Tapi jawabannya tidak, berpuluh pesan yang dikirimkan belum juga dibalas.


Ketika anak anak kelelahan karena bermain, Lily kembali pulang.


Sambil menatap anak anaknya yang terlelap, Lily meneteskan air matanya tidak kuasa. Dia takut anak anaknya merasakan apa yang Lily rasakan saat masih kecil, dimana dia kehilangan kasih sayang dan belaian seorang daddy.


"Daddy kalian akan pulang," ucap Lily bagaikan janji.


Dia mengirimkan pesan pada Oma.


ME : Oma, aku mohon katakan apa yang sebenarnya menahan David. Pasti ada suatu yang membuatnya tidak datang bukan. Apa yang Dena tinggalkan untuk David? Tolong katakan padaku.


Lama Oma tidak menjawab, sampai Lily harus menghubunginya, tapi tidak juga diangkat.


ME : Oma, jangan ada yang ditutup tutupi.


🌹🌹🌹


"Kau akan pulang?" Tanya Sebastian yang sedang melakukan video call bersama Luke dan David.


"Hei, David. Dimana kau! Kenapa kami hanya melihat pintu?!"


"Diamlah, Luke. Jangan berteriak, kau membuat telingaku sakit."


"Maaf, aku bicara dengan David. Dia menelpon dan mengarahkannya pada pintu!"


"Apa lama tidak menikah membuatmu membatu? Kau belum bisa lepas dari ular berbisa Medina?"


"Hei! Perhatikan ucapanmu."


Saat itulah David yang selesai ganti baju bergabung dalam panggilan. "Bisakah kalian diam? Membuatku pusing saja."


"Hei, katakan padaku kenapa kau menelpon kami berdua?" Tanya Luke. "Aku sedang sibuk."


"Sibuk menunggu kakekmu mati?" Tanya Sebastian yang membuat David ikut tertawa.


David memegang perutnya. "Astaga, itu membuatku merasa iba."


"Diam kalian berdua. Diantara kalian hubunganku yang paling normal. David, kau menikahi istrimu karena permainan, dan Sebastian tidak dapat pasangan sampai sekarang."


"Oke, David. Luke mulai marah, katakan apa maumu, aku harus kembali berpesta wanita."


"Sialaaan," gumam David mendengar penuturan teman temannya. David memegang ponsel yang sebelumnya dia simpan di nakas. "Tebak aku dimana?"


"Hotel?" Tebak Sebastian.


"Toilet?" Tambah Luke yang mulai kesal.


David menggeleng. "Aku berada di pesawat. Lihat ini," ucap David memperlihatkan keadaan sekitarnya. "Bagus bukan?"


"Oh shit, itu milikmu? Bas, apa pesawat milikmu punya kapasitas itu?"


"Di mana kau membelinya, David?"


David yang memperlihatkan interior pesawat jet pribadinya itu menyeringai, dia kembali mengarahkan kamera pada wajahnya. "Kalian tidak akan mampu. Sudahlah, aku akan mematikannya."


Dan ketika Sebastian juga Luke hendak protes, David mematikan panggilan. Dia menyeringai. "Senang sekali membuat mereka iri," ucapnya.


"Tuan, pesawat akan mendarat," ucap Holland memperingatkan.


Saat itulah David memakai sabuk pengaman dan pesawat mulai turun di bandara Thailand.


Seperti biasa, Holland mengendarai mobil untuknya.


Mereka sampai di Thailand malam hari, membuat David tidak menghubungi istrinya. Sebenarnya dia menolak semua panggilan karena tidak ingin perasaannya goyah terhadap Lily.


Tidak dipungkiri, surat dari Dena membuat David merasa kesal dan marah pada dirinya dan keadaan.


Saat sampai di penginapan, David melihat anak anaknya sudah terlelap. Dia datang untuk memberi mereka ciuman lebih dulu.


Setelahnya, David melangkah menuju istrinya yang tidur sendirian di kamar. David tahu Lily menyalahkan dirinya sendiri karena kematian ibunya. Melihat istrinya yang bertubuh mungil terbaring sendirian dengan perut buncit membuat David menghela napas.


Dia datang mendekat, dan naik ke atas ranjang untuk mencium anak ketiganya di dalam sana. "Maaf membuatmu menunggu, Baby."


Kemudian David beralih mengusap pipi istrinya, wajah cantik Lily membuat David merasakan perasaan sedih. "Maafkan aku, Sayang. Bahkan dalam kematiannya aku membuatnya membencimu. Maafkan aku."


🌹🌹🌹


To be continue….