
🌹Kalian pasti ga sabaran, cie cie yang mau baca cerita Lily sama David🌹
"Kau mau pergi atau tidak?" Tanya Sebastian dengan kesal. "Taksi Online nya hanya bertahan selama sepuluh menit."
Dan saat itulah pintu tertutup seketika di hadapan Sebastian, membuat pria itu mengerutkan keningnya penuh pertanyaan. "Apa dia bodoh?"
Dan tidak lama kemudian Lily keluar dengan jaket yang dia kenakan. "Minggir, kau menghalangi."
Sebastian menatap tidak percaya kepergian wanita itu, apalagi pintu apartemen belum tertutup rapat. Sebastian berdecak. Saat dia hendak menutup, telpon berbunyi.
"Hallo, Luke?"
"Bagaimana?"
"Dia pergi mengejar David."
"Apa kau membohonginya?"
"Kenapa kau mencampuri urusanku, kapan kau kembali?"
"Aku tidak tahu, Medina tidak bisa diajak bicara."
"Sayang sekali, kau terjebak bersama wanita siluman."
"Apa katamu?"
Sebastian menutup telponnya sepihak. Dia menutup pintu apartemen Lily.
"Siapa kau?"
Sebastian berbalik, menatap seorang pria dan remaja wanita yang mendekat.
Radit tahu siapa pria itu, dia sahabat baik David. "Mau apa kau ke mari?"
"Bukan urusanmu," ucap Sebastian hendak melangkah, sampai dia ingat wajah Radit. "Kau…. Kau pria yang menolak posisi dekan fakultas hukum?"
"Kau salah orang."
"Baik, terserah."
Setelah kepergian Sebastian, Radit bergegas masuk ke apartemen yang ditempati Lily. Dia mencari sosok itu. "Tina? Tina?"
"Tina…..," ucap Mega mengejek di ambang pintu, dia yang masih sedikit mabuk merebahkan dirinya di sofa.
"Tina?!"
"Berisik!"
Radit kembali menatap adiknya yang memejamkan mata, dia mengambilkan air putih. "Minum ini, supaya mabukmu hilang."
"Singkirkan itu!"
"Mega!"
"Bukankah kau harus mencari Tina Toon? Sana pergi."
Radit menyimpan gelas, dia lebih khawatir pada Lily. Dan saat itu dia menemukan memo di kulkas, yang bertuliskan : "Aku pergi menemui David. Aku tidak akan ikut denganmu, Kak."
Setidaknya setelah mendapatkan pesan itu, Radit tenang. Dia kembali menemui adiknya yang tertidur. Menggendongnya dan membawa ke apartemen miliknya.
Radit membaringkannya di ranjang.
Saat dia hendak kembali berkemas, tangan Mega menahannya.
"Mega."
"Aku bilang aku mencintaimu, ayo kita menikah."
Radit mengibaskan tangannya. "Kau mabuk."
"Kenapa kakak tidak mencintaiku?" Tanya Mega saat Radit hendak membuka pintu.
"Kau adalah adikku."
"Kita tidak sedarah, kita bisa menikah. Aku ingin hamil anakmu."
"Jaga ucapanmu, Mega."
"Atau haruskah aku beritahu ibu apa penyebab aku menjadi seperti ini? Aku gila karenamu!"
"Jangan coba coba," ucap Radit dengan menunjuk wajah Mega. "Jangan pernah membuat kekacauan. Ibu dan Ayah tidak butuh omong kosongmu."
"Aku tidak omong kosong. Aku mencintaimu. Tidak percaya? Akan aku buka pakaianku."
"Mega!"
Dan perempuan itu tidak main main, dia berdiri dan mulai melucuti pakaiannya.
Sebelum selesai, Radit mengepalkan tangan marah. "Kau mabuk, diam di sini."
Radit keluar dan mengunci pintu dari luar.
"Kak! Buka pintunya! Kak! Kakak! Aku melakukan ini karenamu!"
🌹🌹🌹
"Nyonya Besar…."
Oma terlalu sibuk senam, dia tidak mendengarkan Eta. Oma lebih suka mendengarkan musik Jaran Goyang sambil berjoget ke sana ke mari dengan instrukturnya.
"Nyonya Besar…"
"Jaran goyang…. Jaran goyang….," Ucap Oma menirukan suara Nella Kharisma. "I cant stop loving you o darling, jaran goyang menunggumu…. Na… na… na na na na…. La… la…. La la la la…. Ne… ne… ne ne ne ne…. Eh…."
Oma berhenti bergoyang saat menyadari apa yang dikatakannya. "Nene nene? Nenek?"
Eta berdehem, siap untuk berteriak agar suaranya tidak kalah oleh musik. "Nyonya Besar?!"
"Ya, Nell Kharisma?!" Oma menengok. "Ada apa, Eta? Kau mengagetkanku!"
"Maaf, Nyonya Besar, ada telpon dari Tuan Muda Luke."
"Ah, si anak kecil." Dan Oma melangkah begitu saja meninggalkan instruktur yang masih bersenam membelakangi.
Oma menerima tablet dari Eta dengan kening berkerut. "Apa dia ingin video call?"
"Iya, Nyonya Besar."
Oma berdehem sebelum mengangkatnya. "Halaaaaaauuuuuu… kau merindukan wajah cantik Oma, anak kecil?"
"Halo, Oma. Bagaimana kabarmu?"
"Oma baik, Oma masih hidup."
Luke terkekeh. "Bagaimana David?"
"Entahlah, Oma dengar Sebastian akan bunuh diri."
Luke kembali tertawa. "Jangan dengarkan perkataan mereka, Oma. Mereka agak tidak waras."
"Ya, kau satu satunya diantara kalian bertiga yang lumayan waras. Awas saja jika pernikahanmu tidak berjalan baik, kalian sudah dewasa, sudah waktunya menghentikan semua permainan gila itu."
"Iya, Oma. Aku mengerti."
Oma mengerutkan keningnya meneliti ekspresi wajah Luke. "Aku melihat keraguanmu, Bule…."
"Oma, aku rasa aku terlalu mencintai Medina."
"Berhenti bercerita, introspeksi diri."
"Kenapa tidak cerita pada Kakekmu?"
"Dia yang menginginkan ini, dan aku dengar kau adalah penasehat terbaik. Itu yang David katakan."
Oma tersipu malu, dia memukul udara seolah Luke ada di sana. "Jadi?"
"Aku terlalu mencintai Medina sampai aku menuruti semua permintaannya."
"Contohnya?"
"Dia tidak ingin punya anak sampai bisa mengeluarkan merk pakaian yang setara dengan Versace."
"Wow, dia gila."
"Aku tahu, Oma. Kakek menyuruhku menikahinya agar segera punya anak, dia sangat menyukai Medina."
"Kalau begitu suruh saja Nobles yang menikahi Medina."
"Oma…."
Oma tersenyum, dia melihat sosok dewasa di depannya. Luke lebih dewasa dibandingkan Sebastian dan David, dia menyeimbangkan perasaan dan pikiran dengan baik.
"Ikuti saja alurnya, biarkan Nobles melihat kenyataan. Sampai itu tiba, jika Medina tidak berubah, tinggalkan dia."
Belum juga Luke membalas ucapan Oma, Eta lebih dulu datang.
"Tuan Muda Sebastian ingin menemui anda, Nyonya Besar."
"Astaga, ketiga cucuku membuatku mual. Aku menutupmu dulu, Luke. Sampai jumpa."
"Tunggu, Oma! Oma!"
Tut.
Tut.
Tut.
Sambungan terputus. Oma memang sudah menganggap Luke dan Sebastian sebagai cucunya, mereka tidak jarang membuatnya pusing.
"Oma….?" Sebastian merentangkan tangannya.
"Kenapa kau belum berangkat ke akhirat? Mereka bilang kau akan bunuh diri."
Sebastian tertawa, dia memeluk Oma sekilas.
"Aku membencimu, bule tua."
"Aku tahu, Oma. Jangan marah marah, sudah. Aku sudah menyelesaikan semuanya. Aku menurunkan harga diriku dengan membereskan masalah."
"Dasar bodoh, kapan kau akan menikah?"
Sebastian malah membuka kulkas dan mencari soda. "Aku sedang mencarinya. Aku butuh gadis yang masih segar, bukan hanya menjadi seogok daging dengan lubang."
"Dasar kau!"
Sebastian tertawa, dia datang kembali lalu mencium pipi Oma. "Aku akan ke Amerika menemui keluargaku, Oma."
"Akhirnya kau mendapatkan panggilan."
Sebastian mengangguk. "Akan aku cari tahu apa yang mereka inginkan."
"Hati hati di sana."
"Baik, Oma."
🌹🌹🌹
Lily keluar dari mobil setelah sampai di bandara, dia berlari ke pusat informasi. "Maaf, apakah pesawat pribadi Fernandez-215 sudah lepas landas?"
"Sudah, Bu. Ada yang bisa saya bantu?"
"Apakah penumpang dengan nama David Fernandez ada di sana?"
"Maaf, anda siapa ya?"
Lily segera mengeluarkan bukti pernikahan mereka dari tasnya, inilah alasan dia lama di apartemen. "Saya istrinya."
"Ah, Tuan David Fernandez adalah penumpangnya."
Lily terdiam seketika, dia berjalan menjauh sambil menangis terisak. Layaknya anak kecil, Lily mengusap matanya dengan tangan dan menagis sesegukan. Dia duduk di bagian luar bandara dan menutup wajahnya dengan tangan.
Dia menangis seperti anak kecil yang kehilangan permen, sampai sebuah suara mengatakan, "Nyonya Muda?"
Lily mengadah seketika, menatap wajah Holland yang berdiri di sana. "Holland? Apa kau masih di sini? David belum pergi?"
"Nyonya, tenanglah. Tuan David tidak pergi ke mana pun."
"Sebastian bilang dia akan menetap di Amerika, dan petugas di sana mengatakan pesawat pribadi Fernandez-215 sudah lepas landas dengan David di dalamnya."
Holland kebingungan melihat Lily sesegukan.
"Nyonya, yang naik bukan Tuan David. Tapi Tuan Sebastian, dia menggunakan nama Tuan David agar kedatangannya tidak diketahui keluarganya."
Seketika tangisan Lily terhenti, tapi isakannya tetap ada. "Lalu? David?"
"Dia ada di toko sebrang sana sedang membeli rokok elektrik."
"Dia merokok lagi?" Tanya Lily dengan sisa tangisannya.
"Ayo, Nyonya Muda. Saya antar anda ke sana."
Lily dengan dituntun Holland menyebrang jalan, dan berhenti di depan toko yang memiliki dinding kaca transparan. Di sana Lily melihat David sedang bicara dengan pagawai toko.
"Nyonya, mari saya antar ke dalam."
"Tidak, aku malu menemuinya."
"Dia suami anda, Nyonya."
"Aku telah berbuat jahat padanya," ucap Lily sambil menangis.
Dan Holland, dia melihat mobilnya menghalangi pengendara lain.
"Sebantar, Nyonya."
Dia meninggalkan Lily yang berdiri sambil menunduk menteskan air mata, jarinya saling bertautan. Lily tahu dirinya jahat, dan dia dengan beraninya datang kembali.
Saat itulah David keluar, dia melihat sosok yang selalu ada dalam mimpinya.
David berguman, "Sebastian sialan, dia membuat istriku menangis."
Dan saat David melangkah mendekat, air mata Lily turun semakin deras. Dia merasa sangat bersalah, tangannya bergetar dan suara tangisan yang berusaha dia tahan.
Pikirnya, David akan mendorongnya pergi.
Kenyataannya, pria itu berdiri di hadapan Lily beberapa detik, sebelum membawa Lily ke dalam pelukannya.Â
Melepaskan tautan tangan Lily dan melingkarkan di pinggangnya, David menyandarkan kepala istrinya di dadanya, dia berkata dengan halus, "Jangan bertengkar lagi, ya. Ayo kita pulang."
🌹🌹🌹
to be continue...
ha ha ha ha ha ha ha