
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK SEMUANYAAAA.🌹
🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN SEMUA SEBESAR BESARNYA. AJAK YANG LAIN BACA CERITA RECEH INI.🌹
“Tunggu sebentar, aku akan mematahkan knop pintu itu supaya kita bisa keluar. Lepaskan aku.”
“Aku takut petir, dan disini gelap.” Cantika tetap memeluk Ares, bukan untuk menggoda, tapi dirinya benar benar dipenuhi rasa takut saat ini.
“Maka dari itu aku akan membawamu keluar, Centini,” ucap Ares dengan pelan melepaskan pelukan Cantika dari tubuhnya. Bukan tidak ingin terus mendekap gadis itu dan membuatnya nyaman, tapi mereka benar benar perlu keluar dari sini. “Ayo lepaskan, bukankah kau anak baik?”
“Oke oke, tapi benda itu sepertinya mahal, Ares.”
“Aku bisa menggantinya nanti,” ucap Ares segera menaiki tangga kayu itu setelah Cantika melepaskan pelukannya.
Dengan sekuat tenaga, dia memukulkan patung itu pada knop pintu berbentuk bulat yang sudah karatan.
DUG!
DUG!
DUG!
Akhirnya, gagang pintu terlepas menciptakan bekas bolong di sana. Ares menelusupkan tangannya keluar dan mencoba mendorong pintu dari luar.
Berhasil! Akhirnya pintu terbuka. Yang mana membuat Cantika bersorak di bawah sana.
“Ares kau hebat, kau penyelamat, kau sempurna,” ucapnya memandang takjub pada pria yang kini mendekat ke arahnya. “Kau benar benar pria pejuang.”
“Oke, diam, aku harus menggendongmu,” ucap Ares menggendong Cantika ala bridal dan membawanya keluar dari ruang bawah tanah yang mengerikan itu.
“Kakekku tidak datang?” gumam Cantika melihat ke ruangan kerjanya.
“Dia sudah pergi, dan⸻ shiit!” umpatan itu keluar begitu Ares melihat pintu keluar dikunci dengan rantai besi melilit kemudian ditambah tiga kunci gembok. “Sepertinya penjaga tua itu pulang, dia bahkan merampok payung yang kau bawa.”
“Apa yang akan kita lakukan?”
“Akan aku hancurkan pintu lainnya,” ucap Ares mendudukan Cantika.
Perempuan itu berdesis kesakitan saat pakaian Ares mengenai luka di sikutnya.
“Apakah sakit?” tanya Ares panic, dia berjongkok di hadapan Cantika yang duduk di kayu kursi. “Kita harus mengobatinya dulu.”
“Tidak apa,” ucap Cantika mendorong pelan dada Ares supaya menjauh. “Aku ingin keluar dari sini, aku takut,” cicitnya.
“Aha! Lihat, kau benar benar ketakutan ‘kan? Tadi saja kau sok berani. Maka dari itu jangan pernah melangkahiku, apalagi aku ini tampan.”
🌹🌹🌹🌹
BRAK! CRAI!
Cantika menutup telinganya saat Ares benar benar memecahkan kaca di sana dengan mudahnya.
“Astaga, kita akan mati,” gumam Cantika melihat semua kekacauan ini. Dia kembali pasrah saat Ares kembali menggendongnya ala bridal dan membawanya keluar lewat jendela. “Bagaimana jika ada pencuri ke sini?”
“Aku akan menghubungi Holland.”
“Sahabat Daddyku,” jawab Ares yang menatap ke langit, ini masih hujan deras. Dan jarak antara tempat ini menuju mobil cukup jauh. Jadi, Ares kembali menurunkan Cantika untuk duduk di bekas tempat jaga kakek tua, kemudian membuka jaketnya untuk dipakaikan sebagai penutup kepala Cantika.
“Astaga, untuk apa ini?”
“Ubun ubunmu jika basah bisa membuatmu flu.”
“Tapi ubun ubunku tidak bolong.”
“Sudah diberi kebaikan terus saja bicara,” ucap Ares kesal dan kembali menggendong Cantika. Kemudian tanpa aba aba dia berlari menembus hujan, salah satu tangannya yang sudah memegang kunci mobil itu menekan tombol hingga kunci terbuka.
Dia langsung memasukan perlahan Cantika ke kursi penumpang, Ares benar benar merasakan kekhawatiran saat ini. apalagi melihat darah dari sikut Cantika kembali mengalir akibat terkena air hujan.
“Sekat dengan ini,” ucap Ares memberikan tissue.
Dia mengendarai mobil dengan cepat.
“Tenanglah, kau berkendara seperti orang kesetanan, Ares.”
“Apa kau pernah melihat orang berkendara sambil kesetanan?”
“Um.. tidak.”
“Aku harus bertanggung jawab dengan mengembalikan anak gadis orang dalam keadaan baik baik saja.”
“Ini hanya luka kecil, kakikku terkilir sedikit.”
Ares tidak menjawab, dia terus mengendarai mobil menuju rumah sakit.
“Membeli obat di apotek sudah cukup untukku……, tunggu, kau akan membawaku ke rumah sakit?”
Mobil hitam itu terparkir di bawah atap sehingga tidak kehujanan.
“Ini sudah di rumah sakit,” ucap Ares keluar dari mobil, dia kembali menggendong Cantika kemudian berlari ke dalam. “Ini seperti dalam drama bukan?”
“Apa?” tanya Cantika.
“Tolong! Anak gadis orang ini terluka! Tolong aku!”
Cantika melotot tidak percaya, apalagi saat Ares berbisik di telinganya, “Aku melihat adegan ini di film Oma, rasanya menyenangkan melakukannya sungguhan dengan perasaan khawatir ini.”
Dan tidak lama kemudian, beberapa perawat datang padanya.
🌹🌹🌹🌹
TO BE CONTINUE