Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Pengaman kepala



🌹VOTE🌹


Tangan David menggenggam tangan Lily saat mereka masuk ke apartemen. 


"Hari yang menyebalkan bukan?" Tanya David yang dibalas anggukan oleh Lily.


Dia membuka sepatunya, menyimpannya di rak samping dan melangkah lelah saat mengganti sandal dengan sandal rumah.


"Apa kau lelah, Sayang?"


Lily mengangguk menatap David yang berdiri menjulang di hadapannya. Tinggi dirinya hanya sebatas dada pria itu, ditambah dengan wajah Lily yang imut, dia terlihat semakin muda. Berbeda dengan David yang begitu maskulin, dia berperawakan tinggi dan besar, ditambah dengan jambangnya yang membuat dia terlihat seperti laki laki dewasa.


"Ingin aku gendong?"


Lily mengangguk, dia membiarkan suaminya menggendong dirinya menaiki tangga menuju lantai dua. Dia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher suaminya.


"Ayo kita bersihkan kaki."


Lily hanya menurut, biasanya dirinya yang memberikan instruksi pada David untuk membuka sepatu, membasuh tangan dan kaki sebelum menginjak ranjang.


"Ingin makan cemilan?"


David mencoba mencairkan suasana diantara keduanya.


Lily mengangguk pelan.


"Tunggu di sini, aku akan membuatkan salad buah untukmu, Sayang."


"Aku ikut."


David menatap heran.


"Kita buat bersama saja."


"Ingin digendong?"


Masih manja, Lily mengangguk.


Beruntung saja tadi Mecca segera menjelaskan semuanya, mengatakan kalau Lily adalah istri sah David. Jujur saja Lily sendiri tidak suka jika ada yang mengira mereka bukan sepasang suami istri.


"Aku potong buahnya, kau buat sausnya," ucap Lily mulai kembali berkata lagi.


"Siap, Boss."


Lily tersenyum melihat David yang mahir berada di dapur. Dia suka saat David memperlihatkan  jati dirinya sendiri. Dan semua itu hanya dapat dinikmati Lily seorang diri saja.


Tidak ada suasana mencekam, tatapan tajam dan wajah yang arogant. Yang ada hanya, "Kau tahu, Sayang, sangat langka pria bisa memasak. Kau sangat beruntung memiliki diriku. Aku bisa dibilang barang langka, atau barang antik."


Lily hanya terkekeh. "Ingin memakai anggur?"


"Ya, anggur termahal yang hanya bisa dibeli oleh diriku saja. Ditanam secara khusus dengan teknik canggih."


"Bagaimana dengan berry? Ingin memakainya?"


"Tentu saja berry juga, aku memesannya secara khusus dari pegunungan di Selandia Baru. Itu juga mahal, Sayang."


Saat David sudah selesai membuat sausnya, dia memberikannya pada Lily. "Ini, sudah selesai."


"Tunggu sebentar."


Dan ketika sedang menatap istrinya, tatapan David beralih pada papper bag asing di meja. "Sayang, apa itu?"


"Aku pikir milikmu."


David mendekati benda itu. Sebelum membukanya, ada surat yang berisi :


"Nyonya Muda, saya merasa sangat bersalah atas pakaian dalam merah menyala milik anda yang rusak oleh anda. Karena saya tahu anda sangat menyukainya, saya membuat replikanya dengan menambahkan sedikit manik manik. Jangan khawatir, Nyonya, pembuatnya adalah profesional sehingga memakai alat yang dijamin highenis."


David membukanya dan bersiul saat mendapati celana dalam yang berkilauan, dia bersiul. "Sayang, ayo bermain."


"Huh?"


"Kau mendapatkan hadiah dari Nina."


🌹🌹🌹


"Itu tidak cocok untukku."


"Itu sangat terlalu berkilauan."


David terus saja mengganggu Lily yang sedang memakan salad.


"Kenapa kau sangat ingin aku memakainya?"


"Aku belum menengok anak anakku sejak kemarin," ucap David mengusap perut Lily. "Mereka merindukan papanya."


Sebelum Lily berucap untuk membantah, David lebih dulu berkata, "Jangan khawatir, Sayang. Aku sudah memakaikan helm padanya tadi malam."


"Huh? Jangan bercanda."


"Tidak bercanda, aku bermimpi memberi hadiah anak anakku helm monokurobo."


Lily menatap heran pada David.


"Aku ingin melihatmu memaka ini, ayolah."


Lily yang sudah selesai memakan salad itu menarik napas.


"Ayo, Sayang. Kita habiskan waktu berduaan."


David membuka pakaiannya hingga telanjang dada, memperlihatkan tattonya yang ada di punggung, begitu hitam legam dihiasi siluet berwarna merah menyala 


"Ada apa? Kau suka tatto ku?"


Lily mengusapnya. "Apa tidak sakit melakukan ini?"


"Sebastian yang lebih parah, dia memilikinya hampir di dalam balutan jas nya."


"Sebanyak itu?"


"Jangan mengalihkan perhatian, ayolah pakai ini ya."


Lily merenggutkan bibirnya, dia mengambil pakaian itu.


Namun saat hendak naik ke lantai dua, David menghentikan.


"Di sini saja, Sayang."


"Huh?"


David diam sesaat memutar otak agar Lily melakukannya dengan suka rela, dia lebih suka saat istrinya menyerahkan diri dan pasrah atas kendali semuanua.


"Tidak jadi, ayo makan cokelat."


"Kenapa?" Lily mendekat dan kembali duduk di samping David.


"Tidak ada, sayang saja cokelat ini mulai meleleh."


Mereka memakan cokelat yang menjadi hadiah dari caffe di bawah.


David menelan ludahnya kasar melihat Lily yang belepotan. Tidak tahan, David menarik tengkuk istrinya dan menciumnya hingga dirinya juga merasakan cokelat itu.


David menghisap bibir Lily pelan dengan tangan mulai membuka pakaian istrinya.


"Hmmmpphhh… david…. Sebentar…"


"Aku ingin lama," ucap David kemudian menarik istrinya agar duduk di pangkuannya.


Lily seketika melotot merasakan apa yang dia duduki.


"Kau merasakannya, Sayang? Hartaku yang kau sebut tumor itu merindukanmu," ucap David kemudian mencium Lily lagi sambil membuka bra.


"Jangan khawatir, safety first. Anak anak sudah memakai helm, jadi jangan peringatkan aku dengan kata terpentuk."


"Tap--- hmppphh…."


🌹🌹


Tbc.