Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
S3 : ARES FERNANDEZ



🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK.🌹


🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹


🌹EMAK SAYANG KALIAN, SELAMAT MEMBACA. DAN AJAK YANG LAIN BUAT BACA INI YA KESAYANGAN EMAK.🌹


Ares membaca pesan dari Cantika dengan kening berkerut.


Centini : Aku akan berangkat bersama Kakek, ada yang harus aku lakukan dulu.


Awalnya Ares mengerucutkan bibir, dia merasa diacuhkan. “Apa ini? dia memilih Kakeknya daripada aku yang tampan?”


Kemudian satu notifikasi pesan kembali masuk.


*Centini :***Byeeee Ares yang tampan.


“Ha ha ha ha, dia mengakuinya,” ucap Ares baru melangkah menuju motornya.


Dia mengedarainya dengan kecepatan penuh menuju ke sekolah.


Karena Ares mulai malas sekolah, dia sengaja menyimpan motornya di luar gerbang supaya mudah dalam pembolosan. Toh jika dia bolos dan nilai jelekpun tidak akan berpengaruh apa pun padanya.


“Kenapa menyimpan motornya di sana?”


“Astaga, Centini! Kau mengagetkanku,” ucap Ares memegang dadanya yang berdetak kencang. “Apa yang ada di tanganmu itu?”


“Kenapa malah balik bertanya? Kenapa motormu di simpan di sini?”


“Agar mudah untuk bolos.”


“Kau sering bolos sekarang?”


“Dari dulu aku bolos,” ucap Ares mendekat karena penasaran apa yang ada di tangan Cantika. “Apa itu anak ayam? Kau menculiknya? Ibunya akan datang dan mematukmu, bodoh.”


“Aku menemukannya di parit, kasihan sekali. Aku tidak bisa meninggalkannya.”


“Lalu kau akan membawanya ke sekolah?”


“Tidak akan ketahuan,” ucap Cantika menutupinya dengan tangannya, dia mengusap anak ayam itu dengan ibu jarinya supaya diam.


Keduanya berjalan bersama memasuki lingkungan sekolah. “Tunggu, kau benar benar membolos?”


“Ya, sekolah membosankan.”


“Ares, nilaimu bisa jelek.”


“Yang penting wajahku tidak,” ucapnya mengeluarkan kaca dan menatap dirinya sendiri. “Lihatlah bagaimana aku sangat tampan, bagaimana bisa manusia setampanku benar benar ada?”


Saat berpapasan dengan beberapa siswa, Ares langsung menyembunyikan cermin kecil yang dipegangnya dan berjalan dengan aura dingin. “Aku akan ke kantin dulu, mau ikut?”


“Tidak, aku akan ke kelas.”


“Hidupmu membosankan, Centini.”


“Tunggu!” teriak Cantika. “Aku lupa memberitahumu ini.”


“Apa?” Ares berbalik.


“Laura sepertinya mulai menyukaimu, dia selalu menanyakan tentang dirimu.”


Ares terkekeh. “Tidak ada yang bisa menolak pesonaku, tidak pernah ada,” ucapnya sambil berjalan menjauh dan menyibak rambutnya ke belakang.


Yang mana membuat Cantika menggigit bibir bawahnya, matanya terlihat menahan tangis karena gemas. “Tuhan, dia sangat tampaaaaaannnnnn…. Kenapa aku masih menyukainyaaaaaa?”


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


“Ar, mau ke kelas gak?” tanya Samuel.


“Nanti,” ucap Ares yang sibuk memetik gitarnya.


“Nanti Pak Reta keliling bisa mampus, gue gak mau ya kena marah Nyokap Bokap lagi, gue mau ke kelas.”


Dan saat menatap ke belakang, ternyata Ares sudah tidak ada di sana.


“Sial,” ucap Samuel.


Saat Ares berjalan di lorong murid junior, dia melihat Cantika yang berkeliaran di sana. Dia menundukan kepalanya seperti mencari sesuatu di bawah kursi.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Ares menegakan tubuh Cantika dengan menarik tasnya. “Kenapa belum masuk kelas?”


“Anak ayamnya lepas,” ucap Cantika panic. “Dia berlari lari di sini tadi.”


“Ya sudah biarkan saja.”


“Bagaimana jika seseorang menemukannya dan menjadikan dia ayam kremes?”


“Tidak ada orang yang mau memakan anak ayam. Sana masuk, aku yang akan mencarinya.”


“Kau akan dimarahi.”


Namun, saat dirinya hendak mencari anak ayam, tiba tiba sebuah tangan menepuk pundaknya. “Bukankah hari ini bagian bapak mengajar dikelasmu, Ares?”


“Ehem, iya, Pak.”


Ares berjalan dengan guru yang ada dibelakangnya sedang mengikutinya.


🌹🌹🌹🌹🌹


“Sam, anter yuk.”


“Kemana?”


“Nyari anak ayam.”


Seketika satu kelas melihat ke arah Ares, termasuk pasukannya.


“Ar, lu ternak ayam apa gimana?”


“Nanti lah boss pulang sekolah. Ayam kampung ayam sayur? Kata bapak gue mudahan bisnis ayam sayur.”


Tanpa basa basi, Ares menarin punggung baju Samuel supaya berdiri. “Cepetan bantuin gue.”


“Kemana kita kemana?” Samuel kelimpungan dengan Ares yang menyeretnya dan membawanya ke lantai anak anak junior di lantai dua.


“Lu mau caper apa begimana?”


“Tadi si Cantika bawa anak ayam, terus lepas di lorong ini. bantuin gue cari.”


“Lu ngapain sibuk nyari, Ar? Lu suka sama dia?”


“Dia yang bantuin gue deketin Laura, Bambang. Cepetan.”


“Lu dari kelas itu, gue dari sini.”


“Oke,” ucap Ares memasuki kelas pertama.


“Ada anak ayam? Ada yang liat?”


“Tidak ada, Kak. Mungkin di lab,” ucap seseorang di kelas itu.


Kemudian Ares datang ke kelas kedua. “Ada anak ayam?”


“Anak ayam tidak ada, Kak. Tapi guru ada.”


Sial! Ares kembali membalikan badannya.


“Gak sopan kamu ya.”


“Lah, bapak kok masih di sini? Kan udah waktunya jam istirahat.”


“Emang udah istirahat ya?”


“Udah, Pak!” teriak satu kelas.


“Oh ya sudah, bapak keluar dulu.”


“Huuuuuuu!” murid murid itu menyuraki saat guru tersebut keluar. “Makasih, Kak Ares.”


“Kak Ares ganteng!”


“Kak Ares I love you!”


“Kak Ares! Aku sayang kamu!”


Ares menyibakan rambutnya ke belakang dan berhasil membuat para wanita di sana menjerit.


“Yoiii.”


Ares keluar dan hendak memasuki kelas lain, tapi dia lebih dulu melihat Samuel yang memegang anak ayam.


“Oi, lu nemu?”


“Ada di bawah kursi guru, untung gak gue injak.”


Ares menundukan kepalanya untuk melihat anak ayam di tangan Samuel.


“Hei, kenapa kau tidak bersuara?”


******!


“Ihhh, taiiiii,” ucap Ares bergidik ngeri sambil menjauh melihat ayam itu buang kotoran di tangan Samuel. “Kuning ihhhh.”


🌹🌹🌹🌹


TO BE CONTINUE