Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
S3 : ARES FERNANDEZ



🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK.🌹


🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN.🌹


🌹JANGAN LUPA AJAK YANG LAIN BACA CERITA INI JUGA YA.🌹


“Kak,” panggil Alden.


“Kenapa?” tanya Ares yang sedang bersiap di kamarnya, dia melihat adiknya yang mengintip di balik pintu.


“Sepertinya Mommy sakit.”


“Kenapa?” tanya Ares khawatir, dia memutar tubuhnya dan mendekati Alden. “Memangnya kenapa?”


“Semalam Alden mendengar Mommy teriak sakit, terus Daddy menggeram. Apa mereka kesurupan? Itu juga termasuk bagian dari sakit ‘kan?” tanya Alden dengan polosnya.


Ares langsung memasang wajah datar, dia kesal dengan daddy nya. “Tidak, kau akan mendapatkan adik.”


“Adik? Alden tidak jadi bungsu?”


“Tidak, sebentar lagi kau akan memiliki adik.”


“Apa proses pembuatan adik harus kesurupan dulu?”


“Itu bukan kesurupan,” ucap Ares frustasi. “Tanyakan saja pada Daddy dan Mommy.”


“Baiklah,” ucap Alden melangkah dengan santainya ke lantai bawah.


“Alden Sayang, duduk dekat Daddy mu dan minum susumu.”


“Apa Alden akan memiliki adik?” tanya Alden.


“Kenapa bertanya? Alden menginginkannya?” tanya David balik.


“Bukan, semalam Alden mendengar Mommy berteriak dan daddy menggeram. Kak Ares bilang itu proses pembuatan bayi, apa Mommy dan Daddy kesurupan sebelum membuat bayi?”


Seketika mata tajam David dan Lily menatap Ares yang baru menuruni tangga. “Apa?” tanya Ares terkejut. “Salah kalian tidak memasang alat peredam.”


“Alat peredamnya rusak.”


“Dad, kau bisa beli lagi. Kau miskin atau bagaimana? Uh…. Kalian membuat telinga suci anak ini ternodai.”


“Ares,” ucap David dan Lily secara bersamaan.


Yang mana membuat Ares terkekeh, dia duduk di samping David dan berbisik pada sang Daddy, “Kalau udah jadi jangan lupa tambah uang jajan Ares ya, Dad.”


David tersenyum dan menatap putra sulungnya. “Lampu hijau nih?”


“Asal tambahkan uang jajan Ares.”


David menjentikan jarinya seolah itu adalah hal yang mudah.


Dan yang terakhir turun adalah Athena, anak gadis itu sibuk berdandan sebelumnya.


“Ares, bisa antar Mommy ke toko bunga?”


“Toko bunga?” tanya Ares, karena seingatnya itu berlawanan dengan rumah Cantika.


“Atau kau akan menjemput pacarmu?” tanya David.


“Dad, dia bukan pacarku.”


“Ah masa, mana mungkin bukan pacar tapi selalu diantar dan dijemput,” ucap David sambil menyenggol bahu Ares menggoda putranya. “Nanti kena karma baru tahu rasa.”


“Ares tidak menyukainya, Ares menyukai tetangganya.”


“Oh… perantara saja ternyata. Awas nanti jatuh cinta padanya.”


“Mom! Daddy menggodaku!” teriak Ares pada Lily yang sibuk menyiapkan bekal Alden.


“Jadi, bisa tidak mengantar Mommy? Atau kau akan menjemput pacarmu?”


“Hei, apa maksudmu?” tanya David tidak setuju. “Kau berkata Daddy ini sudah tidak tampan?”


“Bukan aku yang bilang.”


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Ares berusaha menghubungi Cantika kalau dia tidak akan datang menjemputnya. Dalam notifikasi, tetap centang satu. Membuat Ares khawatir.


“Mommy curiga itu pacar.”


Ares buru buru menutup ponselnya. “Mommy, tidak sopan mengintip pesan,” ucap Ares dengan mata melotot.


Lily tersenyum menggoda. “Nanti juga jatuh cinta.”


“Tidak,” ucap Ares dengan tegas. “Ares menyukai wanita ini.”


Lily melihat foto foto yang diperlihatkan putranya.


“Dia blasteran?”


“Iya, belang belang.”


“Kenapa bisa menyukainya?” tanya Lily.


Yang mana membuat Ares terdiam beberapa saat. “Dia seksi dan…..”


“Dan?”


“Ares penasaran dengannya, dia perempuan pertama yang mengacuhkan Ares, Mom.”


“Itu bukan suatu kebanggan,” ucap Lily yang mencium pipi putranya. “Pergilah, nanti terlambat.”


“Oke, I love you, Mommy.”


Ares segera berangkat ke sekolah. Alasan dia tidak menjemput Cantika karena ini sudah siang, dan dapat dipastikan kalau Cantika pasti sudah berada di sekolah.


Karena Ares berjalan lambat dengan motornya, dia benar benar terlambat.


Satu satunya cara yang dia lakukan adalah memarkir motor di tempat khusus, yaitu warung kopi yang ada di pinggir sekolah. “Titip ya, Bang.”


“Siap, De. Telat lagi?”


“Males ketemu satpam.”


“Lah, biasanya juga suka diizinin masuk?”


“Konsekuensinya saya harus dengerin curhatan dia, Bang. Males,” ucap Ares melangkah ke arah belakang sekolah.


Di jalan rahasianya, Ares memanjat dinding lewat pohon jambu dan masuk tanpa diketahui siapapun.


Dia berjalan dengan santai, dan masuk ke dalam kelas.


“Hai, orang ganteng datang,” ucap Ares sambil menyibakan rambutnya. “Kenapa ngedadak bisu?”


Dan saat Ares membalikan badannya. “Eh, ada bapak. Sejak kapan di sini, Pak?”


“Gak sopan kamu ya.”


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


 


 


TO BE CONTINUE