Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Orang ketiga



🌹Ajak teman untuk membaca cerita ini🌹


David mengerutkan kening tidak merasakan lagi pelukan Lily, dia hanya mendapati Eta yang menyimpan berkas di meja.


"Eta."


"Tuan Muda, maaf mengganggu. Saya menyimpan berkas yang diberikan Holland."


"Mana Lily?"


"Ada di bawah."


"Suruh dia kemari." David beranjak hendak menuju kamar mandi.


"Tuan Muda."


David berbalik. "Ada apa?"


"Nyonya Dena ada di sini."


Seketika David terlihat kaget, tapi tidak mengatakan apapun. David mengisyaratkan Eta untuk keluar, sementara dirinya ke kamar mandi lebih dulu. Di sana David mencuci wajahnya, menatap tampilan dirinya di cermin. Mamanya datang, dan David tahu dia pasti akan ikut campur.


David tidak membenci Dena, dia hanya kecewa dengannya karena begitu mudahnya melupakan sang Papa yang telah meninggal. Dena menikah lagi dan memiliki seorang anak, lalu tinggal di Amerika dan melupakannya yang berada di Benua Asia.


Bersiap dengan apa yang akan terjadi, David turun ke lantai bawah. Matanya membulat melihat Oma dan Lily yang terlihat tersudutkan oleh Dena.


"Mama."


"Oh, My Boy," ucap Dena merentangkan tangan lalu berlari kecil memeluk David. "My Baby Boy, I miss you soo much."


David tidak membalas pelukan, dia hanya melepaskan. "Mama, what are you doing here? (Mama, mau apa ke mari?)"


Dena masih lekat dengan nada ejaan Amerikanya. "I came to see you, I heard you got married.  And you didn't invite Mama? (Aku datang untuk menemuimu, Mama dengar kau menikah. Dan kau tidak mengundang Mama?)"


"Kita bicara nanti, sementara itu jangan ganggu Oma atau Lily istriku," ucap David melewati Dena dan mendekati dua wanita berharganya. Dia mengusap kepala Lily. "Bawa Oma ke kamarnya, nanti aku menyusul."


"David," ucap Oma.


"Oma, ini bukan waktunya berdebat. Pergilah ke kamar, nanti David menyusul."


Lily melakukannya, dia membawa Oma ke lantai dua tepatnya ke kamar.


Meninggalkan David yang berjalan menuju ruang tamu diikuti Dena dari belakang.


"Wait for me, David.  My child, wait for Mama.  You're walking so fast. (Tunggu aku, David. Anakku, tunggu Mama. Kau berjalan cepat sekali.)"


David berhenti sesaat ketika tahu Dena hanya diam. "Hurry up, Mama, you are wasting my time. (Cepatlah, Mama, kau membuang buang waktuku.)"


Dena menggerutu, "That's not polite, you should have welcomed me, after all, this is my house, your father gave it to me. (Itu tidak sopan, seharusnya kau menyambut kedatangan Mama, lagipula ini rumahku, Papamu memberikannya pada Mama.)"


"Yes, if you don't remarry, you even get married three days after Papa died. (Ya, jika Mama tidak menikah lagi, bahkan Mama menikah tiga hari setelah Papa meninggal.)"


Dena terkekeh, dia kembali bicara bahasa Indonesia guna mengingatkan David akan masa kecilnya yang bahagia saat berada di Jakarta dengan kedua orangtua dahulu.


Dena duduk di sofa depan David.


"Kenapa Mama datang?"


"Mama mendengar kau menikah, Mama syok, makannya Mama datang."


"Kenapa peduli? Bukankah ketika aku sakit pun Mama tidak peduli?"


Dena menyembunyikan raut wajah kesalnya, dia berdehem. "David, Mama ingin yang terbaik untukmu."


"Maka pulang lah ke Amerika, Mama, rawat anak anakmu di sana. Kehidupanku sudah baik di sini."


"Tidak dengan istri jelek dan bodoh seperti dia."


"Namanya Lily, dia istriku dan dia tidak jelek juga bodoh," ucap David menahan kekesalannya. "Berhenti merendahkannya atau merendahkan Oma, Mama bukanlah siapa siapa di sini."


"David!"


"Pulang, Mama. Kembali ke Amerika dan rawat anakmu."


Dena diam, memperlihatkan jelas apa yang diinginkan wanita itu.


David menghela napas. "Aku sudah mengirimkan uang pada rekening, Mama. Itu cukup sampai natal tahun depan."


"Mama lelah, Mama ingin menginap di sini. Bukankah banyak kamar kosong? Kenapa kau sangat pelit."


David diam sesaat, dia tidak memalingkan mata dari wajah wanita yang seringkali meninggalkannya setelah Papanya meninggal.


"Hanya beberapa hari."


"Baik," ucap Dena berdiri. "Tapi Mama bebas melakukan apapun, karena ini rumahmu, dan kau adalah anakku. Jadi, Mama berhak atas rumah ini."


🌹🌹🌹


Lily tidak berhenti mengusap punggung Oma, Lily jelas melihat Oma sedih. Maka darinya, Lily memeluk Oma dari samping untuk menghangatkan tubuh wanita tua itu.


"Oma jangan sedih, Lily akan ada di sini menemani Oma."


Oma tersenyum, dia mengusap pipi Lily yang memeluknya. "Terima kasih, Lila."


Lily tidak berani mengoreksi, dia memilih tersenyum dan diam.


"Lila?"


"Ya, Oma?"


"Jangan dengarkan apapun yang dia katakan ya, kau adalah istri David. Kau akan mengandung putranya putrinya, kau akan menjadi istri David untuk selamanya."


Lily mengangguk. "Lily paham, Oma."


Lily kembali mengangguk perlahan.


Oma menarik napas dalam, dia memegang tangan Lily yang memeluknya. Mata Oma menatap ke atas, seolah mengingat kejadian yang telah berlalu.


"Dena itu bukan wanita yang baik, bukan Oma menjelek jelekannya, tapi itulah faktanya." Oma menelan ludahnya berat. "Dia mencintai pria lain saat bersama anakku, sampai anakku meninggal dan dia menelantarkan David. Beberapa kali David diajak ke Amerika, tapi di sana dia juga tidak diurus. Membuat Oma membawanya pulang ke Indonesia secara paksa."


Lily diam mendengarkan. 


"Oma kesal dia datang, dia pasti akan mempengaruhi David."


"Aku tidak akan terpengaruh, Oma," ucap David yang tiba tiba masuk.


Lily melepas pelukannya saat David menutup pintu.


"Dia sudah pergi?" Tanya Oma.


"Mama akan menginap, Oma."


Oma terlihat jelas sedih dan malas.


"Hanya untuk beberapa hari, Oma. Dia akan pulang segera. Oma tidak usah khawatir, dia tidak akan melakukan apapun."


"Kau tidak tahu ibumu bagaimana."


David menggeleng, dia ikut duduk di samping Oma. Kini Oma berada diantar David dan Lily.


"Aku tahu, Oma. Karena itu aku akan membuatnya cepat pulang, atau menginap di hotel."


"Bagus jika seperti itu."


Diam diam David menatap Lily yang mengusap tangan Oma.


"Aku meminta Eta untuk membawa makan siang. Sudah lama aku tidak makan di kamar Oma," ucap David membuat Oma kembali mengingat masa lalu saat David sangat betah tinggal di kamar Oma.


"Baiklah, kita makan siang bersama di sini."


Seperti dugaan, Eta datang dengan banyak makanan.


Siang itu, Lily, David dan Oma makan siang sambil menonton Tv di kamar Oma. Sambil bercengkrama ringan, sampai akhirnya berdebat karena Oma ingin menonton Chibi Maruko Chan, sementara David ingin menonton serial Barat. 


Sampai Lily berceletuk dengan suaranya yang pelan, "Kenapa tidak menonton acara dangdut saja? Menunjukan kita cinta Indonesia."


🌹🌹🌹


Sejak kedatangan Dena, Lily terlihat kehilangan rona kebahagiaannya. Dan David menyadari itu. Biasanya Lily malu malu saat memakaikan suaminya pakaian, kini tidak. Pikirannya terlihat melayang memikirkan sesuatu.


Mereka berdua telah mandi dan bersiap untuk makan malam.


"Apa yang Mama katakan padamu?"


"Tidak ada."


"Jangan bohong." David merangkup pipi Lily. "Jangan dengarkan apa yang dia katakan, percaya saja apa yang keluar dari mulutku, oke?"


Lily mengangguk paham. "Aku mengerti."


"Bagus, karena kau pintar, aku memberi imbalan dengan ciuman. Kemarilah."


Malu malu, Lily mendekat dan memberikan kecupan di bibir David.


"Sudah, ayo ke bawah dan makan malam. Jangan takut, aku ada di sampingmu. Kau adalah istriku."


"Aku mengerti."


Dengan tangan mereka saling bergenggaman, Lily dan David turun ke lantai bawah. 


David mengerutkan kening tidak melihat Oma.


"Eta, kemana Oma?"


"Nyonya Besar mengantuk, beliau makan malam lebih dulu."


"Dia tidak sakit kan?" Tanya David.


"Tidak, Tuan."


Di meja makan, tidak ada siapapun. Yang membuat Lily sedikit lega, karena pikirnya Dena akan makan malam di kamar.


Namun, kenyataannya Dena ternyata muncul dari pintu depan.


"David sayaaaang….," Ucap Dena dengan semangat, dia berlari kecil menuju David.


"Ada apa, Mama?"


"Ingat kata Mama kalau Mama punya calon menantu untukmu?"


Lily menunduk.


"Mama, hentikan ini."


"Tidak, tidak. Mama telah memilih wanita cantik dan berpendidikan yang berkualitas untuk istrimu dan calon ibu dari anak anakmu, dia ada di luar. Sebentar. Hei sayang! Masuk dan temui calon suamimu!"


Tidak lama kemudian seorang wanita dengan heels tinggi masuk, dan Lily tidak bisa menyebunyikan keterkejutannya. "Megan?"


Dena bertepuk tangan riang. "Dia adalah calon istrimu, Mama sudah membaca riwayat hidupnya. Dia sempurna untuk mengandung anakmu daripada wanita kampungan di depanmu."


🌹🌹🌹


to be continue...