
🌹VOTE🌹
"Etaaaa! Etaaaa! Yuhuuuuu!"
Eta bergegas naik ke lantai dua saat mendengar teriakan majikannya.
"Iya, Nyonya Besar?"
"Kau ini sekarang lambat ya."
"Maaf, Nyonya Besar. Saya tidak mendengar apa yang anda katakan."
"Astagaaaa…"
"Nyonya Besar kenapa tidak menggunakan bel untuk memanggil saya?"
Seketika Oma yang sedang memainkan ponselnya berhenti, dia berdehem. "Aku lupa. Tolong katakan pada Holland pesta pernikahan harus siap dalam seminggu."
"Baik, Nyonya Besar." Saat Eta akan melangkah keluar, dia tertahan oleh penglihatannya pada majikannya yang akhir akhir ini sering memainkan ponsel.
"Nyonya Besar, pelatih senam anda sudah datang."
"Biarkan saja, aku sedang sibuk, Eta. Pergilah, jangan sampai aku menyanyi agar pikiranmu diterangkan lagi."
Eta mengangguk, dia bergegas keluar untuk menghubungi Holland. Sayangnya saat Eta hendak menelpon, pria tua itu sudah datang ke mansion lebih dulu.
"Holland, apa kau sudah mendengar kabarnya?"
"Iya, aku ke sini untuk membawakan hiasan rambut brides maid."
"Ah, untuk Nyonya Besar?"
"Ya."
Dan tidak lama setelah Eta menerima itu, kembali terdengar teriakan, "Eta!!! Etaaaaa!"
"Iya, Nyonya Besar."
Eta naik lift, dia bergegas kembali ke kamar Oma.
"Ada apa Nyonya Besar?"
"Belikan aku diamond."
"Diamond?"
"Ya, cepat. Belikan aku 10.000 Diamond."
"Ba...baik, Nyonya Besar."
Eta kembali bergegas, beruntung di sana masih ada Holland.
"Tunggu, Holland. Nyonya Besar minta dibelikan 10.000 diamond."
"Apa? Untuk apa sebanyak itu?"
"Aku tidak tahu, akhir akhir ini dia sering main ponsel, sambil memiringkan ponselnya."
"Astaga," guman Holland. "Aku pikir buka diamond sesungguhnya."
"Lalu apa?"
"Mungkin saja diamond game online, kau bisa tanyakan lagi padanya."
"Baik."
Holland menunggu di sana berjaga jaga jika ada sesuatu yang diperlukan lagi.
Dan benar saja, tidak lama kemudian Oma menaiki lift dan berteriak, "Holland! Holland!"
"Ya, Nyonya Besar?"
"Kau pernah main FF atau ML?"
"Ya, Nyonya," jawab Holland ragu, dia bermain itu saat waktu senggang.
"Bagus, ayo mabar."
"Ya?"
"Iya, ayo mabar, aku belikan kau diamond, berikan user id mu."
🌹🌹🌹
Lily terdiam sambil duduk di kasur, dia menatap pintu kamar mandi yang tertutup. Lily menghela napas, dengan perutnya yang buncit dia mengetuk pintu.
"David, sini aku mandikan."
"Tidak usah, aku mandi sendiri."
Kalimatnya memang biasa, tapi Lily cemberut merasakan kekesalan David berdampak pada kata Sayang yang hilang.
"Aku tidak suka kucing."
"Baiklah."
"David, ayolah. Aku mandikan ya?"
"Tidak perlu."
Dengan mata terpaku pada televisi yang menayangkan sinema India yang belum tamat, Lily menunggu sarapan datang dan David yang ada di dalam.
Setelah selesai, akhirnya David keluar dengan handuk melilit di pinggangnya.
"Sudah memesan sarapan?"
"Sudah."
"Pesan apa?"
"Bubur bayam."
Mata Lily terpaku pada tubuh David yang liat dan berotot, begitu menggiurkan apalagi hormon kehamilan membuat segala yang dirasakan Lily sangat berlebihan.
"Kenapa kau menatapku seperti itu, Sayang?"
"Hem? Tidak, apa kau masih marah?"
"Aku tidak marah."
"Kau marah karena aku menggendong David."
Saat itulah David yang membelakangi Lily memejamkan matanya sesaat, ada rasa geli saat mendengar Lily menyebut nama kucing itu sama dengannya.
"Sayang, aku tidak suka kau memanggilnya seperti itu. Dalam bayanganku, aku merasa berubah menjadi makhluk itu lalu berada di pangkuanmu."
"Maaf, tapi namanya beda denganmu. Mau tau?"
"Cukup, Sayang." David kembali berpakaian.
"Namamu David Fernandez, nama kucing itu David Hercules."
"Astaga, Sayang, aku tidak peduli mau apa kepanjangannya. Yang penting aku tidak suka padaya. Tidak, tida tidak, ayo kita pulang setelah sarapan."
"Baik," ucap Lily dengan suara pelan.
David pikir Lily merasa sakit hati dengan ucapannya, padahal pada kenyataannya Lily tidak mempedulikan apa yang David bicarakan, dia hanya merasa lapar.
"Sayang, apa kau marah?"
Sebelum Lily menjawab, pesanan datang. Lily dengan cepat membuka pintu dan mempersilahkan makanan disajikan.
"Terima kasih," ucap Lily pada pelayan di sana. "David, ayo makan."
"Kau marah?"
"Tidak."
"Aku tahu kau marah."
Lily diam karena dia mengunyah bubur gandum sambil menatap layar televisi.
"Sayang…"
"David permisi, kau menghalangi Tuan Takur."
David berbalik menatap televisi, di mana di sana ada pria berkumis yang sedang marah marah.
"Ini Tuan Takur yang sering kau sebut sebut?"
"Iya, permisi, kau menghalangi."
"Kenapa kau menyukainya?"
"Dia baik hati walaupun ditindas oleh Inspektur Singh."
David menggeleng tidak percaya, dia segera menghubungi Oma di balkon.
"Oma, aku ingin Lily belajar lagi. Setelah senam dia les bahasa dan pengetahuan umum."
"Ada apa? Bukankah kau yang ingin membebaskannya dan ingin mengajarinya sendiri?"
"Tidak, Oma. Aku tidak tahan. Aku kalah."
"Siapa yang mengalahkanmu?"
"Tuan Takur, Oma, aku dikalahkan Tuan Takur."
"Dan kau tahu?"
"Apa, Oma?"
"Oma juga kalah, Oma gagal Boyaah. Sudah ya, nanti Oma hubungi lagi."
"Astaga, Oma? Oma?"
Tut.
Tut.
Tut.
🌹🌹🌹
Tbc.