Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
S2 : Tidak sama



🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK🌹


🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123🌹


🌹EMAK SAYANG KALIAN, SELAMAT MEMBACA🌹


"Apa Oma baik baik saja?"


"Apa kau melihat Oma tidak baik baik saja?" tanya Oma pada Ares yang sedang memijat kaki Oma yang duduk.


"Oma kesal pada Daddy?"


"itu adalah hal yang normal, kenapa kau tidak bermain bersama Athena diluar? Apa yang sedang Athena lakukan?"


"Aku pikir bermain bersama dengan pengasuh, Athena sedang suka merias. Kemarin dia merias wajah Nina."


"Kau tidak mau menjadi modelnya?"


Ares menggeleng. "Ares lebih suka membuat Oma merasa lebih baik."


"Oh cicit Oma yang tersayang, kau benar benar tampan."


"Astaga, seharusnya Oma menyadari hal itu dari dulu," ucap Ares kesal.


Yang mana membuat Oma gemas dan memilih untuk menarik Ares duduk di pangkuannya dan menciumi pipinya. "Ini bagian makan malam, ayo mandi dan bersiap. Minta Nina untuk menyiapkanmu."


"Baik, Oma." Ares segera berlaria keluar untuk menemui pengasuhnya.


Sampai dia mendapati pengasuhnya sedang didandani oleh Athena di beranda rumah.


"Kau belum mandi?" tanya Ares pada Athena.


"Belum, Aunty ini masih mau dirias."


Sampai pengasuhnya memberi tatapan pada Ares seolah minta tolong. Yang mana membuat Ares menggeleng tidak percaya. 


"Cepat, nanti Daddy datang dan Mommy. Mereka akan marah melihatmu belum mandi."


"Ales juga belum mandi."


"Ck," ucap Ares bergumam kesal. "Kau membuatnya terlihat seperti habis berkelahi."


Saat itu juga Athena terdiam dan menatap Ares dengan berkaca kaca. "Kemalin disebut milip balongsai, sekalang belkelahi. Ales jahattttt!"


Saat itulah Ares berkata, "Mandikan dia, Aunty. Ini kesempatanmu."


"Ayo, Nona. Kita akan bermain lagi setelah makan malam. Riasanmu bagus, aku tidak akan menghapusnya."


Ares menggelengkan kepalanya heran. Saat telpon rumah berbunyi, Ares berlari mendahului Eta. "Aku saja, Eta."


Ares suka mengangkat telpon, bukan karena pekerjaannya. Melainkan itu telpon antik yang selalu dia ingin mainkan.


"Hallo, dengan kediaman Nyonya Ambarani."


"Ares?"


"Uncle Sebastian?"


"Dimana Oma?"


"Oma dimamarnya."


"Berikan ponselnya pada Oma, Jagoan."


"Ini bukan ponsel, ini telpon rumah. Apa pernikahan mempengaruhi kerja otak seseorang ya?"


"Ares, berikan saja telponnya."


🌹🌹🌹🌹


"Wahh….. Thea sayang, Mommy merindukanmu," ucap Lily yang langsung menggendong Athena saat dia sampai di rumah Oma.


Dia memberikan ciuman di seluruh wajah putrinya.


"Siapa yang membuatmu malu hmmm?? Mommy merindukanmu."


Melihat itu, David mengusap rambut putrinya yang digendong oleh Lily. "Dimana Ares?"


"Menemani Oma di kamal," ucap Athena.


Membuat David dan Lilu bertatapan. 


Lily menurunkan Athena. "Duduk tunggu di sini, ya."


"Oke, Mommy."


David dan Lily berjalan menuju ke pintu hendak ke kamar. Tapi sebelum Oma menyadari keberadaan mereka, Lily mendengar tangisan Oma. Dengan Ares yang terus berkata, "Sudah, Oma jangan menangis."


Saat itulah Lily menarik David menjauh dari pintu. "Kau paham maksudku kan, David."


David terdiam. "Semakin tua seseorang, dia kembali ke masa kecil. Biarkan saja Oma melakukan apa yang dia mau, tapi berikan pengawalan. Paham kan? Kita tidak bisa selamanya melihatnya bahagia."


"Sayang jangan katakan itu, itu membuatku sedih."


"Maka dari itu… pilihannya."


"Akan aku pertimbangkan lagi."


Sementara itu, dikamar Oma sedang menangisi kuku c


antiknya yang terpotong.


"Sudah, Oma jangan menangis. Nanti tumbuh lagi."


"Lama sekali Oma memanjangkannya."


"Kecelakaan bisa terjadi, ayo makan. Ares lapar."


"Baiklah, Oma malah menangisi kuku Oma yang terpotong. Sekarang keluar duluan ya, nanti Oma menyusul."


"Baik, Oma," ucap Ares keluar duluan.


Baru juga beberapa langkah keluar, dirinya tiba tiba digendong oleh David. 


"Hallo jagoan Daddy!"


"Astaga, daddy!"


"Ada apa dengan Oma?"


"Oma menangis karena apa yang dia tunggu beberapa minggu hilang seketika, Daddy tahu bagaimana sedihnya Oma?"


David terdiam. "Oma menangis?"


"Dia menangis, sampai ada ingusnya."


"Wah, itu sudah termasuk parah."


"Memang sudah!"


"Daddy tidak tahu kalau Oma sangat ingin mendaki gunung."


Ares menyipitkan matanya. 


"Kenapa melihat Daddy seperti itu?"


"No, apakah ini alasannya Ares dilarang menguping?"


"Hah?"


"Tanyakan saja pada Oma," ucap Ares sambil berusaha melarikan diri dengan turun dari pangkuan. Kemudian berjalan dengan santai menuju ruang makan. "Ares lapar, Dad."


🌹🌹🌹


TBC