Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
S2 : Titisan sang Daddy



🌹MY IGEH is : @ RedLily123🌹


Oma menunggu kedatangan Nina sangat lama, dia sengaja menyuruh kedua cicitnya untuk pulang dulu dan membawa mainan di rumah mereka. Supaya tidak ada yang tahu kecuali dirinya dan Eta kalau Nina datang.


"Apakah dia sudah datang?" Tanya Oma.


Eta yang menatap keluar jendela menggeleng. Sampai lima belas detik kemudian, terlihat ada mobil masuk. "Saya rasa itu Nina, Nyonya Besar."


"Bawa dia ke sini, cepatlah!"


"Baik."


Eta keluar dari kamar majikannya, dia bergegas menuruni tangga untuk menyambut Nina di sana. "Nyonya Besar sudah menunggu."


Nina yang tidak banyak bicara hanya mengikuti dari belakang. Sampai Eta berhenti di depan pintu dan memberi isyarat agar Nina masuk sendiri.


"Tunggu," ucap Nina saat Eta akan pergi.


"Ya?"


"Bawakan aku lemon teh, tolong. Terima kasih."


Lalu Nina berbalik kembali menghadap pintu, mengetuknya sebagai tanda dia telah datang.


"Masuklah."


Nina melakukannya. "Nyonya Besar."


"Nina! Masuklah cepat, aku menunggumu dari tadi. Cepat datanglah ke sini."


Nina melakukannya, dia duduk di sofa yang berlawanan dengan Oma. "Anda butuh bantuan saya, Nyonya?"


"Ya, kau mantan intel?"


"Hanya tentara yang berjaga di perbatasan."


"Bodo amat, aku ingin kau mencari pria ini."


Nina mengambil fotonya, dia tahu siapa dalam foto itu. "Profesor Rio?"


"Ya." Oma menjawab malu malu, dia takut Nina akan tahu alasannya.


Tapi, itu bukan urusannya. Nina hanya mengangguk dan berkata, "Saya akan mencarinya."


"Dalam waktu satu minggu."


"Dengan bayaran dua kali lipat."


"Astaga," gumam Oma. "Baiklah."


"Dan dibayar setengah di muka."


Oma berdecak. "Pantas saja David selalu kehilangan uang untuk biaya keamanan Lily."


"Bagaimana?" Tanya Nina memastikan.


"Baiklah! Aku bahkan akan membayarnya di kepalamu jika perlu."


"Ini nomor rekeningnya, Nyonya."


Oma tidak percaya melihatnya, membuat dia segera membuka ponsel dan mengirim uang ke sana. "Sudah? Sekarang mulai pekerjaanmu."


"Baik." Nina berdiri.


"Ini teh lemon dingin untukmu," ucap Eta yang baru saja hendak masuk.


"Tidak, itu untuk Nyonya Besar. Dia sepertinya kesal."


Dan benar saja, saat Eta masuk.


DUTTTTTTT!


Oma kentut cukup keras. Dia mendesah, "Astaga, kentut memang jawaban segalanya. Terima kasih, Eta. Kau tahu aku ingin ini. Kau boleh pergi."


"Baik, Nyonya."


"Astaga bau," gumam Oma pada aroma tidak sedap. 


Dia menatap ponsel mendapat panggilan, di sana tertulis nama David.


"Hallo? Apa?" Tanya Oma seketika. "Antar saja anak anak ke sini, kalian akan membuat adonan bukan?"


"Oma, sebenarnya apa yang Oma perlihatkan pada anak anakku? Kenapa Thea sampai tau jurus tapak geni milik Oma?"


Seketika Oma tertawa. "Astaga, dia ingat ternyata."


"Ingat? Apa yang kalian biasa tonton di sana?"


"Hei, cintai produk dalam negri. Tentu saja Oma menonton Angling Dharma, Wiro Sableng, dan Mak Lampir juga sebagainya. Itu tanda kita cinta Indonesia."


"Tapi itu bukan untuk anak anak. Astaga, Oma…."


"Sssssshhhuuuttt diam kau! Apa kau ingin putramu terus saja menonton ponsel atau saling menjahili satu sama lain? Tapak geni dan Nyonya Gendeng Permoni selalu membuat mereka diam. Jadi sudahlah, lagipula itu produk Indonesia."


🌹🌹🌹


Lily tersenyum melihat Ares yang berlari menangkap kelinci. Berbeda dengan adiknya yang sedang menyusun mainan masak masakannya.


David tentu saja usil, dia mengganggu kesenangan keduanya.


"Ares, ayo main bola bersama Daddy," ucap David memainkan bola di kakinya.


Tapi putranya tidak menghiraukan. 


"Ares?"


"No."


Lalu David berpindah. "Hei, Thea! Ayo main bola bersama Daddy."


"No!"


"Astaga," gumam David. "Mereka mengacuhkanku."


Sampai akhirnya terbesit sebuah ide, David tiba tiba bertingkah seperti seorang zombie. "Aku adalah zombieeeee….."


"Aaaaaaaa!" Teriak kedua anaknya berlarian.


Lily menggelengkan kepala melihat ketiganya akhirnya bermain kejar kejaran. "Hati hati, jangan ke kolam ikan! David! Perhatikan langkah mereka!"


"Aku zombieeee….."


"Dasar zombie," gumam Lily yang selesai menghidangkan makanan di sana. "Makanan sudah siap! Kemarilah!"


Dan keduanya masih berlarian, sampai akhirnya Ares jatuh dan kakinya terluka.


"Huaaaaaa! Mommy…. Hiks… daddy jahat!"


Lily menarik napas dalam melihat Ares yang menolak digendong daddy nya. Lily mendekat dan membantu Ares bangun. "Tidak apa, lukanya akan sembuh."


"Hiksss… daddy jahat."


"Iya, daddy jahal," tambah Athena.


"Tidak, Daddy hanya ingin bermain bersama kalian. Sekarang temui Nanny dan ganti pakaian. Lihat, kalian kotor. Setelah itu kembali ke sini, Daddy kalian akan membuatkan bento."


"Really?" Tanya Ares semangat, dia menatap David yang terpaksa mengangguk. "Really, Daddy?"


"Sure, ganti pakaian kalian."


Dan keduanya kembali berlari, meninggalkan David yang menatap penuh tanya. "Bento? Buatanku selalu mereka olok olok."


"Tapi mereka bahagia, David. Aku akan membantu," ucap Lily menggenggam tangan suaminya.


Dia menyiapkan makan siang untuk anak anak dengan berbagai bentuk.


"David, aku pikir para burung itu tidak boleh tinggal di sini lagi."


"Apa ada masalah, Sayang?"


"Kotoran mereka suka di mana mana. Meskipun ada pembersih, tetap saja aku kesal. Seperti aku sedang menjemur, mereka membuang kotoran di baju."


David mengangguk angguk. "Bagaimana jika mereka rindu burung burung itu?"


"Kita bisa pergi ke kebun binatang." Dan Lily bertanya dengan malu malu, karena ini hanya untuk membujuk David. "Uangmu masih banyak kan?"


"Oh astaga! Uangku banyak, Sayang. Si tampan dan baik juga kaya ini akan melakukan apa pun untukmu."


Dan tidak lama kemudian, "Daddy!"


"Di mana kakakmu, Thea?"


"Dia mengejal kelici duwu."


Benar saja, Ares mengejar kelinci kesayangannya sampai ke gerbang depan. Di mana dia melihat seorang anak perempuan sedang kebingungan di sana.


Ketika Ares mendekat, penjaga rumah bertanya, "Anda mau ke mana, Tuan Muda?"


"Haya di sini," jawab Ares. "Hei, you!"


Anak yang umurnya lebih tua darinya menengok. "What?"


"Kau tersesat? Hutan di luar rumah ini milik daddy ku."


"Aku hanya menumpang menunggu aunty, penjagamu sudah mengizinkan."


"Mau kelinci?"


"No."


"Hei, ini kelinci mahal tau," ucap Ares dengan wajah datarnya yang lucu.


🌹🌹🌹


TBC