Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Rencana Gila



🌹VOTE🌹


Sebastian memeluk batang pohon kelapa saat Luke mulai naik dan berdiri di atasnya.


"Lakukan dengan cepat, Luke!"


"Sebentar! Peluk semakin erat! Kau banyak bergerak."


Sementara David di sana menyilangkan tangannya menunggu gilirannya. "Cepat!"


"Luke, berdiri yang benar. Jangan injak bahuku!"


"Lalu apa yang aku injak? Kepalamu?"


"Sialan! David cepatlah!"


David mematikan rokoknya, dia mulai naik dengan menginjak beberapa bagian tubuh Sebastian.


"Bass peluk semakin erat, kau banyak bergerak."


"Batangnya terlalu besar!"


"Peluk!"


"Aaaa!" Luke berteriak saat David menjadikan pantatnya sebagai pegangan. 


"Diamlah kalian!" Teriak David yang mulai menaiki Luke.


"Aku merasa mulas," ucap Luke.


"Jangan buang angin, aku dibelakangmu!" 


"Sialan cepat!" Teriak Sebastian saat kedua temannya berdiri di bahunya. "Cepat sebelum kalian membuatku pendek."


David berdecak. "Bisakah kau santai?"


"Ya, kau sangat tida rileks," ucap Luke menambahkan.


"Yang kalian duduki itu bahuku!"


"Ck." David mulai naik.


Dan Luke yang tidak memeluk erat batang pohon kelapa hampir membuat David terjungkal.


"Luke!"


"Pelukanku!"


HAP.


Luke kembali memeluk batang itu. "Baik, naik ke bahuku."


"Cepat!"


"Sabar, Bass."


David melakukannya. Hingga akhirnya dia berhasil dan duduk di bahu Luke.


Luke merasakan beban yang berliku. "Kenapa harus duduk? Tidak berdiri saja?"


"Jika berdiri terlalu tinggi."


"Cepat!"


BUG!


BUG!


BUG!


BUG!


Empat buah kelapa muda akhirnya didapatkan.


"Cepat turun!"


"Sebentar." David mulau turun, hingga akhirnya dia berhasil. Disusuk Luke yang meloncat, Sebastian melangkah gontai menuju teras villa dan merebah di sana.


"Bebanku, astaga sialan kalian."


"Bass, ayo ambil dan bawa ini."


Sebastian menggeleng tidak percaya melihat dua temannya yang malah ketawa ketawa. "Nasib orang tua."


"Bass!"


Dan tidak lama kemudian, penjaga villa datang dengan membawa tangga. "Eh, sudah, Tuan? Wah Tuan hebat sekali memanjatnya."


"Terima kasih, Mang. Bawa ini ya."


David melewati Sebastian. "Ayo, kau ingin air kelapa tidak?"


"Luke, gendong aku," ucap Sebastian saat Luke melewatinya.


"Aku ingin menggendong bayi, bukan orang tua."


🌹🌹🌹


Amerika.


Suara teriakan pertengkaran pasangan membuat seorang anak yang sedang bermain game menutup telinganya kesal. Setelah pertengkaran mereka berakhir, remaja berusia seperempat abad itu keluar.


"Can you be quiet?  I'm playing game. (Bisakah kalian diam? Aku sedang bermain game.)"


Sang pria yang menjadi kepala keluarga di sana pergi, meninggalkan Dena dengan segudang frustasinya. "Shit! (Sial!)"


"Mama, if Papa makes you dizzy, just leave him. (Mama, jika Papa membuatmu pusing, tinggalkan saja dia.)"


Dena menatap putranya jengah. "Take care of your little sister, and go away from Mama. (Urus adik adikmu, dan pergi dari hadapan Mama.)"


"What else do you want?  Anyway, you are not married, just leave him. (Apa lagi yang Papa inginkan? Sudahlah, lagipula kalian tidak menikah, tinggalkan saja dia.)"


"It's not that easy, your dad keeps a lot of secrets.  He can tell David. (Tidak semudah itu, Papamu menyimpan banyak rahasia. Dia bisa memberitahukannya pada David.)"


"Saudaraku? Apa yang dia rahasiakan?"


"Kau tidak perlu tahu, Papamu ingin lima ratus ribu dollar untuk bermain judi."


"Tidak heran uang dari David habis, dia menghabiskannya?"


Dena frustasi, dia mengambil mantel.


"Kau mau ke mana, Mama?"


"Jaga adik adikmu."


Dena segera mengendarai mobil menuju pusat perbelanjaan. Bukan untuk belanja, tapi untuk menemui seseorang yang bekerja di sana. Uangnya cepat habis oleh kekasihnya, semua uang dari David selalu dihabiskan.


Apalagi Dena memiliki enam anak dari hubungannya yang sekarang, uang David tidak cukup. Jika dia meminta lagi, David tidak akan memberi. Dena tahu David membencinya, dia juga tidak menyalahkan hal itu.


Menemui seseorang, itu adalah Megan. Melihat kedatangan Dena, Megan terkejut. "Apa yang kau lakukan di sini?"


"Ikut aku sebentar," ucap Dena menarik tangan Megan keluar dari tempatnya bekerja.


"Jangan ganggu aku lagi, gara gara dirimu aku tidak bisa masuk ke dalam negaraku sendiri."


"Aku punya ide."


"Aku tidak ingin ikut."


"Megan, kau bisa mendapatkan segalanya jika bersama David."


"Aku dengar istrinya sedang hamil."


"Ya, jika dia keguguran, David tidak akan mencintainya lagi."


"Dasar gila," ucap Megan hendak masuk lagi.


Tapi Dena menahan. "Tunggu, aku yakin ada kelemahan wanita itu. Lihat dirimu sekarang, kau miskin dan jelek. Ayo kita ke Indonesia. Aku akan menangani semuanya, aku hanya butuh kelemahannya."


Megan diam berpikir.


"Ayolah, aku yakin kau akan menyukainya. Kau akan kaya dan bisa kembali ke tempat asalmu. Ayo lakukan ini, cukup beritahu aku apa kelemaham wanita itu."


"Aku tidak tahu."


"Megan megan, maafkan aku. Mama janji kau akan menjadi istri David. Ayo aku mohon, pasti ada kelemahannya. We can do that. Ayo beritahu aku."


"Sebenarnya, dia dibuang oleh orangtuanya."


"Orangtuanya?"


Megan mengangguk.


"Di mana orang tuanya?"


"Aku rasa di China. Ada apa?"


"Aku akan membawanya saat bersamaku ke pernikahan mereka dan membuat istrinya keguguran."


"Kau gila!"


Dena kembali menahan tangan Megan. "Aku janji tidak akan melibatkanmu, cukup beritahu aku di mana alamatnya. Aku mohon."


🌹🌹🌹


Tbc.