Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
S2 : Nama Calon Bayi



🌹VOTE YEEE GAISSS🌹


Rindu akan sentuhan istrinya, rindu akan ciuman dan kasih sayangnya. Kali ini David yang tumbang dan Lily yang terbangun setelah dua jam mereka bersama sama.


David sebelumnya sudah menyuruh anak anak bermain bersama dengan pengasuh, dan juga meminta Oma untuk tidak datang dulu meski mereka pulang ke rumah lebih awal.


Lily mengusap perutnya yang buncit, dia bergerak bangun.


"Sayang, kau mau ke mana?" Tanya David yang ikut terbangun.


"Aku akan mandi."


"Ini belum sore."


"Aku ingin ke suatu tempat."


"Ke mana?" Tanya David sambil duduk, yang tidak sengaja membuat handuknya merosot.


Hampir memperlihatkan batang kejantanannya, yang mana membuat Lily berpaling malu.


David yang sadar akan hal itu terkekeh. "Astaga Sayang, kau sudah sering melihatnya."


"Berhenti mengatakannya," ucap Lily malu malu. "Aku akan mandi."


"Kita mandi berdua."


"Apa? Aku ra--- David!" Lily terkejut saat suaminya tiba tiba mengangkatnya dan membawanya ke kamar mandi.


Lily menyembunyikan tubuhnya tatkala beberapa bagian terekspos bebas.


Saat David mendudukannya di westafel, baru Lily menutupi bagian tubuhnya dengan handuk.


"Tidak lecet kan?" Tanya David dengan memamerkan wajah iseng.


Yang mana membuat Lily memukul bahu suaminya.


"Aku serius, Sayang. Itu tidak sakit bukan?"


"Tidak," jawab Lily pelan. "Hanya pegal."


"Tidak khawatir terpentuk dengan kepala bayi?" Tanya David dengan lelucon.


Yang mana membuat Lily mencubit perut liat suaminya.


"Astaga itu sakit."


Lily cemberut.


"Baiklah, Sayang. Ayo kita habiskan waktu berduaan sebelum anak anak bosan dan mencari kita."


Lily membiarkan David mengangkat lagi tubuhnya dan merendamnya di air hangat. Rasanya sangat hangat dan menenangkan untuk beberapa hari yang melelahkan.


Saat sedang berendam, tangan David mengusap punggung istrinya dengan busa sabun. Dan beberapa kali mencium puncak kepalanya.


"David?"


"Iya, Sayang?"


"Aku ingin pergi ke makam ibumu," ucap Lily dengan hati hati. "Bolehkah?"


"Tentu, Sayang. Apa pun yang kau mau."


"Aku serius, David."


"Kau boleh menemuinya, Sayang."


"Terima kasih."


"Sekarang…..?"


"Sekarang apa?"


"Bisakah aku memulainya lagi?"


Lily menegang terkejut, usia David yang hampir 40 tahun tidak membuatnya lemah dan layu.


"Sayang?"


"Apa yang kau pikirkan?"


"Tidak ada."


David tersenyum menyeringai. "Pasti kau membayangkan kalau aku kembali menciumu bukan? Jangan khawatir, Sayangku. Aku hanya milikmu."


"Aku tidak mengkhawatirkan apa pun."


"David….."


🌹🌹🌹


Sesuai perkataannya, Lily diantar suaminya ke makam sang ibu. David mengawasi istrinya dari jauh yang sedang menatap patung malaikat di atas nisan Dena.


Di sana Lily duduk di pinggiran batu. Dia meletakan bunga Lily yang dibelinya.


"Dena," ucap Lily seolah di sana mertuanya mendengarkan. "Sampai meninggal pun kau masih membenciku. Tidak apa, lakukan saja apa yang membuatmu bahagia. Jangan khawatir, apa pun yang kau lakukan, rasa sayangku pada David tidak akan berkurang."


Setelah mengatakan isi hatinya, Lily kembali melangkah mendekati suaminya.


Dia menarik napas dalam. "Ayo pulang."


David diam, dia tersenyum sebelum menarik istrinya ke dalam pelukan. "Sayangku, jangan khawatirkan apa pun. Dia membencimu, tapi itu tidak menggoyahkan rasa sayangku. Aku hanya bisa berdoa, semoga Tuhan memberinya pengertian dan menjelasan betapa baiknya dirimu."


Lily tersenyum dalam pelukan suaminya. Dia mengangguk paham. "Ayo pulang, anak anak menunggu."


David mencium puncak kepala istrinya sebelum menuntunnya. Dalam langkahnya, David beberapa kali mengusap perut istrinya. "Oma akan datang malam ini. Bagaimana kalau kita beli macaron kesukaan anak anak?"


Lily mengerutkan keningnya. "Oma yang akan datang bukan? Kenapa membeli makanan kesukaan anak anak."


"Kau tau Oma tidak jauh dari anak anak, dia kembali ke masa itu. Dia menyukai macaron."


"Baiklah, tapi aku malas turun."


David terkekeh. "Sayang, apa kau lupa siapa suamimu? Aku paling bisa diandalkan."


Dalam perjalanan, David lebih fokus pada perut istrinya. Dia mengusapnya berulang kali merasa tidak sabar menanti anak ketiga.


"Aku tidak sabar menunggunya keluatr."


Lily tersenyum. "Apa kau ingin anak laki laki atau perempuan?"


"Apa saja, asalkan bayi dan dirimu sehat selalu, Sayang."


"Boleh aku memberinya nama sekarang?"


David diam sebagai jawaban. Kenyataannya dia ragu memberikan izin pada istrinya untuk memberi nama pada anak anak. David takut Lily memberinya nama yang sedikit aneh.


"David?"


"Ya?"


"Apa boleh jika nanti dia lahir aku yang memberinya nama?"


"Nama apa? Beritahu aku nama apa yang akan kau pakai, Sayang."


"Aku masih berfikir. Jika kau memberi izin aku akan memikirkan lebih jauh lagi."


David kembali bungkam.


"David?"


"Hem?"


"Boleh atau tidak? Apa kau takut aku memberinya nama aneh?"


"Tidak, Sayang. Kau boleh memikirkannya."


Lily tersenyum, "Aku rasa awalan dari huruf K bagus."


David melotot. "Jangan bilang nama anak kita nantinya Katemi, Sayang."


🌹🌹🌹


TBC