Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Dua dewa kecil



🌹VOTE DONG GAIS🌹


🌹My instagram is.. : @Redlily123🌹


Oma sangat panik saat itu. Untung saja Nina dan Eta selalu setia mendampinginya. Juga Rio yang merupakan sekretaris David yang telah menyiapkan semuanya.


"Nyonya Besar," ucap Rio datang.


"Bagaimana? Kau sudah bilang pada dokter kalau David menyetujuinya?"


Rio mengangguk, membuat Oma lega. "Apa aku bisa menemui Lily sekarang?"


"Ada waktu dua puluh menit sebelum operasi dilakukan, Nyonya."


"Baiklah, Eta kau ikut aku. Dan Nina, kau siapkan makanan dan kebutuhan bayi nanti. Rio, kau jaga agar media tidak tahu."


"Baik, Nyonya Besar."


Diikuti oleh Eta dari belakang, mereka menuju ruangan VVIP tempat Lily sebelumnya diperiksa oleh dokter. Tadi mereka tidak diperkenankan masuk, dan sekarang keadaab Lily tidak separah sebelumnya.


"Lily…."


Lily menengok dan menatap kedatangan Oma. Dia tidur meringkuk karena berat jika terlentang. "Oma…, aku ingin menelpon David."


Oma mengusap rambut Lily, dan segera melakukan apa yang diinginkan cucu menantunya. 


Oma melakukan video call pada David.


Dan akhirnya, David mengangkat. "Oma, bagaimana keadaan istriku? Di mana dia? Apa sudah masuk ruang operasi?"


"Diamlah, cucu tengik. Dia ingin bicara denganmu."


Oma mengarahkan layar ponsel pada Lily yang tertidur.


"David…."


"Sayangku…., Maaf aku tidak di sana."


Lily tersenyum, dia menatap bagian belakang David. Ada badai besar di sana, yang membuatnya mengerti kenapa kali ini kepulangannya juga terhambat.


"Maafkan aku."


"Dimana kau?" Tanya Lily dengan suara pelan.


"Di bandara, aku menunggu cuaca membaik."


"Jangan pulang jika cuaca buruk. Tunggu sampai matahari terbit, lalu setelah itu datang padaku."


"Sayang…., Maafkan aku. Aku ingin sekali memeluk kalian saat ini."


"Kau sedang melakukannya." Lily meneteskan air mata menatap wajah tampan suaminya.


Selama sebulan dia tidak mendengar semua kenarsisan David, kejahilannya dan semua kasih sayangnya. "Saat kau pulang anak anak kita akan lahir."


David menggeleng di sana. "Suruh mereka jangan keluar, aku akan segera pulang."


Mendengar hal itu, Oma menyahut, "Kau bodoh atau apa?! Istrimu sedang mulas dan kau menyuruhnya tidak mengeluarkan anak anakmu?! Haruskan Oma membentuk palang merah di sana? Perboden atau zebra cross?!"


"Astaga, Oma! Aku hanya melihat mulutmu," ucap David saat layar ponsel memperlihatkan mulut Oma.


Oma yang kesal kembali memperlihatkan layar ponsel pada Lily. "Maaf, Lila. Bule tengik itu tidak peka."


Lily tersenyum melihat pertengkaran keduanya, dia kembali menatap David. "Jaga diri di sana."


"Sayang…."


Dan saat itulah perawat datang, "Maaf, Nyonya Lily harus segera ke ruang operasi, kami akan membawanya."


Oma mengangguk, dia membiarkan Lily pergi setelah dia melambaikan tangan pada suaminya. 


Di sana David masih melihat sampai Lily hilang di balik pintu.


"Oma?" Panggil David.


"Apa?"


"Aku tidak bisa melihat wajah Oma, aku seolah menatap tembok."


"Astaga, kenapa kau tidak bilang bahwa kau merindukan wajah cantik Oma?" Tanya Oma membalikan ponsel.


Oma berdecak. "Kau mau apa?! Jangan macam macam dengan bibir seksi Oma sebelum Oma membuatmu jadi trending topic dan mengalahlan sensasi Nikita Mirzani!"


"Tidak, Oma…," ucap David. "Aku butuh Oma sebagai Owner Lambe Turah."


🌹🌹🌹


Badai belum juga reda sampai dini hari di Amerika, cuaca semakin memburuk.


David berdiam diri di balkon menunggu cuaca membaik, tapi sepertiny tidak ada tanda tanda. Apalagi penyiar berita memberitakan bahwa badai ini akan terjadi selama seminggu ke depan.


"Tuan Muda?"


"Kau mendapat kabar baik?" Tanya David berbalik menatap Holland.


"Maaf, Tuan Muda. Saya membawa dua kabar buruk."


"Siall," gumam David, dia kembali berbalik menatap badai di luar. "Jangan beritahu aku."


Holland masih berdiri di sana, pria yang menjadi majikannya sedang menatap berkala ponselnya. Dia menunggu kabar baik dari Oma dan istrinya.


"Tuan Muda?"


"Baik, beritahu aku."


"Hakim kembali menunda pembacaan keputusan dikarenakan beberapa hal. Dan tiga hari ke depan bukan hanya ada badai petir, tapi juga tornado. Kita tidak bisa pergi."


David memejamkan matanya menelan informasi itu di sana. "Pergilah, Holland."


"Baik, Tuan Muda."


Meninggalkan David di sana yang memejamkan matanya, dia masuk dan meminum beberapa teguk alkohol. Sambil merokok, David membiarkan suara petir dan suara televisi saling bersahutan.


Untuk yang kesekian kalinya, David menatap ponsel menunggu berita.


Sampa Rio menelpon, David mengangkatnya segera.


"Beritahu aku, Rio."


"Nyonya Muda selesai dioperasi. Selamat, Tuan Muda, anda mendapatkan satu anak laki laki dan satu anak perempuan. Mereka selamat dan sehat, begitu pun dengan ibunya."


David memejamkan mata sambil tersenyum senang. "Bisa aku melihat mereka?"


"Masih berada di dalam untuk pengoptimalan, Tuan Muda."


"Baiklah, beritahu aku nomor rekeningmu."


"Ya, Tuan?" Rio terdengar heran.


"Karena kau memberitahukan ini, aku akan mengirimmu hadiah."


"Baik, Tuan."


Dan David tidak main main, setelah telpon terputus, David mengirimkan uang 3 millyar untuk Rio.


Setidaknya dia sekarang lega mendengar ketiganya selamat dengan baik. David hanya tinggal menunggu telpon dari Oma.


Hingga beberapa jam ke depan, David tidak tertidur. Sampai pagi datang dengan badai masih ada, David tetap membuka matanya.


Sampau akhirnya Oma menelpon.


"Oma!"


"Astaga, telinga Oma hampir pecah! Diamlah, Oma akan gantikan dengan Video Call."


David menunggunya dengan sabar, sampai dia melihat istrinya yang terbaring sedang tersenyum, dengan kedua sisi di sana ada bayi.


"Sayangku…..," ucap David dengan mata berlinang. "Astaga…., bayi bayiku yang rupawan dan kaya raya, ini Daddy, Sayang."


Lily tersenyum. "Aku belum memberi mereka nama, kau yang akan melakukannya, David."


David tersenyum bahagia.


"Si jagoan akan memiliki nama Ares Demetrio Fernandez, dan putri kecil kita akan memiliki nama Athena Haidee Fernandez."


🌹🌹🌹


Tbc.