Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
S3 : ARES FERNANDEZ



🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK SEMUANYA.🌹


🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN SEMUA. JANGAN LUPA AJAK YANG LAIN BACA KARYA RECEH EMAK INI YA.🌹


Motor sport itu berhenti di depan sebuah rumah yang asing, yang jarang dia datangi. Melihat ke rumah di sampingnya, Ares bertanya tanya apakah Cantika sudah berangkat sekolah atau belum? Bagaimana keadaan kakinya? Apa ponselnya masih rusak? Bagaimana respon Kakeknya setelah tahu museum itu bukan milik pemerintah lagi dan kini mendapatkan tunjangan lebih besar?


“Hei, kau sudah datang?”


“Hai,” jawab Ares mengalihkan perhatiannya. “Kau tampak cantik,” ucapnya jujur.


“Terima kasih.” Laura mengelipkan rambutnya ke belakang, dia memakai riasan terbaiknya malam ini. “Boleh aku naik?”


“Tunggu, kau akan naik motor dengan rok seperti itu?”


Rok yang dikenakan Laura bahkan lebih pendek dari rok yang sering digunakan oleh Cantika. Cantika memakai rok selutut, sedangkan dia diatas lutut.


“Ya, memangnya kenapa?”


“Kau membawa celana training di tas?”


“Eoh, tidak. Untuk apa?”


“Itu terlalu terbuka.”


Laura terkekeh pelan, mencoba untuk anggun di depan Ares. Dan dia menaiki motor Ares begitu saja. “Aku akan duduk dalam posisi seperti ini,” ucapnya dengan duduk menyamping. “Jadi tidak akan ada yang mengintip jika itu yang kau takutkan.”


Ares menatapnya dengan bingung. “Pakai jaketku.”


“Tidak,” ucap Laura menghentikan Ares yang akan melepaskan jaketnya. “Jangan, aku lebih nyaman seperti ini.”


“Oke, terserah padamu.” Ares mulai menyalakan mesin motor.


“Bisakah kita berhenti dulu di salah satu mini market?”


“Tentu,” jawab Ares. “Kau belum sarapan?”


Laura mengangguk, dia mulai memeluk pinggang Ares saat motor memasuki jalan raya. Ares begitu tapis dengan kendaraan kesukaannya itu. Beberapa menit kemudian dia berhenti di salah satu mini market.


Ares ikut ke dalam dan mengambil susu dua roti dan susu strawberry, yang mana membuat Laura mengerutkan keningnya.


“Untuk siapa itu?”


“Untukmu, kau belum sarapan bukan?”


“Aku tidak makan itu, aku makan ini,” ucap Laura memperlihatkan snack diet dan soda yang ada di tangannya. Perempuan itu tertawa pelan. “Kau seperti anak anak memakan itu untuk sarapan.”


“Aku terlanjur membawanya,” ucap Ares memilih untuk membelinya.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Semua mata yang melihat kedatangan Ares itu membulat. Bagaimana tidak, seorang pangeran sekolah yang terkenal dengan ketampanan dan karismanya, Ares sang ketua basket kini membawa seorang perempuan yang begitu cantik di jok belakangnya. Perempuan yang digadang gadang akan mengalahkan kepopuleran Athena ⸻saudara kembar Ares dan juga wanita yang sangat pintar⸻ di sekolah ini.


Mereka mulai berbisik, mengatakan hal hal seperti;


“Astaga! Aku sudah memprediksi hal ini! tidak mungkin wanita cantik itu bukan type ideal Kak Ares!”


“Dimana malaikat pencabut nyawa, aku tidak sanggup melihat ini.”


“Aku benar benar tidak rela, tapi mereka sangat serasi.”


“Aku yakin mereka adalah sepasang kekasih.”


“Lihat bagaimana wanita itu memeluk perut kekar Kak Ares!”


Dan saat motor Laura turun dari motor, dia membereskan rambutnya sambil menatap wanita wanita yang berkerumun di sana. Ini menyenangkan untuknya, menjadi pusat perhatian dengan pria kaya di sampingnya.


“Kau mau mengantarkan aku ke kelas?” tanya Laura memeluk tangan Ares.


“Ah ya, baiklah,” ucap Ares melepaskan tangan Laura yang merangkulnya dan menyimpan helm di atas motor.


“Kau membeli roti, tapi belum memakannya.”


“Sebenarnya aku sudah sarapan.”


“Lalu untuk apa kau membelinya? Aku tidak menyukai susu.”


“Aku tahu siapa yang suka,” ucap Ares terus berjalan di samping Laura.


Keduanya terlihat sangat serasi, sosok wanita yang tinggi dengan wajah menawan dan juga kulit putih, dengan Ares yang tinggi, tampan dan juga tubuh berotot.


Bahkan semua orang hampir keluar dari kelas mereka begitu melihat Ares dan Laura melewati mereka.


“Terima kasih sudah mengantarkanku,” ucap Laura membalikan badannya.


“Tentu, bisa kau panggilkan Cantika?”


“Apa?” tanya Laura tidak suka. “Kau mau apa?”


“Panggilkan Cantika.”


Laura menatap ke dalam kelasnya karena saat ini dia berada di ambang pintu. “Dia belum datang.”


“Kau yakin?” Tanya Ares.


“Ya, tasnya belum ada.”


“Ah, oke. Selamat belajar.” Ares mundur perlahan kemudian membalikan badan dan memasang wajah bingung. ‘Kemana Centini itu belum datang?’ begitu batinnya.


Sementara itu Laura kembali mengepalkan tangannya, otaknya berputar mencari cara agar Ares benar benar terikat dengannya.


🌹🌹🌹🌹


 


 


TO BE CONTINUE