
🌹KASIH EMAK DUKUNGAN YA GAIS. TEKAN LOVE🌹
🌹JANGAN LUPA FOLLOW: @RedLily123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA. I LOVE YOU. 🌹
“Cantika, ada Laura di depan!” teriak sang Nenek membuat Cantika yang sedang mengerjakan PR itu bergegas keluar dari kamar, dia mendapati Laura berada di halaman depan rumahnya, sedang menunggu. Sepertinya dia enggan masuk ke dalam. “Ada apa?”
“Bisa kita bicara?” tanya Laura.
“Masuklah.”
“Tidak di sini,” ucapnya dengan tatapan tajam.
“Lalu dimana?”
“Di rumahku.”
“Di sini atau tidak sama sekali. Maaf,” ucap Cantika yang tidak segan mengatakannya, dia khawatir jika Laura yang kini terlihat marah itu melakukan sesuatu. Bukan berfikiran negative, hanya berjaga-jaga saja. “Ingin di dalam?”
“Apa kau pacaran dengan Ares?”
“Ya, kami baru saja pacaran. Ada apa?”
“Apa kau tidak memikirkan perasaanku?” tanya Laura dengan mata yang berkaca-kaca, dia terlihat ingin memakan Cantika hidup-hidup. “Aku mengakui aku salah karena telah menyebarkan foto itu. Tapi pernah kau bayangkan bagaimana rasanya jadi aku? Perasaanku setelah Ares memberiku harapan palsu?”
Cantika terdiam, dia mencoba untuk mencari celah dimana dia melukai Laura. Karena pada akhirnya, Cantika selalu kembali pada… “Um, oleh karena itu kau harus menghargai setiap orang. Lambat laun Ares menyadari kau tidak tulus, Laura. Kau membuang kue buatannya.”
“Aku tidak sengaja, oke? Kesalahan itu selalu ada, dan bukannya ada kesempatan untuk memperbaiki? Kau tidak bisa egois,” ucap Laura dengan kesal.
Saat Cantika hendak membalas ucapan Laura, dia lebih dulu mendengar suara mesin motor. Dimana di sana Ares datang memasuki gerbang dan berhenti di bawah pohon mangga. Dengan tatapan tajamnya, dia turun dari motor dan menghampiri keduanya.
“Ares?” gumam Laura.
“Ada apa? Apa yang akan kau sampaikan pada Cantika? Dengar, aku minta maaf sebelumnya karena membuatmu berharap, tapi ini pilihanku. Aku menyukai Cantika, tolong jangan ganggu dia.”
Yang mana membuat Cantika malu, apalagi sang Nenek terlihat mengintip dari dalam rumah. “Ares, hentikan, dia kemari bukan untuk melakukan hal yang aneh.”
Namun bukan Ares namanya yang tetap pada pendiriannya, dia bahkan berkata, “Jika kau menggertak atau menggangguku dan Cantika lagi, aku akan mempermasalahkan apa yang kau perbuat.”
“Ares,” ucap Laura dengan mata berkaca-kca.
“Maaf, Laura. Tapi ini pilihanku. Maaf.”
“Hiks… kalian berdua tidak akan bertahan lama, aku berdoa supaya kalian cepat putus,” ucapnya kemudian melangkah pergi.
Membuat Ares berdecak. “Dan aku berdoa semoga setan yang menempel di kepalamu segera pergi.”
“Ares, jangan katakan itu.”
“Tidak apa, aku tampan,” gumam Ares.
“Ekhem!” terdengar suara deheman di belakang sana. Membuat Ares menoleh dan menatap Neneknya Cantika berada di ambang pintu sedang mengerutkan keningnya. “Mau makan malam di sini?”
“Tidak usah, Nek. Aku akan pulang.”
“Kalau begitu kemari, ikuti Nenek.”
🌹🌹🌹🌹
“Tidak apa, aku akan ikut Nenek.”
Begitulah kalimat yang diberikan oleh Ares sehingga kini dia melangkah mengikuti Neneknya Cantika, menuju ke halaman belakang. Tepatnya ke sebuah gubuk kayu bakar.
“Apa yang bisa aku bantu, Nek?”
“Kau suka dengan Cantika?”
“Siapa yang tidak suka dengan perempuan manis itu, Nek?”
“Suka saja tidak cukup.”
“Ares punya uang banyak kok, Nek.”
PLAK! Nenek memukul bahu Ares kesal, membuat laki laki itu mengaduh tanpa suara. “Aduh, Nek. Gatal,” ucapnya menyindir.
“Awas kalau kau bermain main dengan Cantika.”
“Kami bukan anak TK yang harus bermain main, Nek.”
“Bawa kayu bakar ini, Nenek ingin melihat kekuatanmu.”
“Yang mana, Nek?” tanya Ares.
“Semua ini,” jawab Sang Nenek kemudian melangkah pergi.
Membuat Ares menelan ludahnya kasar, dia menarik napasnya dalam kemudian menggeleng. “Tidak apa, demi Centini seorang,” ucapnya kemudian mengangkut kayu bakar itu dengan tangan kosong menuju ke dapur belakang.
Dimana di sana Cantika menunggunya dengan terlihat khawatir. “Astaga, Ares. Sini aku bantu.”
“Jangan!” teriak sang Nenek. “Kau hubungi saja Kakekmu supaya cepat pulang. Kenapa dia kembali ke museum sore hari begini?”
“Ponsel Cantika tidak ada sinyalnya, Nek. Sepertinya harus kembali di service.”
BRUK! Ares menjatuhkan kayu bakar itu di tempatnya, kemudian menatap Cantika. “Biar aku bantu menghubungi Kakek, berikan nomornya.”
“Ini harus pakai telpon biasa.”
“Tidak masalah,” ucap Ares sambil sesekali menatap Nenek, dia ingin menunjukan kebolehannya sebagai menantu yang siaga dan bisa diandalkan.
Bahkan saat Ares menekan panggilan pada Kakek, dia mengaktifkan mode loud-speaker.
“Tenang, Nek. Ares akan menghubungi Kakek,” ucap Ares dengan bangga.
Sampai…. ‘Pulsa yang anda miliki tidak cukup untuk melakukan panggilan ini, silahkan is⸻’
TUT. Ares menutup panggilan dengan tatapan yang kaget, malu, dan juga keinginan untuk mati.
Dimana Nenek langsung menggelengkan kepalanya sambil berdecak. Sementara Cantika mengusap bahu Ares supaya mental kekasihnya itu tidak runtuh. “Tidak apa, ayo kita beli pulsa.”
🌹🌹🌹🌹
TO BE CONTINUE