
🌹Vote🌹
Lily menarik napasnya dalam, keringat membasahi keningnya. Dia segera bersandar memeluk David, membiarkan pria itu mengusap perutnya yang buncit.
Perut David dan Lily saling beradu, membuat Lily bisa merasakan liatnya kulit perut David yang dipenuhi otot.
"Terima kasih, Sayang," ucap David membiarkan Lily memeluknya.
Setelah mendapatkan izin dari dokter, David kembali rutin. Hanya saja dua hari sekali, setiap kalinya hanya menggapai satu.
Lily kelelahan, berbeda dengan David yang masih bugar.Â
"Kau tidak lelah?" Tanya Lily pelan.
Membuat David terkekeh. "Kau tahu apa yang bisa aku lakukan. Mungkin sampai tengah malam."
Pipi Lily mengembung. "Bagaimana pekerjaanmu?"
"Ada dua orang pengusaha baru, dia mengira Rio adalah diriku, mereka sangat santun padanya. Dan mengira aku adalah pembantu Rio. Sungguh menjengkelkan."
Lily tertawa, membuat David kesal dan mencubit cubit perutnya. "Ha ha ha ha, David geli! Hentikan… ha ha ha…"
"Kau menertawakanku?"
Lily berdehem. "Tidak aneh mereka mengira begitu, aku juga dulu begitu."
"Mengira aku sudah tua?"
Lily mengangguk. "Kau punya banyak perusahaan besar, aku pikir kau sudah seumuran dengan Holland, ya… tua seperti itu…"
"Astaga, apa harus aku memamerkan wajah di setiap majalah?"
Lily terkekeh.
"Itu karena mereka tidak pernah membaca berita tentang dunia perekonomian. Mereka hanya membaca entertaiment, gossip, jadi tidak tahu."
Lily mengusap dada David. "Lalu apa yang kau lakukan pada mereka?"
"Aku menjatuhkan bom."
"Bom?"
"Bisnis mereka aku ambil alih, mereka menukarkannya dengan sejumlah uang."
"Astaga, David. Itu jahat, kau menipu mereka?"
David malah terkekeh. "Aku tidak menipu, mereka melihat Rio yang renta dan batuk batuk, jadi mereka memilih menukar saham perusahaan dengan sejumlah uang besar karena merasa kasihan."
"Jadi mereka tidak tahu kau adalah David Fernandez yang sesungguhnya?"
David mengangguk. "Dan sialnya aku terus membawa barang mereka."
Lily kembali tertawa.Â
"Itu menyebalkan," guma David.
"Ehm… David…"
"Apa? Katakan saja."
"Apa kau tidak malu menikah denganku? Mengumumkannya pada setia orang?" Tanya Lily dengan nada bergumam.
"Kenapa aku harus malu?"
"Gelarmu banyak, aku hanya lulusan SMP. Kau tinggi, aku pendek, kau kaya, aku miskin."
"Sayang, itu makna dari saling melengkapi yang sebenarnya," ucap David mengusap punggung polos istrinya. "Lagi pula aku butuh seseorang yang menghabiskan hartaku, uangku terlalu banyak, membuatku kesal jika membayar pajak."
🌹🌹🌹
"Bolehkah aku keluar?"
David mengangguk. "Bersama Nina."
"Aku mengerti, bergegaslah pulang."
David mengangguk, dia memberikan ciuman di bibir Lily sebelum berangkat bekerja.
Dan Lily, setelahnya dia senam kehamilan bersama Mete. Untuk urusan apartemen, di urus oleh Nina. Mulai dari masak, berbenah, dan mencuci. Kecuali area lantai dua kamar, itu bagian Lily. David tidak suka orang asing keluar masuk kamarnya.
Sampai jam 11 siang Lily senam, setelahnya dia istirahat sebentar sebelum bersiap menuju ke pusat perbelanjaan.
Sebelum pergi ke kamar, Lily mengambil pakaian yang sudah kering dan disetrika oleh Nina.Â
"Kenapa pakaian dalamku berkurang?" Tanya Lily pada dirinya sendiri saat menghitung pakaian dalam di kamar.
"Di mana yang warna merah?"
"Nyonya Muda, anda ingin makan siang sebelum berangkat?" Tanya Nina dari luar pintu.
"Tidak, Nina. Kita akan makan di luar bersama Oma."
"Baik, Nyonya Muda."
Mereka menuju basement tempat mobil pribadi Lily berada.Â
Dan saat hendak masuk ke dalam mobil, Lily melihat ada seorang wanita jatuh. Dia mendekat dan menolongnya.
"Anda tidak apa apa, Nyonya?"
"Ya, maaf aku sedikit mabuk."
Nina yang sudah masuk dalam mobil itu kehilangan majikannya, dia segera mencari. "Nyonya Muda, ada apa?"
"Tidak, aku hanya menolong wanita itu. Kau benar tidak apa?"
"Aku hanya mabuk."
Dan tidak lama kemudian, gerombolan wanita datang. Nina yakin jika wanita mabuk ini adalah salah satu dari mereka.
"Hei! Temanmu di sini."
"Nina, mereka mungkin bukan temannya."
"Mereka mendekat, Nyonya Muda."
Dan benar saja, gerombolan wanita paruh baya yang glamor itu mendekat. "Hei, kau jatuh? Dia menolongmu? Apa kau tahu siapa dia? Dialah simpanan pria kaya di lantai teratas apartemen."
"Benarkah?"
"Ya, lihat sekarang dia hamil. Dia pasti mendapat uang banyak."
Dan segerombolan itu malah bergosip di depan Lily.
"Bukan seperti itu, pria yang kalian maksud adalah suamiku."
"Hah, mana mungkin. Kau pasti wanita penggoda. Dasar tidak tahu malu, masih kecil pula. Kau seumuran dengan anakku."
Nina menjawab lebih dulu, "Perhatikan ucapanmu, Nyonya. Itu termasuk pelanggaran pencemaran nama baik, anda bisa dikenai pasal 315 KUHP. Dengan adanya CCTV, saksi mata, anda bia saya tuntut karena telah menghina dan merendahkan majikan saya."
🌹🌹🌹
Sampai di pusat perbelanjaan, Lily menelpon Oma.
"Hallo, Oma ada di mana?"
"Oma di Pizza Nut."
"Pizza Nut?"
Nina yang mendengar segera merevisi, "Pizza Hut."
"Oh, baik, Oma. Lily akan ke sana."
"Jangan lama, tolong belikan Oma permen dulu."
"Baik."
Lily menutup panggilan.
"Oma ingin permen."
"Tentu, Nyonya Muda. Biar saya yang membawa keranjangnya."
Diikuti oleh Nina dari belakang, Lily agak tidak terbiasa seperti ini. Seolah orang orang di sekitarnya takut mengingat tubuh Nina yang besar tinggi.
"Nina tolong carikan acar."
"Baik, Nyonya Muda." Nina agak ragu meninggalkan Lily yang sedang memilih permen.
Dan kepergian Nina membuat seorang pria mendekat pada Lily.
"Hallo, Cantik."
Lily tidak menggubis.
"Apa telingamu tuli? Kau sangat seksi apalagi dengan perut buncit."
"Hei!" Lily memukul tangan pria itu yang berani menyentuh tangannya.
Saat Lily pergi, pria cabul itu mengikuti, yang segera Nina hadang.
"Siapa kau?"
"Kau melakukan pelanggaran dengan melecehkan majikanku, kau bisa dikenakan pasal kejahtan seksual KUH Pidana dalam pasal 421 ayat 2."
Pria itu terkekeh. "Aku bisa melaporkanmu karena perbuatan tidak menyenangkan."
"Perbuatan tidak menyenangkan dalam Pasal 335 ayat (1) butir 1 KUHP telah dihapuskan oleh Mahkamah Konstitusi. Mahkamah menilai frasa 'sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan' dalam Pasal 335 ayat (1) butir 1 KUHP telah menimbulkan ketidakpastian hukum dan ketidakadilan. Aku punya bukti kau membuat majikanku tidak nyaman. Ingin berdebat lagi?"
🌹🌹🌹
tbc