
🌹Vote ya guys🌹
David mendapatkan sarapan dari suapan Oma, mengingatkannya akan masa kecilnya yang sangat manis.
"Makan yang banyak, kau harus tumbuh kuat."
"Aku sudah dewasa, kurang kuat apa lagi? Mematahkan tulang tulang Oma pun aku sanggup."
"Ck, berhenti menjadi tengik, Oma sedang baik padamu. Buka mulutmu."
David terkekeh, dia membuka mulutnya.
"Ngomong ngomong, apa kau datang hanya untuk meminta dan memohon pada Oma agar menjadi Brides Maid?"
David memutar bola matanya mendapatkan kenarsisan Oma. "Oh ya, ini untuk Oma."
"Apa ini?"
"Lihatlah."
Oma menerimanya. "Apa ini? Oh-- Astaga! Ini anak katakmu?"
"Anak katak apanya? Itu anak David, Oma."
"Ya… maksudku dari berudumu."
"Tidak ada berudu, yang ada bibit premium."
"Ck, terserah padamu," ucap Oma kembali fokus pada foto USG. "Apa jenis kelaminnya?"
"Masih mengumpat."
"Astaga, kau akan menjadi bapak bapak."
"Oma, aku masih muda."
"Tetap saja kau akan menjadi bapak bapak, anakmu ada dua. Sedangkan aku masih nenek, bukan nenek nenek karena cucuku hanya satu."
"Lalu bagaimana jika aku menambah anak? Akankah aku menjadi bapak bapak bapak bapak bapak bapak bapak?"
Oma kembali berdecak, dia mengantongi foto itu. "Melihat sesuatu denganmu ada di samping Oma membuat Oma tidak fokus. Ini makan lagi."
David membuka mulutnya.
"Kenapa tidak ajak Lily jika ingin ke sini?"
"Aku keluar untuk membeli pengaman."
"Apa? Untuk apa?"
"Dokter bilang tidak apa bermain sebentar."
David mendapat tatapan tajam dari Oma.
"Oma… aku tidak akan melakukannya dengan parah."
"Dasar tengik."
"Sudah kenyang."
"Minum sana."
"Tidak diberitahu juga aku akan minum."
David berdiri setelah selesai makan di suapi Oma.Â
Tatapan Oma mengikuti ke mana langkah David pergi. "Apa yang kau cari?"
"Aku perlu alkohol."
"Untuk apa?"
"Untuk di minum, sejak kapan alkohol digunakan untuk mencuci?"
"David, ini masih pagi."
"Aku tidak akan meminumnya sekarang," ucap David memutar dinding dengan sebuah botol hingga mini bar muncul. Dia memilih apa yang diinginkannya. "Bawakan ini, ini, ini, ini dan ini, Eta. Bungkus dengan rapi dan antar ke rumahku."
"Baik, Tuan Besar."
🌹🌹🌹
Mengemudikan mobilnya, David ingin mencari sendiri pengaman, mengingat Holland sedang memeriksa persiapan pernikahan.
Berhenti di sebuah butik milik Marylin, yang membuatkan benda benda bermerk. David masuk disambut baik oleh pelayan.
"Di mana Marylin?"
"Oh hallo, Tuan Muda. Apakah anda ingin membatalkan pembatalan anda mengenai gaun Nyonya Besar?"
"Tidak, aku butuh pengaman."
"Wowo, pengaman?" Marylin menggoda.
"Berikan aku itu. Cepat."
"Baik, Tuan Muda."
David melihat satu per satu yang ada dalam kotak berwarna hitam. Sebuah pengaman eksklusif dengan tampilan elegant.
"Tidak ada rasa strawberry?"
"Istriku menyukai buah itu, kau berpikir dia murahan?"
Tubuh Marylin bergetar seketika mendapat nada tinggi. "Maaf, Tuan Muda. Saya tidak ber--"
"Kau benar benar penghancur semuanya, aku akan pergi."
"Tuan Muda! Tuan Muda! Tidaaaaaaakkkkkk!" Teriak Marylin sambil menangis tersungkur seolah dirinya ada dalam film adegan perpisahan. "Tidaaakkk! Tidaaakk! Tidaakkkk!"
"Ck, semua orang tidak waras hari ini," ucap David menjauh.
Dia menaiki mobil mencari tempat lain. "Di mana biasanya Holland mendapatkan pengaman itu?"
Dan tatapan David jatuh pada sebuah toko bertuliskan, *Tidak menerima non tunai dan bon.*
Yang membuat David harus berbelok ke ATM dengan penuh paksaan.
"Astaga, aku butuh lima Holland di kehidupanku. Satu untuk supir, satu untuk mengurus perintah, satu untuk mata mata, satu untuk menjaga uang dan sisanya untuk membuatku tetap di rumah."
David keluar dari mobil menuju ATM di mana di dalamnya masih ada orang.
Sat ATM kosong dan David hendak masuk, tiba tiba seorang ibu ibu memegang tangan David. Membuat pria itu membulatkan matanya seketika.
"Ibu duluan ya, Dek. Ibu mau ambil uang. "
Dan dalam hati, David berkata, "Ibu kira saya mau apa masuk ke dalam? Ngupil? Ya ngambil uang lah!"
🌹🌹🌹
Lily menunggu David penuh gelisah. Dia sudah sarapan setelah mendengar kabar David sudah sarapan di tempat Oma.
Lily khawatir bagaimana keadaan anak anaknya saat David masuk.Â
"Sayang sayangku, bisakah kalian sembunyikan kepala kalian? Atau memakai helm? Astaga, aku harus bagaimana?"
Memang sudah jelas penjelasan dokter, tapi Lily masih merasa khawatir.
Sampai telpon menyadarkannya, itu dari nomor baru.
"Hallo?"
"Hallo, Tina."
"Kak Radit?"
"Ya, ini aku."
"Dari mana kau mendapat nomorku?"
"Dari Holland setelah aku mendapatkan undangan pernikahanmu."
Lily diam tidak bisa menjawab untuk kalimat itu.
"Kau serius dengan hal itu?"
"Sangat serius, Kak."
"Tina…"
"Kak…." Lily menelan ludahnya sebentar. "Aku tahu kau menyayangiku lebih dari seorang adik, tapi aku menyayangimu tidak lebih dari seorang Kakak."
Radit terkekeh. "Jadi kau tahu?"
"Ya, aku tahu. Kak, kau itu pria hebat dan tampan, aku yakin kau akan menemukan seseorang."
"Aku memang sudah menemukannya."
"Benarkah?"Â
"Ya, dia anak didikku."
"Anak didik? Apa maksudnya? Kau seorang guru?"
"Tidak, Tina. Aku mengajar di fakultas hukum, aku juga menjabat sebagai dekan. Jadi ya…."
"Astaga, itu hebat sekali. Siapa nama muridmu itu?"
"Sebenarnya kami belum bicara banyak, dia baru menjadi incaran. Aku tahu rasaku padamu akan sia sia, jadi aku mencari sesuatu yang pasti. Namanya Keyra."
"Selamat."
Radit terkekeh. "Untukmu juga, aku akan datang bersamanya. Jika berhasil mendekatinya."
"Selamat berjuang."
"Aku tahu, kalau begitu selamat menjalani hari untukmu, Tina."
Lily menutup telpon sambil tersenyum, dia lega Radit sudah mendapatkan wanita baru.
Dan senyuman Lily kala itu disalahartikan oleh David yang baru datang.
"Astaga, Sayang. Aku tidak tahu kau sangat bahagia menantikan kedatanganku."
"A-- apa?"
🌹🌹🌹
Tbc...