Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Alasan Gigi Palsu



🌹VOTE🌹


"Makan malam anda, Tuan."


"Terima kasih, Holland," ucap David dan mendekat pada meja yang sudah di tata rapi oleh pegawai restaurant. "Kau sudah makan?"


"Saya akan makan."


"Makanlah bersamaku," ucap David memberi tatapan memerintah pada Holland.


"Tidak perlu, Tuan. Saya masih kenyang."


"Kau kenyang dengan tugasku hari ini?'


"Bu-- bukan begitu, Tuan."


"Kalau begitu kemarilah dan makan bersamaku."


Holland dengan segan menerima permintaan David. Dia duduk di sana. Dan Holland tidak menyentuh makanan sebelum David.


"Ada apa, jangan bilang kau ingin aku suapi, Holland."


"Ti--tidak, Tuan. Bukan seperti itu."


"Makanlah," ucap David mengambil sumpit dan mulai memakan makanannya diikuti oleh Holland.


"Holland?"


"Ya, Tuan Muda?"


"Aku tahu ini kali pertamanya kau makan denganku. Aku tidak ingin minta maaf padamu, tapi aku merasa bersalah selalu membuatmu menunggu saat aku makan."


"Anda adalah majikan saya, Tuan."


"Ya ya aku paham," ucap David malas.


Sejak dirinya merintis karis, Holland selalu ada di sampingnya dan membantu dirinya untuk berdiri dan menghadang segala rintangan.


Umurnya yang sudah tua mengingatkan David pada Papa nya yang sudah meninggal.


"Bagaimana kabar anakmu?"


"Dia baru masuk sekolah atas, Tuan."


"Di Berlin bersama istrimu?"


"Tidak, dia pergi ke tempat lain ke sekolah militer."


"Anakmu ingin menjadi tentara?"


Holland menggeleng. "Dia bilang ingin menyaingiku, Tuan. Dia ingin menjadi tangan kanan seseorang yang tidak cacat."


"Anak agak sial*n, dia secara tidak langsung menyebutmu cacat."


Holland hanya tersenyum memperlihatkan wajahnya yang mulai keriput. "Aku tidak bisa bela diri, sementara dirinya bisa. Dia ingin lebih unggul daripada saya, Tuan."


Makan malam itu diwarnai dengan percakapan ringan antara Holland dan David. 


Dan saat itu, David dengan ponselnya yang padam lupa meminta izin pada Lily kalau dirinya akan pulang terlambat.


Setelah makan malam, David merokok di beranda rumah. Sambil meminum alkohol yang disiapkan Holland.


Sebelum Holland kembali pergi, David berucap, "Holland, carikan aku strawberry yang besar. Lily pasti akan marah karena aku pulang terlambat dan tidak menghubunginya."


"Baik, Tuan Muda."


Dan David menunggu sangat lama. Malam malam dia masih di rumah yang belum ditempatinya. David kesal karena tidak ada yang bisa dia mainkan kecuali rasa kesal.


Hingga satu jam kemudian, Holland datang.


"Maaf, Tuan Muda."


"Dari mana kau mendapatkannya? Luar pulau?"


"Dari truk pengiriman. Karena pada jam ini banyak toko tutup, jadi saya meminta pihak kepolisian untuk membantu."


"Bagus," ucap David menerima sekantong kresek buah strawberry yang besar besar. "Astaga, Lily akan suka ini."


🌹🌹🌹


Lily gelisah David belum pulang, membuatnya diam di kamar dan mencoba menghubungi David berulang kali.


"Lila?"


"Masuk, Oma. Lily tidak menguncinya."


"Apa kau masih menelpon David?"


Lily mengangguk.


"Biarkan saja, mungkin ada acara bersama temannya."


"Luke sudah berangkat lagi, sementara Sebastian juga sama. Siapa lagi temannya, Oma?"


"Setan mungkin."


"Oma," ucap Lily dengan cemberut.


Oma kesal dengan David yang menimbulkan kecurigaan, membuatnya menyentuh gigi palsunya.


Dan itu memicu rasa penasaran Lily.


"Kau pintar menyikat gigi Oma, Lila. Mungkin Oma akan datang setiap akhir pekan untuk memintamu membersihkannya."


Lily menelan ludahnya kasar tidak percaya. "Apa Oma membersihkannya seminggu sekali?"


"Apa kau tidak waras tertular David? Ck ck ck, Lila, Oma membersihkannya setiap hari."


Lily mencoba tersenyum untuk menghibur Oma. "Tapi kenapa Oma merahasiakan ini? Itu bukan hal memalukan untuk seusia Oma."


"Lila, Oma ingin terlihat cantik di depan David. Masih bugar dan segar."


"Kenapa begitu?"


Oma menarik napas dalam. "Karena David selalu berpikir Oma tua jika sakit sakitan. Memang itu faktanya, tapi dia selalu sedih jika melihat Oma menua. Tahu kenapa?"


Lily menggeleng pelan.


"Tentu saja karena dia tidak memiliki siapa pun. Oma tau dia sedikit tidak waras dan sangat tengik untuk ukuran bule kaya, tapi jika dieratkan dengan perpisahan, bule tua itu bisa saja menangis meraung."


Lily diam, dia tidak menyangka Oma melakukannya untuk menjaga perasaan suaminya yang rapuh. Lily juga tidak tahu David begitu rapuh, setahu nya David adalah sosok yang kuat dan tidak bisa dihadang apa pun.


"Tapi Oma rasa ini tidak harus disembunyikan lagi. Kau tahu, rambut Oma rontok, Oma memakai gigi palsu, dan itu semua demi David. Tapi Oma tidak lagi risau jika harus pergi."


"Oma..  apa yang Oma bicarakan."


Oma tersenyum. "Oma memilikimu, Lila. Kau bisa menjaga David. Jadi Oma tidak akan gelisah jika harus mati lebih awal."


"Oma! Berhenti mengatakan itu!"


"Berjanjilah kau akan selalu ada untuk bule tua itu. Jangan tinggalkan dia sendirian, Lila."


Lily mengangguk, dia memeluk Oma erat. "Aku janji, Oma."


🌹🌹🌹


To be continue...