Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
S3 : ARES FERNANDEZ



🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK.🌹


🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN SEMUA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK. JANGAN LUPA AJAK YANG LAIN UNTUK BACA CERITA INI YA.🌹


Semua orang berdiri di dalam kelas XII IPA 2 itu sebagaimana yang disuruh oleh guru.


“Tidak ada yang boleh duduk sebelum ada yang menjawab betul soal di depan.”


Semuanya saling berbisik bisik.


“Minggu kemarin kalian bilang sudah paham, Bapak kasih tugas dirumah masa tidak ada yang betul? Ini yang tidak mengerjakan juga kenapa? Kemarin libur kemana saja?” tanya guru tersebut. “Siapa yang mau mengisi nomor terakhir? Tidak ada yang bisa menjawab tidak boleh duduk.”


Dan saat itulah Cantika memberanikan diri mengangkat tangannya.


“Anak baru, ayo kerjakan. Siapa namamu?”


“Cantika, Pak.”


“Ya, Cantika. Coba kerjakan.”


Cantika dengan modal otak dan ingatan dari minggu kemarin, dia mencoba mengerjakan soal sebagaimana dia mengerjakan di dalam buku tugasnya.


Dan sampai angka terakhir Cantika menyelesaikannya, dia mendapat tepuk tangan dari guru tersebut. “Nah lihat, contoh Cantika. Belajar darinya yang belum paham. Sekarang semuanya duduk.”


“Terima kasih, Pak,” ucap mereka semuanya serentak.


Cantika kembali duduk di bangkunya, dia mendapat acungan jempol dari teman teman sekelasnya.


“Kau yang terbaik.”


“Nanti ajari aku ya.”


“Wah, ayo belajar bersama nanti.”


“Cantika, bimbing aku ya, aku tidak pernah paham.”


Itulah yang mereka katakan pada Cantika.


Dan Cantika meresponnya dengan senyuman. Memiliki aura positive membuatnya banyak disenangi banyak orang. Tapi tidak semuanya, hal itu tidak berlaku bagi Laura.


Dia merasa kecantikannya tersaingi oleh Cantika, yang mana satu kelas hanya menaruh perhatian padanya saja.


“Cantika.”


“Ya?” cantika menengok pada Laura, mereka memang diberi bangku sendiri sendiri di sekolah ini.


“Bisa antar aku ke kamar mandi?”


“Tentu.”


“Kau yang bicara pada guru.”


Cantika mengangguk, dia mengangkat tangan dan meminta izin pada guru dengan sopan untuk mengantar Laura ke kamar mandi.


🌹🌹🌹🌹


“Ar, lu belum juga dapet nomornya?”


“Gila, Ar, lu ditolak mentah mentah.”


“Yakin lu bisa dapetin dia? Lu bukan type nya kali, gue denger dia udah dewasa. Lah, bukan lu lagi itumah type nya, Ar.”


Begitulah teman teman Ares menggodanya tentang Laura. Memang Ares sendiri merasa gemas dan juga bertanya tanya apa yang membuat perempuan itu mudah sekali berpaling darinya.


“Ar?”


“Diem bisa gak? Lagian belum juga sebulan,” ucap Ares yang sibuk bermain game sambil berjongkok.


Kini segerombol kelompok Ares itu memang berdiam di belakang sekolah untuk bolos mata pelajaran yang tidak mereka sukai. Bukan mata pelajarannya, tapi gurunya. Apalagi Ares lupa mengerjakan tugas.


“Chat ketua kelas, udah kelar belum tuh guru, gue mau boker,” ucap Ares.


“Boker mah ya boker aja, ngapain harus ke kelas?”


“Bokernya di rumah lah.”


“Lu mau bolos?” tanya Samuel. “Kan lu tadi berangkat bawa orang.”


“Gampang gue tinggal balik lagi,” ucap Ares yang sibuk memainkan game.


Samuel menggelengkan kepalanya heran. “Lu gak jatuh cinta sama siapa namanya? Centika ya?”


“Cantika, Barongsai. Kagak lah, Laura inceran gue. Cepetan tanya.”


Sampai beberapa menit, Samuel berkata, “Lagi keluar katanya.”


“Suruh orang deh bawain tas gue keluar.”


“Oke.”


“Kemana, Ar? Gak kuat boker?”


“Pegel,” ucap Ares melangkah menuju kamar mandi pria sendirian. Dia melewati lorong sepi karena sekarang memang jam pelajaran.


Saat Ares hendak masuk pintu toilet pria, Cantika keluar dari pintu sebelahnya. Yang mana membuat Ares mengerutkan keningnya. “Tumben keluar pas pelajaran.”


“Hah? Laura tadi minta anter.”


“Laura? Dia di sana?”


Cantika mengangguk, dan tanpa berkata apa apa lagi Ares masuk ke toilet perempuan.


“Ares, apa yang kau lakukan?”


“Diam dan tunggu diluar,” ucap Ares.


Dan disanalah Ares melihat Laura sedang mencuci tangannya di westafel.


Laura yang sadar hanya merespon dengan santai, “Sepertinya kau kehilangan kemampuan membacamu.”


“Hah?”


“Ini kamar mandi perempuan.”


“Ah, kupikir kau laki laki.”


Laura mengerutkan keningnya dan berdiri menatap Ares. “Apa maksudnya itu?”


“Tidak ada perempuan yang menolakku, kecuali jika mereka punya kelainan. Dan kau tidak bukan?”


Laura menyilangkan tangannya di dada. “Kau harus terbiasa dan menyadari tidak semua perempuan tertarik padamu.”


“Perempuan normal tertarik padakku, jadi…. Bagaimana kalau kita mencoba untuk dekat.”


Laura menatap dengan angkuhnya. “Aku tidak tertarik denganmu.”


“Kau pandai matematika?”


“Tentu saja.”


“9 x 8 berapa?”


“72,” jawab Laura.


“7 x 5 berapa?”


“Tentu saja 35.”


“Kalau 1 dikali nomor ponselmu berapa?”


“Itu 0827978…….,” ucapan Laura menggantung, dia tersenyum angkuh. “Itu tidak akan semudah itu.”


Kemudian Laura dengan angkuhnya berjalan melewati Ares dan keluar dari sana.


“Sudah selesai?” tanya Cantika yang bersandar menunggu.


“Sudah ayo.”


Saat berjalan di koridor, Laura berkata, “Dia sepertinya tergila gila denganku.”


“Ares memang menyukaimu.”


“Kalau dia menyukaiku, kenapa dia selalu membawamu di jok belakang motornya?”


Cantika kaget, dia segera menggelengkan kepalanya. “Kami hanya berteman, percayalah.”


“Ya tentu saja, suatu kemustahilan dia menyukaimu bukan?”


Cantika mengangguk anggukan kepalanya. “Kau mau memberikan nomornya pada Ares?”


“Tidak, belum.”


“Wah…. Ares sangat tampan, dia juga pria yang baik, kau menyia-nyiakan kesempatan.”


Laura menyilangkan tangannya di dada. “Aku menunggu apa yang akan dia lakukan saat hari ulang tahunku.”


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


 


 


TO BE CONTINUE