Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
S2 : Tanpa anak



🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE SEBELUM BACA YA ANAK ANAK, TERUS KASIH RATING LIMA SAMA ULASAN BAGUS. JANGAN LUPA JUGA AJAK TEMEN TEMEN YANG LAIN BUAT BACA NOVEL RECEH EMAK INI.🌹


🌹JANGAN LUPA FOLLOW IG EMAK DI : @REDLILY123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN.🌹


“Sayang, kita tidak hanya akan menghadiri pesta pertunangan Luke saja bukan?” tanya David ketika mereka dalam perjalanan menuju bandara,


Lily yang paham dengan pertanyaan itu diam sana, dia mengelus paha suaminya mengingatkan kalau di dalam mobil bukan hanya ada mereka berdua. Melainkan sopir juga.


Dan David menyalah artikan itu, dia melihat pahanya di usap. “Oh, ternyata begitu.”


Lily masih diam, dia berhenti mengelus paha suaminya dan menarik tangannya lagi.


Yang mana malah membuat David terkekeh. “Ingin melakukannya di sini, Sayang?”


“David,” ucap Lily penuh penekanan.


Paham apa yang terjadi di belakang, sopir itu menaikan kaca pembatas supaya dia tidak melihat dan mendengar percakapan majikannya. Dia bisa berkomunikasi dengan majikannya lewat radio yang tersedia.


David menatap kaca pembatas yang naik itu kemudian menatap Lily. “Kenapa? Dia hanya seorang supir.”


“Dia supir baru bukan? Kenapa kau melakukan ini, aku malu.”


“Kenapa malu? Kita membayarnya.”


“Oh, haruskah aku bercerita padanya bagaimana malam malam panas kita?”


David yang tadinya tersenyum menggoda itu langsung terdiam. “Bukan begitu maksudku, Sayang. Aku hanya menggoda. Bisakah aku mendapatkan ciuman?”


“No,” ucap Lily yang malas, dia menatap keluar jendela mobil.


“Apa kau mual?”


“Aku ingin tidur sebentar.”


“Tapi pesawatnya akan segera berangkat.”


“Kau tidak bisa menghentikannya untukku?”


David terdiam cukup lama.


Dan saat mereka sampai di bandara, David bicara pada orang di sana untuk menunda penerbangan mereka. Untungnya David adalah pemilik jet pribadi, jadi dia dengan mudah bisa melakukan apa pun.


“Kau ingin tidur di hotel, Sayang?” tanya David.


“No, di pesawat ada tempat tidur bukan?”


David mengangguk, dia menuntun istrtinya ke dalam kabin pesawat yang memiliki kamar. “Kita punya waktu dua puluh menit sebelum baadai datang.”


“Kurasa itu cukup,” ucap Lily tiba tiba melingkarkan tangannya di leher David.


“Apa ini, Sayang?”


“Berjanjilah nanti tidak akan berbuat kekacauan di pesta Luke,” ucap Lily sambil mencium leher suaminya.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Mereka sampai di Swiss, Lily yang kelelahan langsung saja membaringkan tubuhnya di kmar hotel. David tersenyum melihat itu, dia membenarkan letak tidur istrinya dan mencium pipinya.


“Tidur yang benar, Sayang.”


“Kau mau kemana?” tanya Lily menahan tangan david.


“Aku akan membereskan barang barang. Tenang saja, aku tidak akan pergi.”


“Baiklah.”


Dan David melakukannya, dia membereskan barang barangnya sendirian. Dia mencoba tidak tergangtung pada orang, dia juga bisa melakukannya sendiri. David ingin menunjukan pada istrinya kalau dia juga bisa.


Saat sedang membereskan, David mendapatkan telpon dari Sebastian. “Hallo?” tanya David.


“Kau dimana?”


“Di hotel, aku baru saja sampai.”


“Aku sampai sejak kemarin.”


“Kau sudah menemui Luke?” tanya David saat tahu kalau Sebastian sudah datang lebih awal.


“Belum,” jawabnya.


“Apa? Kemana dan apa saja yang kau lakukan kemarin?”


“Kau ingin tahu? Benar benar ingin tahu?”


David menelan ludahnya kasar dan menggeleng. “Tidak perlu.”


“Dan ayo kita temui Luke hari ini.”


“Lily tidak ingin ditinggalkan.”


“Ingin tahu apa yang aku lakukan agar istriku bisa ditinggalkan?”


David diam mendengarkan.


Kemudian Sebastian meneruskan, “Aku membuatnya kelelahan sampai tidak bisa bicara.”


“Oh shiiit.”


“Aku tunggu kau satu jam lagi, bye.”


Dan saat panggilan terputus, David menatap istrinya. Dia menelan ludahnya kasar dan mulai naik ke atas ranjang. Kemudian dia berbisik, “Sayang, ayo berkeringat.”


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


TO BE CONTINUE