Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Badak



🌹vote🌹


"Sayang….."


Tubuh Lily bergetar saat dia mendapatkan ciuman dalam dan sentuhan di perut telanjangnya oleh tangan kekar David.


Pelan pelan, David membaringkan Lily di kasur, dia menindih istrinya dengan menjadikan siku sebagai penyangga agar tidak mengenai perut istrinya.


"Sayang…"


"Tidak adil."


"Apa?" David menghentikan aktivitas tangannya.


"Tidak adil," guman Lily pelan. "Bajumu masih lengkap."


Suaranya pelan sekali hampir tidak terdengar, beruntungnya David memasang semua indera dalam tubuhnya. "Kau merindukanku tidak memakai baju?"


"Bu… bukan begitu."


"Aku yakin begitu," ucap David mulai membuka pakaiannya satu per satu. Lalu kembali mencium Lily yang sudah polos seutuhnya.


David menyentuh, mengusap dan menciumi tubuh Lily dengan penuh kelembutan. Membuat Lily yang sudah melupakan sensasi itu kembali merasakannya.


Kepalanya berpaling saat David membuka boxer lalu menciumi lehernya.


"Ehmm…….. mmm…." Lily bernapas tidak beraturan, tubuhnya lemas tidak berdaya.


Apalagi saat tangan David turun ke bawah, membuat Lily segera menahannya di sela kesadaran. "Kenapa, Sayang?"


"Hmm…. Kau akan ada pertemuan, sebentar saja dan cepat."


David menyeringai, dia kembali meraup bibir Lily dan hendak mengarahkan kejantananya ke dalam sarangnya.


Saat Lily merasakan gesekan, dia mengerutkan kening. "Kenapa kau tidak memakai baju pelindung?"


"Aku akan mengeluarkannya di luar, tenang saja," ucap David kembali menciumi istrinya.


"Kau percaya padaku bukan, Sayang?"


Lily mengangguk pelan, dia membiarkan milik David terbenam di dalamnya. Membuat Lily menahan napas sesaat hingga dirinya kembali mendapat ciuman panas.


Dan pada akhirnya, David mendapatkan apa yang dia inginkan.


🌹🌹🌹


Saat David bangun dari tidurnya, itu membuat Lily ikut membuka matanya merasakan usapan di perutnya hilang begitu saja.


"Berangkat sekarang?" Tanya Lily dengan suaranya yang serak akibat aktivitas barusan.


Beruntung David langsung berhenti saat Lily mengatakan lelah dan letih. 


Hingga akhirnya hanya satu kali. Untuk pertama kalinya bersama Lily, David hanya bermain satu ronde dengan durasi satu setengah jam.


Lain untuk Lily, David memiliki porsi monster mengingat dia tergila gila dengan semua yang ada dalam tubuh dan jiwa Lily.


"Ya, aku akan mandi dulu. Mau mandi bersama?"


Lily mengangguk.


"Biar aku gendong," ucap David membawa Lily ke gendongannya.


Satu kali David keluar, itu lima kali untuk Lily mencapai puncak. Seperti mesin yang tidak bisa berhenti beroperasi, David selalu saja bisa membangkitkan titik lemahnya.


Mereka mandi bersama di bathub, dengan membuka layar kaca hingga bisa melihat keindahan langit yang begitu biru. Apartemen tertinggi adalah milik David. Penthouse, begitulah mereka menyebutkannya.


"Sayang, aku rasa kau perlu asisten di sini."


"Asisten?"


"Ya, aku sudah memilih seorang wanita. Dia berusia empat puluh tahunan, jago bela diri, masak, dia juga seorang pengacara yang akan menjagamu selama aku tidak ada di sini."


"Apa itu perlu?" Lily mengadah menatap wajah David.


Membuat pria itu tidak tahan untuk mencium keningnya. "Perlu, Holland akan sibuk denganku."


"Apakah Holland juga seperti wanita yang akan menjagaku?"


"Oh, aku tidak akan memperkerjakan orang bodoh, Holland itu lulusan S-2 Harvard, dia seorang profesor di Oxford."


"Lalu kenapa dia malah bekerja padamu?"


"Aku menawarkan gaji padanya lima kali lebih besar."


"Seperti Kak Radit?"


David berdecak. "Bisakah kita lupakan pria itu?"


"David, aku hanya menganggapnya sebagai saudara," ucap Lily dengan suara pelan. "Kenapa kau sangat marah?"


Suara Lily yang melembut membuat David merasa bersalah. "Maaf, ya aku memperkerjakan dia karena dia pintar."


'Pantas saja dia menjadi dekan,' gumam Lily dalam hati.


"Dan wanita yang akan menjagaku?"


"Namanya Nina, dia asli Jerman yang mencintai Indonesia."


"Baiklah."


"Kau mau?" David agak terkejut.


"Jika itu untuk kebaikanku, kenapa tidak?"


"Terima kasih, Sayang," ucap David mencium pipi Lily. "Aku akan memanggilnya mulai besok."


Lily diam.


"Apa benar benar tidak masalah?" Tanya David lagi.


"Tidak, asal jangan lebih muda darimu," gumam Lily begitu saja, membuat David tersenyum seketika.


Pikirannya melayang pada sesuatu di luar pemikiran Lily. "Kenapa? Kau takut aku terpincut padanya jika dia lebih muda? Astaga, Sayang. Pria tampan dan kaya nan baik hati ini sangatlah setia, jadi jangan khawatir. Tapi, aku juga tidak bisa menyalahkan kau begitu khawatir. Memang punya suami tampan itu sesuatu yang sulit."


Lily tidak bisa berkata kata.


🌹🌹🌹


Sepulang kerja pukul lima sore, David mendapatkan panggilan dari Oma. Dia bergegas ke sana saat mendapatkan pesan seperti ini :


Dari Oma Owner Lambe Turah💖


16.27 : Datang ke rumah Oma atau Oma akan mendoakanmu supaya mimpi buruk.


Dan jika sudah seperti itu, maka ada sesuatu yang harus dipertanyakan.


"Selamat datang, Tuan Muda."


"Di mana Oma, Eta?"


"Beliau ada di kamarnya. Anda ingin minum, Tuan?"


"Bawakan aku teh hangat, untuk Oma juga."


"Baik, Tuan Muda."


David bergegas menaiki lift menuju Oma.


"Oma?"


"Masuk!"


"Ada apa ini? Kenapa Oma teriak teriak?"


"Masuk! Mendekat!"


"Oma…."


"Apa kau mengundang Emma? Mantan pacarmu yang membuatmu hampir bunuh diri?"


David diam dalam langkahnya sesaat, dia kembali melangkah mendekat. "Ya, aku mengundangnya dan keluarganya. Juga semua anggota keluargaku yang ada di Amerika."


"David! Kau tahu mereka bagaimana," ucap Oma frustasi.


Dia ingat betul bagaimana sifat dari orang orang di sana, bahkan Oma sendiri tidak bisa menghadapinya jika tidak dipaksakan.


"David!"


"Mereka takut padaku, Oma. Mereka tidak akan berani."


"Tapi ini Lily. Lily akan berhadapan dengan mereka, mendengar semua ucapan busuk mereka. Kau pikir Lily akan tahan? Mereka semena mena dan tidak punya attitude."


"Oma…" David duduk di samping Oma. "Itu alasan David mengundang mereka. Supaya mereka tahu Lily adalah istriku. Dan suatu keharusan untuk mereka takut padanya, karena siapapun yang membuat Lily tersakiti, akan aku ratakan kekayaan mereka dengan tanah."


Oma diam, memang benar mereka menakuti David. Pasalnya David memegang kendali atas semua keuangan mereka.


"Jangan takut, Oma. Lily ada dalam lindunganku. Aku tidak akan memaafkan siapa saja yang menyinggungnya, termasuk Mama sendiri."


"Astaga, kau dewasa dengan lambat."


David hampir tersedak ludahnya sendiri.


"Dewasa dengan lambat?"


"Ya, di umurmu yang sekarang, kau baru dewasa. Cukup mengecewakan, tapi lebih baik daripada si calon penghuni akhirat."


"Calon penghuni akhirat?"


"Sebastian."


David kehilangan kata kata lagi. "Jadi karena ini Oma mengutukku dengan mimpi buruk."


"Apa salahnya mimpi buruk? Seorang pria memang seharusnya mimpi buruk agar penuh tantangan, dan melatih jantung agar tidak lemah. Kau seharusnya bersyukur Oma mendoakanmu mimpi buruk, itu akan penuh tantangan dan adrenalin. Kau suka bukan?"


"Aku suka olahraga ekstrem, bukan mimpi dikejar dedemit."


🌹🌹


tbc...


🌹Ajak yang lain ya🌹


Menonton TV di kamar megingatkan Lily pada Oma, apalagi dengan David di sampingnya yang sedang minum alkohol.


"Jangan teralu banyak," ucap Lily menahan David kembali meneguk. "Itu tidak baik untuk kesehatan."


David terkekeh. "Maaf, Sayang. Aku tidak tahan."


"Bagaimana keadaan Oma?"


"Menyenderlah padaku," ucap David menarik agar punggung Lily bersandar di dadanya. "Oma baik baik saja, tapi sepertinya untuk beberapa bulan ke depan kau harus senam sendirian di sini bersama Mete. Oma sedang dalam pemulihan tulang."


"Pemulihan tulang?"


"Dia ingin menjadi brides maid, ingat?"


Lily tersenyum menahan tawa sambil makan pop corn. Pernikahan Lily dan David di majukan demi Oma, agar dia bisa berdiri tegak tanpa bongkok. Mengingat tulang punggungnya yang bongkok membuat gaun yang dipakainya menjadi menungging bagian belakangnya.


Resepsi pernikahan Lily akan digelar sekitar dua bulanan lagi. Beruntungnya undangan yang disebar adalah media elektronik, jadi bisa diubah. 


Untuk undangan, David membagikan tablet bermerk Apple pada setiap orangnya. Dengan di dalam tablet itu sudah diisi dengan pengingat pernikahannya. Sebuah tablet yang dipesan khusus, dengan corak dan berlian di sekitarnya.


"Besok kau bekerja?"


"Ya, ada apa, Sayang?"


"Sekretarismu masih Pak Rio?" Tanya Lily.


"Kenapa kau menanykan pria tua itu?"


"David, aku merasa kasihan padanya. Dia sudah tua, kenapa kau jadikan dia sekretaris?"


"Aku yakin kau tahu alasannya, Sayang."


Lily diam sejenak. "Memang benar," gumamnya.


Saat keheningan melanda, tiba tiba perut Lily berbunyi.


"Astaga, Sayang. Bayi bayi kita menekan bel kelaparan."


Lily memeluk perutnya seketika saat David tiba tiba berdiri.


"Tunggu sebentar, Sayang sayangku, Papa akan bawakan makanan. Kau ingin makan apa, Sayang?'


Lily menggeleng. "Aku tidak lapar."


"Bayi bayi kita menekan bel kelaparan."


"Tapi aku benar benar tidak lapar, David. Mungkin ini hanya asam lambung."


"Asam lambung? Itu bel kelaparan. Katakan apa yang kau inginkan, aku suami siaga melayani istrinya yang ngidam."


Lily diam, karena memang dia tidak lapar.


"Katakan apa yang kau inginkan sayang."


"Aku ingin makan roti dan minum badak."


🌹🌹🌹


David keluar kamar dengan ekspresi bingung, dia menelpon pada Holland.


"Hallo, Tuan Muda?"


"Belikan aku roti badak?"


"Ya?"


Sebenarnya David mengetes, jika Holland berkata iya tanpa nada bertanya, pasti roti yang dimaksudkan ada.


"Anda mabuk, Tuan Muda?"


"Daging badak?"


"Apa anda tersedak?"


David berdecak. "Lily ingin makan roti dan minum badak. Apa dia vampire minum darah badak?"


Di sana, Holland berusaha menahan tawanya. Inila yang David lakukan, dia tidak sungkan menunjukan jati dirinya di hadapan orang terdekatnya. 


Berbeda di luar sana, David di kenal sebagai pria dingin yang arogant.


"Mungkin maksudnya lar*tan Cap Badak, Tuan."


"Cap Badak?"


"Ya, yang diiklankan oleh De*i Miz*ar."


"Terserah. Bawakan itu."


"Baik, roti rasa apa, Tuan?"


"Strawberry saja."


"Baik, Tuan."


David menutup telpon, dia menatap ke arah dapur untuk membuatkan sesuatu.


"Roti badak mungkin masih lama, aku harus membuat sesuatu untuk bayi bayiku," ucap David mulai membuat makanan.


Dengan berbahan dasar sayuran, David membuat pasta sayuran yang sehat dan bergizi. Tidak lupa dia membawa susu hangat untuk istrinya.


"Lily Sayang, makan ini selagi Holland membawakannya."


"Wah…." Lily tersenyum bahagia, dia menyantapnya seketika.


Membuat David tidak kuasa mengusap rambut istrinya. "Makan dengan pelan, aku tidak akan minta."


Dan segelas susu hangat benar benar membuat Lily kenyang. "Terima kasih."


"Sama sama. Aku yakin semua makanan itu menambah tenagamu."


"Ya?"


"Aku masih punya 120 pengaman, bagaimana jika malam ini salah satunya?"


Lily menelan ludahnya kasar.


"David…. Aku mengantuk."


"A--apa?"


"Maaf," cicit Lily dengan suara pelan. "Aku boleh tidur ya? Aku tidak tahan. Mu…. Mungkin besok pagi kita bisa…. Mmm…… kau bisa… mengunjungi bayi bayi kita…."


David kehilangan kata kata. "Baiklah, tidak apa."


Lily tersenyum, malu malu dia memberikan ciuman di pipi David. "Aku tidur ya."


"Bagaimana dengan badak?"


"Kau saja yang minum, itu bagus untukmu."


🌹🌹🌹


tbc...