
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK, EMAK SAYANG BANGET SAMA KALIAN.🌹
🌹IGEH EMAK JUGA DI FOLLOW DI : @REDLILY123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN.🌹
Cantika kembali ke kamarnya, dia sendirian di rumah karena Mama maupun Neneknya belum kembali. Satu hal yang sedang dipikirkannya, apakah hal benar Cantika melepaskan Ares untuk Laura? Dia memang menyukai Ares. Jelas, siapa yang tidak menyukai pria setampan Ares. Namun, dirinya juga sadar diri, rasa suka itu tidak pernah sampai ingin membuatnya menjadi pacar Ares atau memiliki hubungan yang serius dengan pria itu. Jelas Cantika mengagumi pria yang sangat dia sukai sejak kecil itu.
"Huftt…. Dia benar benar jahat. Aku pikir Athena hanya bercanda, tapi dia benar benar jahat."
Cantika memejamkan matanya sambil tidur terlentang, dia mencoba untuk menenangkan pikirannya dan berpikir positif supaya tidak membuat hubungan Ares dan Laura menjadi renggang jika dirinya berbuat kesalahan. Apalagi yang Cantika tahu jika Ares sangat menyukai Laura.
"Mungkin dia sedang malas memakan kue itu. Atau kue itu tidak enak?"
"Oh.. mungkin kue nya basi."
"Atau tertumpah sesuatu lalu kemudian dia terpaksa membuangnya."
"Tenang, Cantika. Jangan pernah berfikiran negative, dia mungkin punya alasan."
Begitulah cara Cantika mencoba meyakinian kepada dirinya sendiri bahwa semua yang di pikiran negative nya tidak terjadi. Sampai dia ingat sesuatu dan berkata, "Ah, tapi raut wajah Laura mengatakan kebalikannya."
Cantika berguling guling di ranjang merasa bingung. "Tau ah bingung!"
"Apanya yang bingung?"
"Astaga dragon!" Cantika menatap ke arah pintu, dimana Kakeknya kini sedang menatapnya penuh dengan pertanyaan. "Sejak kapan Kakek di sana?"
"Baru saja, kemana yang lain?"
"Nenek sedang mengantar Mama. Kenapa Kakek sudah pulang? Bukannya ada pekerjaan penting di museum?"
"Oh iya, ini hapenya."
Cantika langsung melompat dari tempat tidur dan menerima ponselnya yang sudah diperbaiki. Senyumannya mengembang melihat benda pink itu kini kembali menyala. "Kakek sudah makan?"
"Buatin Kakek bekal ya, Kakek mau ke sana lagi."
"Oke, Kakek."
Cantika langsung melangkah penuh rasa senang menuju dapur. Dia menyiapkan bekal untuk kakeknya dengan penuh semangat.
Yang mana membuat sang kakek tersenyum sampai dia melihat ada tumpukan susu strawberry di bawah meja. "Tika ini susu dari mana?"
"Oh, tadi Ares ke sini nengok Tika. Dia bawa susu sama roti. Kakek mau bawa rotinya?"
"Enggak, di museum juga banyak. Masa kakek disediain roti sama susu di sana coba."
Cantika tertawa. "Yang nyediain siapa itu?"
"Ya itu yang beli museumnya. Kakek sampai heran temanmu itu memiliki banyak uang. Apa kalian berpacaran?"
"Tidak, Kakek," ucap Cantika yang sibuk memasukan lauk pauk ke dalam rantang. "Kami bersahabat sejak kecil."
"Kalian lebih pantas berpacaran karena sudah begitu dekat."
"Ini makannya sudah selesai, Pak Boss."
Kakeknya bangkit berdiri dan menerima rantang itu. "Inget, Tika. Kalau suka jangan dipendam, keluarkan saja. Tidak bagus untuk kesehatan lagipula."
Cantika mendengus saat Kakeknya mencubit ujung hidungnya. "Daahh, Kakek! Hati hati di jalan."
Kakeknya hanya tertawa melihat sifat cucunya yang ceria itu.
Cantika kembali ke kamar dan menyalakan ponselnya, setelah ponsel itu aktif bermunculan lah notifikasi panggilan tidak terjawab dan juga pesan masuk yang didominasi oleh Ares yang menanyakan apakah ponselnya sudah aktif atau belum.
Yang mana membuat Cantika segera menelponnya kembali.
"Hall--"
"Centini kau ini dari mana saja? Sudah bisa menelpon?"
"Ponselnya baru saja tiba. Bagaimana keadaan hidungmu?"
Ares berdehem. "Sudah lebih baik, tidak usah dipikirkan. Dan lupakan itu, tidak ada yang boleh tahu tentang ini. Oke?"
Cantika mengangguk tatkala mendapatkan petuan dari Ares dengan nada bicara yang begitu penuh penekanan. "Oke."
"Bagus kalau kau mengerti." Kemudian nada bicaranya kembali berubah. "Apa yang sedang kau lakukan?"
🌹🌹🌹🌹🌹
"Sudah dulu, Centini. Pria tampan ini harus melakukan sesuatu."
Ares mematikan telpon begitu mendengar suara ketukan. Tidak lama kemudian muncullah sosok bidadari yang begitu cantik.
"Hallo, Mommy."
"Bagaimana hidungmu?"
"Mom, itu mengerikan. Berhenti bertanya bagaimana keadaan hidung, bergantilah dengan bertanya bagaimana keadaanmu."
Lily tertawa mendengar penuturan putranya, dia mengusap kepala Ares dan duduk di pinggir ranjang menghadap putra tunggalnya yang sedang berbaring. "Sedang menelpon?"
"Tidak, sudah selesai."
"Ouh… gebetan?"
"Bukan, itu Centini."
"Centini?" Tanya Lily bingung.
"Cantika maksud Ares, Mom."
Membuat ibunya seketika menjitak kepala putranya itu. "Dilarang merubah nama anak orang lain, Ares. Panggil dengan benar."
"Iya, Cantika."
"Makanlah ini, Mommy membuatkan ini untukmu."
Ares bangun dengan mendudukan dirinya dan bersandar pada ranjang, dia sedikit heran. "Um… Mommy biasanya memberi pudding jika ada hal yang penting. Apa ini? Apa Mommy sedang hamil lagi?"
"Kau pikir Mommy membuatnya hanya untuk itu? Kau berharga, jadi Mommy membuatnya."
Ares memakannya dengan kening masih berkerut memperlihatkan kecurigaan."Mommy hamil 'kan?"
"Tidak, Ares. Mommy tidak berencana hamil lagi. Mommy akan fokus pada kalian saja, anak anak Mommy."
"Serius? Daddy bilang dia ingin punya anak lagi saat pensiun?"
"Jangan hiraukan dia, makanlah dan turun saat makan malam nanti."
"Oke, Mommy. Terima kasih," ucap Ares memberi pelukan singkat pada Mommy nya.Â
Sampai ketika Mommy nya keluar, ponsep Ares kembali berbunyi. Membuatnya semangat melihat ponselnya. Ternyata itu dari Laura.
Ada rasa ragu untuk mengangkat panggilan. "Hallo?"
"Ares, bisakah kau menemaniku keluar malam ini? Kumohon…. Supirku sakit dan ayahku tidak ada di rumah, aku harus pergi ke suatu tempat."
"Eum…"
"Kumohon…."
"Oke, kapan?"
"Ada acara apa?"
"Menemui teman temanku. Kumohon yaaa… ini sudah direncanakan jauh jauh hari tapi tidak ada yang mengantarku, aku juga mau kau menemaniku. Please…."
Sebenarnya Ares hendak merekomendasikan Laura untuk memakai jasa grab karena dia tidak bisa ikut ke pesta dan bertemu banyak orang yang tidak dikenalnya. Itu membuatnya tidak nyaman, apalagi jika tidak ada kepentingan yang begitu darurat.
"Ares….? Please…. Antar dan temani aku yaaa…."
"Baiklah."
"Oke, aku memakai dress abu abu, tolong samakan oke?"
Ares mengangguk. "Oke, sampai jumpa nanti malam."
"Sampai jumpa, terima kasih Ares."
Ares keluar dari kamar, dia harus mengatakan kepada mommy nya kalau dia tidak akan makan malam di rumah mengingat dia akan pergi menemani Laura.Â
Saat hendak menuruni tangga, Ares melihat kembarannya yang sedang memilih pakaian. "Apa itu? Kau akan pergi?"
"Ya, aku dan Arin akan ke rumah Cantika."
"Kenapa harus memakai pakaian bagus?"
"Astaga, kau ingin aku memakai pakaian yang jelek? Kau ini bagaimana. Kau tidak tahu cara bertamu?" Tanya Athena sensitive dan segera menutup pintu di depan wajah Ares.
Yang mana membuat Ares menoleh pada Alden yang baru saja menaiki tangga. "Ada apa dengan saudaraku?"
"Moon day?"
"Bukan, kenapa dia tidak mengajakku ke rumah Cantika?"
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Laura kini sedang berdandan di kamarnya, menatap cermin sambil sesekali melihat ke arah kamera dimana dia sedang melakukan video call bersama dengan teman temannya.
"Sekaya apa dia?" Tanya temannya yang usianya sama dewasa dengannya.Â
"Coba lihat di google, keluarganya sangat terkenal. Bahkan kini usaha real estatenya berpusat di Amerika, bukan lagi di Indonesia."
"Gila gila! Mereka sangat kaya!"
"Aku tidak bisa menemukan fotonya, ini foto keluarga beberapa belas tahun lagi saat ibunya masih mengandungnya."
"Akan aku kirimkan fotonya," ucap Laura menghentikan aktivitasnya yang sedang membuat alis. "Bagaimana?"
"Hell, dia perpaduan sempurna!"
"Masih muda dan harta berlimpah? Dimana lagi kau bisa mendapatkannya?"
"Gilaaaa! Om om yang biasa memberimu hadiah saja kalah jauh!"
"Mimpi apa kau semalam hingga bisa mendapatkannya?!"
Begitulah video call group itu menjadi ramai hanya karena foto Candid yang diberikan Laura.Â
"Kalian akan lebih terkejut jika melihat aslinya. Tunggu saja dan aku akan memperlihatkannya pada kalian. Aku akan membawanya ke pesta nanti oke?"
"Oke, kami menunggu. Jangan lupa ajak dia ke atas ranjang."
"Hei, dia masih 17 tahun."
"Atau kau mungkin akan terlupakan jika tidak mengikatnya, Laura."
"Diam," ucap Laura kesal. "Dia akan menjadi milikku."
Sampai telinganya mendengar suara mobil datang, Laura mengintip lewat jendela. Dia tersenyum pria pujaannya datang dengan mobil sport hitam yang begitu mewah.Â
"Dia datang, aku akan menutup panggilan."
Laura berlari ke arah pintu untuk membuka pintu sendiri. "Hai," ucapnya menyapa dengan senyuman termanisnya.
"Supirmu ada."
"Ah, ya… dia baru saja kembali. Tidak rugi bukan pergi denganku. Ayolah masuk dulu, aku akan berganti pakaian."
Ares masuk dan duduk di sofa.
"Kau ingin minum apa?" Tanya Laura.
"Tidak perlu, lekas lah bersiap."
"Oke."
Diam diam Laura menelan ludahnya kasar, bagaimana bisa Ares begitu tampan dengan balutan kemeja hitam dan celana jeans lalu rambutnya yang rapi. Ditambah jam mahal miliknya memperjelas statusnya.
"Akan aku buat semua temanku terpesona dengan ikan yang menyangkut di jaring ku," ucap Laura melompat lompat di kamarnya karena gembira.
Di sisi lain, Arin sudah sampai bersama dengan Athena di rumah Cantika. Mereka berencana untuk makan malam diluar bersama. Apalagi Athena yang akan menjanjikan untuk mentraktir kedua temannya karena sudah bisa bermain biola.
"Kakimu sudah tidak terlalu sakit bukan?"
"Sudah mendingan," ucap Cantika yang sedang bersiap.Â
"Ayoo cepat, Pak Grab nya sudah menunggu," ucap Athena yang mulai kesal. "Ayo Cantika."
"Iya ayo."
Ketiganya berpamitan dulu kepada Nenek yang ada di dapur. Mereka keluar bukan karena hanya akan makan saja, tapi juga mengerjakan tugas dengan Cantika yang akan mengajar. Mereka butuh suasana baru agar otak mereka cair.
Saat Arin dan Athena sedang bicara dengan Nenek, Cantika menemui mamanya dahulu.Â
"Nanti pulangnya gimana?"
"Naik taksi online lagi, Ma."
"Ini bawa ini," ucap sang mama mengambil dompetnya.
"Ih, Cantika masih punya uang jajan. Uda ya, Cantika berangkat dulu. Byeee, Mama."
CUP.
Satu kecupan mendarat di pipi sang mama kemudian Cantika bergegas keluar guna menghindar diberikan uang jajan tambahan.
"Ayo guys. Nenek, Tika berangkat ya."
"Hati hati."
"Iya, Nek."
Bersamaan dengan mereka yang keluar dari gerbang rumah Cantika, ketiganya mendengar suara tawa.
Melihat ke sumber suara, di sana terlihat Laura yang begitu cantik dengan Ares yang terlihat tampan sedang menuju mobil hitam mewah itu. Ares maupun Laura tidak menyadari keberadaan mata yang melihat ke arah mereka.
"Ah… pada akhirnya idol kita punya pasangan," ucap Arin.
"Ini alasan dia tidak makan malam di rumah ternyata, keluar karena hal yang tidak penting. Ck ck ck," ucap Athena.
'Semoga Laura benar benar menyayangi Ares,' doa Cantika dalam hati.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
To be continue