
🌹iG Emak : @RedLily123🌹
Usapan di kepala membuat Lily membuka matanya secara perlahan. Dia terkejut mendapati David ada di depannya.
"Selamat pagi, sayangku," ucap David sembari mengusap kepala istrinya. "Apa kau merindukanku? Ah, kau pasti merindukanku karena tidak ada pria setampan diriku di sini."
Lily tidak bisa berkata kata, dia menangis saat itu juga.
"Sayang…..," ucap David segera memeluk istrinya. Dia juga merasa sangat bersalah.
David memang pernah sedikit goyah, sisi buruknya menyalahkan Lily atas kematian Dena. Namun, saat dia berfikir lagi, itu adalah kesalahannya karena dirinya tidak bisa menengahi diantara keduanya.
David juga berfikir, jika dia membenci Lily tidak akan ada gunanya. Dena tidak akan hidup lagi, dan itu akan menyakiti istrinya.
Pemikiran itu membuat David membenci dirinya sendiri, dia menyesal pernah berfikir di sisi buruk dengan menyalahkan Lily.
"Maafkan aku."
Lily terisak di pelukan suaminya. "Apa…. Hiks… kau membenciku?" Tanya Lily dengan suara pelannya. "Kau…. Tidak…. Hiks… membalas…. Hiks… pesanku…."
"Maaf."
"Kau membenciku bukan?"
"Tidak, Sayang," ucap David mengubur pemikirannya yang pernah begitu sebelum akhirnya dia menyalahkan dirinya sendiri. "Maaf, tidak akan aku lakukan lagi. Akan aku kabari kau tiap waktu. Aku janji."
Lily mendorong pelan dada suaminya agar tatapan mereka beradu.
"Kau benar membenciku?"
"Tidak, Sayang." Tangan David merangkup pipi istrinya.
Yang membuat Lily mendorong kembali dadanya pelan sebelum mengusap air matanya. "Jika kau membenciku, tidak ada alasan untukmu membenciku, David."
"Sayang, ak--"
Lily bangun dari tidurnya, membuat David ikut melakukannya. Dia menahan tangan istrinya untuk tidak bergerak. "Sayang, aku benar benar minta maaf."
"Aku memaafkanmu, tapi aku tidak bisa langsung bersikap seolah tidak ada apa apa. Karena kau seharusnya membenciku jika melakukan itu."
"Aku tidak membencimu," ucap David dengan penuh penekanan.
Lily kembali melepaskan tangan suaminya. "Jika tidak membenciku, seharusnya kau tidak melakukan itu."
David menghela napas saat Lily masuk ke kamar mandi meninggalkannya
Tidak ada pilihan David selain pergi ke kamar anak anak untuk memberi ruang pada istrinya.
Kening David berkerut saat tidak mendapati anak anaknya di sana. "Apa mereka sudah bangun?"
David menjelajahi ruangan. Kamar Athena dan Ares tersambung oleh pintu kaca. Jadi bisa melihat satu sama lain meskipun pintu tertutup. "Ares? Thea?"
Dan saat itu….. "Seraaaaangggg!!!"
"Selaaaaaaanggggg!"
BUK!
BUK!
BUK!
"Aaaaaaaa!" Teriak David saat dia mendapatkan pukulan bertubi tubi lewat bantal spongebob.
Sementara Athena sibuk mencoret kaki David dengan spidol.
"Kids!"
"Daddy jahatttt!" Teriak Ares masih memukuli.
"Daddy tengiiikkk!"Â
David menarik napas dalam saat serangan selesai, dia tidur terlentang merasa lelah. "Astaga, apa Jepang dan Amerika mengutus kalian?"
Ares seketika menduduki daddy nya, diikuti oleh Athena yang duduk di belakang Ares.
"Kenapa kalian melakukan ini? Hu hu hu hu." David menirukan orang yang menangis sambil menutup wajah.
Saat itulah anak anaknya merebah di dadanya. "Mommy menangis tiap hari, Daddy."
"Yaaa, Mommy nangis gala gala Daddy."
"Really?" Tanya David.
"Kalena itu, Daddy akan belpelang dengan kami."
"Kami tidak akan memberi ciuman pada Daddy."
Athena menengok pada saudaranya. "Bagaimana calanya?"
"Kami tidak butuh uang, karena yang terpenting adalah Mommy!"
"Yaaa, betull!"
Kemudian…. BUK! BUK! BUK! BUK!Â
Pukulan kembali terjadi.
🌹🌹🌹
Ternyat benar, anak anaknya tidak lagi menyambutnya seperti biasa. Ares dan Athena ikut marah karena membuat Lily sedih.
Sebagai seorang istri, Lily mencoba menetralkan keadaan.
"Aresss…. Theaaaaa…..," panggil David. "Daddy ingin pelukan."
"No," ucap Ares dan Athena secara bersamaan.Â
Membuat Lily yang sedang menyuapi mereka mengusap rambut mereka. "Tidak boleh seperti itu, Daddy merindukan kalian."
Ares menggeleng. "Daddy nakal."
"Dan tengik," tambah Athena yang membuat Lily ingin tertawa.
"Tidak…..," ucap Lily mencoba membela, dia kasihan melihat tubuh David yang sudah penuh dengan coretan spidol. "Daddy sedang sibuk waktu itu."
"Dan kesibukan Daddy tidak berhak membuat Mommy menangis!"
"Betullll!"
David menatap kedua anaknya dari kejauhan sambil berbaring. "Bolehkah Daddy mandi?"
"Nooo! Jika Daddy mandi, nanti Thea malah!"
"Yaa! Hukuman Daddy adalah bekas spidol itu."
David menghela napas dalam. Dia tidak bisa keluar dengan tubuh selain wajah yang penuh coretan spidol. Apalagi saat Ares berkata, "Mom, ayo beli siomay."
"Siomay?" Tanya David heran. "Kapan tukang siomay datang ke Thailand?"
Lily mengerucutkan bibirnya. "Aku tidak tahu apa namanya, tapi bentuknya mirip siomay. Kau tau aku tidak sepintar dirimu."
"Sayang….., aku tidak bermaksud begitu."
"Ayo, Mommy!"
"Ayo pelgi, Mom!"
Lily tersenyum, dia bersiap keluar. Sebelum pergi, Lily memberi tatapan menyejukan pada David.Â
"Bye, Daddy!"
"Selamat menyendili!"
"Ha ha ha ha!" Kedua anaknya tertawa.
David menghela napas dalam saat istri dan anak anaknya pergi. Saat itulah David melakukan video call pada Sebastian dan Luke.
"Apa lagi?!" Tanya Luke kesal.
"Apa yang ingin kau pamerkan kali ini?"
David tersenyum, dia sengaja hanya memperlihatkan wajahnya saja yang tidak dicoret anak anak. "Aku ingin memperlihatkan penginapan level satu yang sangat mengagumkan. Aku tau kalian akan terkejut, ini mahal loh."
Sebastian berdecak saat David mulai berkeliling.
"Ini berada di bawah danau, dengan kaca yang tebal tapi transparan. Bagus bukan?"
Luke menguap. "Jika sudah selesai beritahu aku, Bas."
"David, apa kau ti-- Astaga! Luke lihat tubuhnya! Aku pikir David diculik kelompok sekte! Banyak tanda abstrak di tubuhnya! Luke! Luke!"Â
Dan hanya ada suara mengorok dari Luke.
"Luke! David diculik anggota sekte! Pantas saja dia terus pamer! Otaknya dicuci!"
"Bukan begitu! Apa kau gila, Bas?!"Â
🌹🌹🌹
TBC