Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
S2 : Tetap menggenggam



🌹VOTEE YEE GAISSS🌹


Lily terus mengusap punggung David penuh kesabaran. Dia menghela napas sebelum ikut membaringkan badan di samping suaminya.


Tangannya tetap mengusap punggung David, sementara matanya menatap David yang memejamkan matanya.


David berubah menjadi sangat manja karena kehamilan istrinya. Sering mabuk, mudah badmood oleh hal hal kecil sampai masalah lainnya.


Ketika sedang memandang kekasih hatinya, terdengar suara pintu terbuka.


"Mommy?"


"Thea? Come here, Darling," ucap Lily merentangkan tangannya. "Apa yang kau bawa?"


"Teh hangal untuk Daddy."


"Eum…. Anak cantik Mommy," ucap Lily terharu. "Simpan di sini, Sayang. Daddy sedang tidur, ingin ikut berbaring?"


Athena mengangguk, dia gabung berada di tengah. Sambil tengkurap, matanya menatap wajah daddy nya yang terlelap.


"Apa Daddy sakit kalena bayina, Mom?"


"Tidak, Sayang. Daddy hanya sedang kelelahan."


Athena beralih pandang pada Lily.


"Dimana Ares?"


"With Koh Chen and Oma. Alesna main."


"Kenapa kau ke sini? Tidak bermain di sana?"


"Thea kasian pana Daddy."


Saat itulah David membuka matanya, dia mengusap rambut Athena yang mana membuat ananya menengok. "Daddy, ale you oke?"


"Iam fine, Princess. Apa yang sedang dilakukan Koh Chen? Kenapa kau di sini?"


"Koh Chena sedal kasih lem pada wigna belsama Ales."


David merasa tidak enak pada sang mertua, dia mendudukan diri yang mana membuat Lily khawatir. "Mau kemana?"


"Aku baik baik saja, Sayang. Aku akan keluar."


"Sudah tidak pusing?" Tanya Lily mengingat tadi Holland bahkan membantu membopong David yang hampir limbung.


Tubuh David yang kekar dan tinggi membuat tidak ada yang kuasa menggendongnya. Terlepas dari itu, David menjunjung tinggi harga dirinya di depan anak anaknya.


"Lebih baik tidur lagi, kau belum pulih."


"Sayang, aku bukan pria biasa," ucap David berdiri, dia mengambil kaosnya di walk in closet. "Aku ini pria kuat dan perkasa. Jangan lupa aku yang membuat si kembar."


"Apa yang Daddy bicalakan, Mom?"


Lily berdehem memberi isyarat pada David untuk lebih memfilter ucapan. Ada anaknya di sini.


David terkekeh, dia berjongkok di depan Athena. "Daddy sedang mengatakan pada Mommy kalau Daddy ini pria super yang tidak terkalahkan."


"Leally?"


"Ya, orang tampan tidak mudah tumbang, Darling," ucap David membawa putrinya ke dalam gendongan lalu berdiri. 


"Huft…." Athena mendesah. "Untung Ales jelek."


"Astaga." David bergumam. "Kau akan ke sana, Sayang?"


Lily mengangguk. "Aku akan menyusul nanti."


"Daddy wait!"


"Yes, Darling?"


"Thea bawa teh hangal."


"Astaga, putriku yang cantik," ucap David memberikan ciuman di pipi putrinya.


Sebelum keluar, David meneguk teh yang dibawakan putrinya. Dia keluar sambil menggendong Athena. Melihat Oma yang sibuk bersama Ares di dapur, David mendekat pada mereka lebih dulu. "Kenapa kalian di sini? Di mana Tuan Chen?"


"Di ruang sana, Oma sedang membuat cemilan. Apa kau masih mual?"


"Sudah tidak."


"Senang melihat kau menderita," bisik Oma takut didengar cicitnya.


David memutar bola mata malas, dia menurunkan Athena. "Tunggu di sini ya, Sayang. Daddy akan menemui Koh Chen dulu."


"Yes, Daddy."


Setelah melihat putrinya bergabung dengan Oma, baru David melangkah mendekati Tuan Chen.


"Maaf atas kejadian yang tidak diinginkan."


"Santai saja, aku baik baik saja."


David bergabung duduk di sana. "Apa kau yakin akan pulang besok?"


"Ya, dan terima kasih telah menyiapkan jet pribadi untukku. Tapi aku tidak bisa menaikinya."


"Apa kau masih merasa tidak enak? Lily sudah memaafkan dan menerimamu."


Tuan Chen hanya tersenyum. Wajah China asli Tuan Chen menjadi jawaban kenapa Lily sangat cantik dengan mata sipitnya.


"Aku belum bisa memaafkan diriku sendiri."


"Maka lekas lakukan itu, banyak hal yang ingin dilakukan istriku bersama keluarganya, orangtuanya."


Tuan Chen menatap David. "Denganmu menjaga putriku, itu sudah cukup bagiku mulai memaafkan diri sendiri. Jadi aku mohon, jangan pernah lepaskan genggaman tangannya."


"Aku berjanji."


🌹🌹🌹


"Jaga kesehatanmu."


Lily mengangguk. "Lain kali datang bersama Ibu."


Tuan Chen tersenyum, dia mengusap pipi putrinya. "Jangan khawatir."


"Apa yakin tidak perlu diantar? Nina memiliki jadwal kosong."


"Tidak. Berkemaslah, aku tau kau aka pergi dua jam lagi."


Di ambang pintu rumah Lily, mereka berpisah. Tuan Chen berjalan menuju taksi yang sudah dia pesan.


Air mata Lily menetes saat ingat Tuan Chen mambawakan banyak makanan Khas China untuknya.


Melihat istrinya menangis, David dan anak anak memeluk Lily. Membuat perempuan itu tertawa. "Oke, ayo kita bersiap siap ke bandara."


"Dont cry, Mommy," ucap Aron. "Ares akan baik agar Mommy senyum."


"Oke, sekarang bersiaplah."


Koper koper itu mulai dimasukan ke dalam mobil. 


"Kita akan ke rumah Oma dulu?"


"Ya, diperjalanan menuju bandara, Sayang," ucap David. "Hey kids! Ayo masuk!"


Anak anak itu langsung berlarian masuk ke dalam mobil. 


Ketika Lily hendak masuk, terdengar keributan di gerbang depan. Dan alangkah terkejutnya Lily melihat sosok Dena berlari menuju arah mereka.


David segera memberi isyarat pada pengawal untuk diam dan mengawasi. Dia mendekat diikuti Lily dari belakang diam diam.


"Apa yang Mama lakukan di sini? Bagaimana Mama bisa di sini?"


"Itu yang kau katakan setelah mengurungku?!" Teriak Dena. "Karena wanita itu?!"


Saat itulah David sadar ada Lily di belakangnya. "Sayang, masuk ke dalam mobil."


"Tidak," tolak Lily. "Aku harus tau kenapa kau sangat membenciku? Bahkan setelah aku melahirkan anak David?"


"Darahmu tetap miskin, itu takkan mengubah apa pun! Kau alasan kenapa David jauh dariku! Dia menjadi mengacuhkanku."


"Kau yang membuangku lebih dulu, Mama. Kau pergi bersama pria lain."


Dena tertawa tidak percaya. "Oke, keputusan ada di tanganmu. Pilih Mama atau si miskin itu?"


David diam menatap tidak percaya. "Mama, aku mohon sadarlah. Jangan sampai aku membuat hal yang tidak kau inginkan lagi."


"Pilih Mama atau si miskin?!"


David tahu Dena takkan pernah berubah. Maka dia memutuskan, "Bawa Nyonya Dena kembali ke Amerika, dia pasti kabur. Lakukan penjagaan ketat secara terang terangan, jangan sampai menginjakan kaki di negara ini lagi."


"Baik, Tuan."


"Ini semua gara gara kau!"


Para penjaga itu langsung siaga saat Dena akan menyerang Lily. "Ini semua gara gara kau, Miskin!"


David segera membawa istrinya yang meneteskan air mata. Dia menggenggam tangan istrinya dan berucap, "Bukan kau penyebabnya, Sayang. Dan aku takkan melepaskan tangan ini."


🌹🌹🌹


TBC