Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Pengertian



🌹Vote ya guys🌹


"Kau dengar kan apa kata dokter?"


Pagi hari yang membingungkan untuk Lily. Dokter datang terlambat karena dia punya pekerjaan, membuat dia datang pagi sebelum sarapan. Memeriksa Lily dan menjelaskan.


"Sayang, dokter bilang tidak apa aku menengok anak anakku, asalkan jangan membuang sampah di rumah mereka. Aku akan membeli pengaman, bagaimana?"


Lily masih tidak menginginkannya, dia takut milik David menusuk terlalu dalam.


"Sayang….." David memeluk dari belakang.


Lily yang sedang masak risih.


Tangan David mengusap perut istrinya. "Hampir empat bulan aku tidak bersamamu, aku tidak menengok anak anakku."


Lily masih bungkam.


"Bagaimana, Sayang?"


"Eum…. Bukankah kau harus bekerja?"


"Aku akan libur untuk menghabiskan waktu untuk kalian bertiga."


Lily melepaskan pelukan David, dia membalikan badannya menatap sang suami yang berdiri menjulang di depannya.


"Bagaimana?" David meletakan tangan di pinggang Lily. "Aku merindukanmu."


"Eum…. Sekretarismu memberi email kau ada rapat penting."


David menghela napas malas, membuat Lily tidak kuasa.


"Baiklah."


Seketika mata David membulat. "Kau serius? Aku boleh berkunjung?"


Lily mengangguk pelan. "Hanya sebentar, aku tahu kau ada pertemuan dengan pemilik lokasi hotel yang akan kau bangun."


David menatap jam. Dia ingat pertemuan itu saat makan siang. "Masih lama."


"Kau belum membeli pengaman."


"Aku akan membelinya," ucap David bergegas memakai mantelnya. "Ingin rasa apa?"


"Huh?"


"Rasa apa?"


"Memangnya kau memakannya?"


"Astaga," guman David melupakan sosok istrinya yang masih polos. "Bukan dimakan, hanya saja…. Ya setiap rasa punya sensasi berbeda."


"Sensasi?"


"Huum, kau ingin yang jenisnya seperti apa? Katakan padaku."


Malu malu Lily berkata, "Aku ingin pengaman yang membuat milikmu agak lebih kecil dan pendek."


Seketika David tersedak ludahnya kasar.


"Kecil? Pendek? Sepertimu?"


Lily membalikan badannya merasa pipinya memerah.


Suasana yang awkward di sana, membuat David berdehem. "Aku akan coba mencarinya. Ah, aku akan membawa foto USG pada Oma."


🌹🌹🌹


Hari yang cerah untuk Oma mengukur pakaian sebagai brides maid, dia tersenyun hingga keriput di wajahnya terlihat jelas.


Oma bertepuk tangan riang saat Marylin datang.


"Marylin! Kemarilah!" Teriak Oma dari lantai dua dengan gembira.


Marylin dituntun oleh Eta naik ke lantai dua, menemui Oma yang bertepuk tangan.


"Apakah anda ingin sarapan dahulu, Nyonya Besar?"


"Ya, ya, bawakan ke sini. Apa kau sudah sarapan, Marylin?" Tanya Oma dengan cara merayu agar Marylin membuatkan sarapan untuknya.


"Belum, Nyonya Besar."


"Bawa makanan untuknya juga, Eta."


"Ayo ke dalam, Marylin," ucap Oma mendahului dengan langkahnya yang pelan.


"Mari saya bantu, Nyonya Besar."


"Ya, ya, bagus, Marylin. Kau sangat berguna."


Keduanya menuju balkon kamar Oma untuk sarapan sebelum akhirnya mengukur pakaian untuk Oma menjadi Brides Maid.


"Nyonya Besar, saya mendapat telpon dari WO untuk mengukur pakaian brides maid pernikahan Nyonya Fernandez, saya sedikit terkejut itu anda."


"Ya, aku juga terkejut saat tahu David memilihku," ucap Oma tersenyum lebar, membiarka tangannya terlentang untuk diukur.


"Tapi, Nyonya Besar, saya heran kenapa posisi brides maid hanya satu."


"Entahlah, mungkin David ingin Oma nya menjadi yang special."


"Oh, ya."


"Anda akan sangat cantik, Nyonya Besar."


Tidak dipresiksi, David sudah ada di ambang pintu. "Ya, secantik kulit bayi."


"David?"


"Tuan Muda." Marylin menunduk.


"Pergilah jika sudah selesai. Dan batalkan pakaian brides maid untuk Oma"


"Baik, Tuan Muda." Marylin bergegas pergi.


Meninggalkan Oma dan David di kamar. Oma mengalihkan pandangan guna mengalihkan perhatian, tapi jelas dia sedih.


"Kenapa kau batalkan?"


"Oma ingin menjadi brides maid?"


"Tidak, Marylin datang begitu saja," ucap Oma mengalihkan perhatian. "Aku merasa dingin, aku mau mandi."


"Oma…. Kau tidak memberitahuku, pasal dirimu jadi brides maid."


"Benarkah? Aku menuliskannya?" Tanya Oma dengan mata enggan beradu dengan mata David.


"Oma…"


"Oma tidak melakukannya."


"Tidak ada yang berubah, hanya rencanamu menjadi brides maid."


"Tidak."


"Oma…"


"Baiklah!" Kini Oma menatap manik David dengan tatapan tajam. "Aku yang melakukannya! Aku ingin menjadi brides maid!"


"Oma…." David menahan senyumannya. "Oma ingin menjadi brides maid?"


"Ya, kolom brides maid di sana kosong. Jadi Oma isi dengan namaku!"


"Tidakkah Oma pikir terlalu tua?"


Wajah Oma terlihat sedih, membuat David memilih mengakhiri kejahilannya. Dia memperlihatkan papper bag di belakang badannya. "Oma pikir aku sedurhaka itu?"


"Kau memang durhaka."


"Aku menyiapkan ini untuk Oma dari jauh jauh hari," ucap David memberikan papper bag.


Membuat Oma membukanya, isinya adalah gaun.


"Ini…. Untuk Oma?"


"Oma, tidak perlu menjadi istri kedua Amitha Bachan. Kau bisa menjadi brides maid di perikahanku."


Seketika Oma tersenyum memperlihatkan mulutnya lebar, kulit keriputnya tertarik ke atas. Setelahnya David mendapat pelukan dari Oma.


David segera membalasnya, dia mengusap punggung Oma yang sudah bongkok.


🌹🌹🌹


tbc