Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Mainan rusak



🌹Ajak temen lain baca cerita ini ya, please🥺 he he🌹


Kedua manusia itu memperhatikan apa yang dibicarakan dokter, mengenai keadaan Lily.


"Initinya, Tuan," ucap dokter menatap David kemudian menatap Oma. "Dan, Nyonya Besar, Nyonya Muda mengalami tekanan hingga membuat kandungannya rentan. Lebih jelasnya, sebaiknya beliau dijauhkan dari sesuatu yang membuatnya tertekan."


Oma diam, dia menatap David diam diam yang memprlihatkan kesedihan di matanya.


"Terima kasih, dok. Saya mohon lakukan yang terbaik untuknya, supaya kandungannya kuat."


"Baik, Nyonya Besar."


"Ayo keluar, David. Oma ingin bicara."


Langkah David tidak sekuat sebelumnya, dadanya tidak membusung dengan dagu yang terangkat. Yang ada hanya tatapan kesedihan dan kehampaan. Oma membawa David untuk duduk di sofa di samping balkon lantai VVIP. "Duduk di sini," perintah Oma.


"Kau tidak perlu bicara, dengarkan Oma baik baik David. Jauhi Lily, kau dengar apa kata dokter? Oma akan menjaganya."


Setelah mengatakan itu, Oma bergegas pergi. Tapi David berdiri dan menahan tangan Oma. "Oma, tunggu. Kau tidak akan menjauhkan Lily dariku bukan?"


"Jika itu yang Lily inginkan, Oma akan lakukan."


"Oma, dengarkan dulu penjelasan David."


"Tidak ada yang perlu kau jelaskan, Oma muak dengan tingkahmu yang tidak kunjung dewasa, David. Semua kau tanggung sendiri, biarkan Lily sendiri dan jauhi dia."


Oma menghentakan tangannya dan berjalan menjauh. David terdiam sesaat, sebelum kemarahan itu datang dan tidak bisa di tahan.


"Aaaa!" David memukul tembok di sana sampai retak.


Membuat Holland yang melihatnya bergegas datang. "Tuan, tangan anda ter--"


"Aaaa!" David kembali memukul kaca hingga tangannya semakin terluka. Dia seolah tidak mempedulikan darah yang mengalir di sana. 


David marah pada keadaan, pada dirinya sendiri yang tidak bisa melakukan apa pun.


"Tuan, tenanglah." Holland memberikan tatapan minta bantuan saat ada perawat pria yang datang. "Tenang, Tuan."


Holland menatap perawat yang datang. "Tolong obati tangannya, bawa ke sini peralatannya."


David diam, wajahnya datar menahan emosi pada dirinya sendiri.


Beberapa potongan kecil kaca masih tertancap di tangannya.


"Tenang, Tuan. Marahmu tidak akan menyelesaikan apa pun. Anda harus tenang."


David mengetatkan rahangnya semakin kuat.


"Tuan."


Dan sebelum perawat tadi kembali, David berdiri dan melangkah pergi dari sana.


"Tuan, anda mau ke mana?" Holland mengikuti dari belakang, dia berlari untuk menahan majikannya melakukan sesuatu yang mengerikan.


Sementara itu, Oma kembali ke ruangan Lily. Di mana di sana ada Eta yang sedang menyuapinya.


Lily terlihat banyak melamun. Tubuhnya di sini tapi pikirannya melayang, satu tangannya tetap mengusap perut yang datar.


Oma merasa miris melihat hal itu, dia merasakan sakit apa yang Lily rasakan.


"Sayang…"


"Lily tidak ingin menemui David lagi, Oma."


"Tidak, Sayang. David sudah pergi, dia tidak akan menemuimu lagi. Oma akan berada di sampingmu."


Air mata Lily mulai keluar, dia ingat apa yang David dan Sebastian bicarakan. Itu semua menghancurkan hatinya, membuatnya patah dan tidak bisa diperbaiki lagi.


"Lily membenci David."


"Oma tahu, Sayang. Oma tahu. Oma tidak akan membelanya, sekarang yang kau perlukan hanyalah sembuh dahulu, pulihkan tenaga supaya bayimu sehat. Ingat, kau sedang mengandung."


Lily diam tidak memberikan banyak respon, yang mana membuat Oma memilih memberi ruang. Oma diam di sofa yang ada di ruangan itu, menatap Lily yang bergerak seperti mayat hidup.


Lily menuju kamar mandi diantar Eta. Ketika Lily masuk dan Eta menunggu di luar, Oma memanggil Eta. "Eta, kemarilah."


"Ada apa, Nyonya Besar?"


"Apa dia mengatakan sesuatu?"


"Hanya beberapa kalimat tentang bagaimana dirinya membenci Tuan Muda."


Oma menarik napas dalam. "Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin keduanya berpisah, tapi David sudah keterlaluan, dia menyakiti Lily."


"Saran saya, Nyonya Besar. Anda bantu pertemukan mereka sebentar saja. Beri pengertian pada Nyonya Muda agar mau mendengarkan penjelasan dari Tuan Muda."


Oma berdecak. "Aku saja enggan mendengar penjelasan bodohnya, apalagi Lily. Aku benar benar merasa gagal, Eta. Semuanya jauh dari genggamanku, David masih saja berbuat hal jahat seperti itu."


"Pasti ada alasannya, Nyonya Besar."


"Ya, alasannya karena dia belum belajar sebuah arti kehilangan."


🌹🌹🌹


Sebastian mendengarkan lagu dalam mobil, dengan kacamata hitamnya, dia menikmati keadaan yang hangat matahari. Hidupnya seolah tidak punya beban, tidak peduli pada orang lain, Sebastian hanya peduli pada dirinya sendiri dan juga kepuasan. 


Seluruh hidupnya dicurahkan untuk semua kesenangan, pesona dalam dirinya mengubur setiap wanita. Pemikat, memiliki daya tarik dari seorang pria ********. 


Sebastian sengaja tinggal di Indonesia agar terjauh dari orangtuanya, atau lebih tepatnya dari Ibu tirinya yang membuat Sebastian berspekulasi kalau wanita adalah tempat untuk di sakiti, bukan di sayangi.


Sebastiab menuju ke tempat Luke, dia berhenti di depan mansion pria itu.


Mengetuk bel, sampai akhirnya keluarlah Rara yang menjadi penunggu di sana entah sampai kapan.


"Tuan Luke dan Nona Medina tidak ada di sini."


"Aku tahu," ucap Sebastian. "Aku hanya ingin memberikan ini, Luke menang taruhan."


"Kau boleh pergi, Tuan."


"Hei." Sebastian menahan agar pintu tidak tertutup. "Aku ingin minum. Kau memperlakukan tamu dengan buruk, atau harus aku beritahu Luke dahulu?"


Rara tidak menampilkan ekspresi apa pun, dia membiarkan Sebastian masuk dan menuju ke mini bar. Dia meminum alkohol di sana, menyimpan berkas yang akan diberikannya pada Luke.


"Saya akan membawa ini," ucap Rara mengambilnya.


"Kau senang tinggal di sini?"


Rara menghentikan langkahnya, dia berbalik menatap Sebastian yang duduk di sofa menatapnya. "Ini adalah tugas saya menjaga tempat ini."


"Kau dulu kaya, sekarang miskin. Setidaknya diam di tempat ini mengingatkanmu pada masa kejayaan bukan?"


Rara terdiam. 


"Atau mungkin mengingatkanmu pada Papamu yang gila dan bunuh diri? Membuat impianmu itu terkubur oleh utang. Bukannya menjadi model, kau malah menjadi pembantu."


Rara tidak menampilkan eskpresi apa pun. "Jika tidak ada yang ingin kau bicarakan, saya akan menyimpan ini, Tuan."


"Aku sedang membicarakanmu," ucap Luke kembali membuat Rara menahan langkahnya. "Kau tidak memiliki rasa bahagia lagi dalam dirimu. Aku melihat bagaimana dirimu tertawa, tersenyum dan begitu ceria lima tahun yang lalu. Ke mana kah gadis itu pergi? Apa dia lenyap oleh kematian keluarganya?"


Rara diam, dia tidak melakukan apa pun sampai terdengar bunyi bel lainnya.


"Wow, siapa itu, Rara? Apa diam diam kau membawa pria masuk untuk menjual diri."


Tanpa bicara, Rara keluar dan membukanya. Di sana dia melihat sosok pria lain.


"Ada yang bisa saya bantu?"


David yang sama enggan bicara masuk begitu saja.


"Tuan, apa yang kau perlukan?"


Nyatanya, David hanya melangkah menuju Sebastian di sana.


"Wow, tidak apa, Rara. Dia temanku. Ada apa, David? Apa istrimu baik baik saja?"


Terlihat David yang menahan amarah di balik wajahnya yang datar.


"Katakan padaku, Sobat."


"Ini adalah uang yang kau tanam di perusahaanku, aku mengembalikan semuanya. Perjanjian bisnis kita selesai," ucap David dengan tenang.


"Apa? Apa maksudmu ini, David?"


"Aku tidak ingin terlibat apa pun denganmu lagi. Apa pun," ucap David penuh tekanan dan melangkah pergi dari sana.


Rara sedari tadi hanya dia menatap, sampai Sebastian menyadarinya. "Apa yang kau lihat, wanita miskin?"


🌹🌹🌹


Oma menarik napas dalam sebelum akhirnya dia masuk ke dalam ruangan Lily. Sejak sore, Lily tidak ingin siapa pun masuk, termasuk Eta. Yang mana membuat Eta menunggu di luar ruangan. Untuk perawat saja, mereka harus satu orang yang masuk.


Ketika Oma masuk ke dalam, Lily masih dalam posisi yang sama. Yaitu duduk menghadap jendela yang terbuka.


"Tutup jendelanya, Sayang. Ini sudah malam."


Lily diam, dia tetap mengusap perutnya yang datar.


Oma duduk di samping ranjang. "Lily…."


"Aku tidak ingin bertemu dengannya lagi, Oma."


"Sayang, pikirkan baik baik."


"Jika aku melakukannya, aku akan selalu tersakiti, itu berdampak pada anak anankku nanti, aku tidak ingin itu terjadi, Oma," ucap Lily dengan wajah yang datar.


Oma tidak bisa melakukan apa pun. Dia hanya berucap setelah mengusap kepala Lily. "Oma ada di luar jika kau butuh sesuatu, Sayang."


Dan setelahnya Oma pergi, dia menatap Eta yang berada di luar sana menunggu. "Dia tidak ingin berhubungan lagi dengan David, Eta. Apa yang harus aku lakukan?"


"Tenangkan dirimu, Nyonya Besar. Kamar di depan Nyonya Muda kosong, Holland sudah memintanya untuk anda. Kita bisa istirahat di sana sambil menunggu Nyonya Muda."


Oma dituntun oleh Eta menuju ruangan itu, kepala Oma terlampau pusing oleh kejadian yang sedang berlangsung. 


Dan Lily, dia hanya diam di sana. Pikirannya berkecamuk seorang diri, dengan tangan yang selalu menyentuh perut mengingatkan bahwa dirinya memiliki sesuatu yang harus lebih di jaga. 


Malam semakin larut, Lily tidak sadar waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam.


Sampai dia mendengar suara seseorang melangkah mendekat, Lily tahu siapa seseorang yang datang itu. 


Dia segera turun dari ranjang dan mengunci pintu dari dalam.


Bertepatan, sedetik setelahnya David mencoba membuka pintu. Dia sadar Lily ada di sana, David menatap lewat kaca transparan kecil, di mana Lily ada di belakang pintu. David hanya bisa melihat bagian ujung kepala Lily saja, dia tidak bisa melihat keseluruhan mengingat tubuh Lily begitu mungil.


"Lily Sayang, aku ingin menjelaskan semuanya. Aku mohon buka pintunya."


Lily diam, dia bersandar di balik pintu sambil menangis.


"Lily, aku mohon berikan aku kesempatan menjelaskan semuanya."


Lily diam dengan air mata yang terus berjatuhan. Sampai akhirnya dia mengatakan satu kata dengan suara berat dan bergetar, "David…"


David menegang mendengar suara istrinya yang terdengar sangat tersakiti dan sedih.


"Sayang, aku ingin menjelaskan semuanya, ak--"


"David…." Suar Lily bergetar, dia menelan ludahnya kasar. Memejamkan mata sambil menarik napas sebelum mengatakan, "David, mainanmu telah rusak, waktunya kau membuangnya."


🌹🌹🌹


tunggu kelanjutannya ya..


to be continue...