
🌹Vote ya ghais jangan lupa, sama ajak yang lain juga buat baca ini ngakak novel.🌹
🌹Makasih para reader, tanpa kalian aku butiran debu.🌹
🌹Ini ige emak : @RedLily123🌹
🌹Selamat membaca sayang.🌹
FLASHBACK ON
Luke terus tertawa saat berada di dalam mobil box, alcohol benar benar mengambil alih pikirannya. Apalagi saat melihat kedua temannya yang terombang ambing karena guncangan mobil. Sebastian yang ada di sampingnya tanpa memakai sabuk pengaman membuat Luke tertawa kuat, dia sangat suka melihat sahabat tertuanya itu terombang ambing.
“Muehehehehe, kau terlihat jelek, Bas.”
Dan Sebastian yang mabuk itu hanya bisa terlelap semakin dalam, dia bahkan tidak sadar ketika Luke menekan nekan pipinya berulang kali.
“Muehehehe, kau lucu, pria tua.”
Dan sampai akhirnya mobil berhenti. Para pekerja itu membuka box dan menurunkan mobil kecil yang membawa majikan dan kedua temannya. Luke tertawa saat melihat gelapnya hutan di tengah malam.
“Tuan, apa yang harus saya lakukan?” tanya salah satu pekerja di sana, dia kebingungan apakah harus meninggalkan Luke atau bagaimana. “Apa anda butuh sesuatu?”
Luke memaksakan membuka matanya, dia melihat ke sekitar dan menyadari kalau itu bukan spot yang indah.
“Aku tidak bisa ditinggalkan di sini,” ucap Luke dengan suara berat seolah dia sadar.
“Maaf, Tuan?”
“Bawa aku ke atas sana supaya bisa melihat bintang!” tunjuk Luke pada dataran yang lebih tinggi.
“Tapi langit mendung, Tuan.”
“Ehe!” teriak Luke. “Aku bisa memberi gajimu empat kali lipat.”
“Benarkah, Tuan?”
“Ya, bawa aku ke sana. Dorong mobil ini supaya ke sana.”
“Apa teman teman saya juga akan mendapatkan uangnya?”
“Ehe!” teriak Luke lagi. “Apa kau berfikir kalau aku benar benar miskin?”
“Maaf, Tuan.”
Dan itulah alasannya mobil yang mereka tumpangi bisa berada di tengah hutan, di dataran yang lebih tinggi pula. Luke yang memintanya.
Dia tersenyum kembali saat merasakan orang orang di belakang sana mendorongnya sekuat tenaga.
“Muehehehe, kau lihat, teman teman? Aku akan membawa kalian ke atas sana.”
Flashback off
Luke tersenyum menyadari hal itu. “Kenapa aku seburuk itu saat mabuk?”
Dan saat Sebastian mendekat lagi, dia melambaikan tangannya supaya Luke keluar. Dan terpaksa dia keluar dengan penuh rasa malas.
“Ada banyak hewan di luar sana.”
“Kaki manusia?”
“Tentu saja,” ucap Sebastian, dia harus bersikap lebih dewasa apalagi menggandeng dua temannya yang jauh lebih muda. “Ayo cepat.”
“Tidak bisakah kita memakai mobil?” tanya Luke. “Aku bukan takut, aku hanya tau apa yang ada di dalam hutan ini. Kalian akan kewalahan jika mengetahuinya.”
“Ayo cepat,” ucap David.
Luke menghela napas dalam. “Setidaknya buang Thai Kuda itu,” tunjuknya.
David menggeleng. “Ini hadiah untukmu.”
“Kau dendam pada orang mabuk.”
“Kesalahan adalah kesalahan, terlepas apa yang kau pikirkan saat itu.”
“Wah, kau bisa bersikap bijak?”
“Aku sering menonton Mario Teguh akhir akhir ini,” jujur David yang membuat kedua temannya tertawa.
🌹🌹🌹🌹🌹
Dan akhirnya, mereka bertiga sampai di gerbang keluar hutan. Sebastian tersenyum puas.
“Lihat? Apa yang kalian khawatirkan tidaklah terjadi,” ucapnya dengan menyunggingkan bibir. “Lihat tanahnya, mereka pasti berada di sisi yang lain.”
“Oke, berhenti membanggakan diri,” ucap David menaiki gerbang nan tinggi itu. “Kenapa kau membuat gerbangnya sangat tinggi, Luke?”
“Aku ingin mengamankan hewan hewanku.”
“Dengan banyak kaca di atasnya?”
“Pengamanan kelas atas?”
“Bisakah kau cepat? Aku ingin naik.”
Sebastian lebih banyak diam, sampai akhirnya mereka bertiga meloncat dari atas benteng.
Luke dan David meloncat lebih dulu. Mereka berdua melihat ke atas. “Tebak, apa dia bisa meloncat?”
“Hei, kau lupa usianya?” Tanya David. “Itu tidak mengahalangi apa pun, kecuali sakit pinggang.”
“Hahahahaha.”
Keduanya tertawa.
Sampai akhirnya.
HAP.
“Kalian bilang apa?”
🌹🌹🌹🌹🌹
TO BE CONTINUE