Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
S3 : ARES FERNANDEZ



🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK SEMUANYA.🌹


🌹IGEH EMAK JUGA JANGAN LUPA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN SEMUA.🌹


“Ar, kita latihan. Lu mau kemana?” tanya Samuel melihat sahabatnya itu malah pergi.


“Tar gue balik lagi.”


“Mau ngapain dulu sih?”


“Ke panjalu beli tahu bulat.”


“Hah? Ngapain ke Panjalu?”


“Mau tau aja lu, perut ulat.”


“Anjiim dia lagi pantun,” ucap Samuel membiarkan Ares pergi dari ruangan latihan basket.


Dimana di sana tertahan karena melihat pelatih. “Mau kemana, Ar?”


“Keluar sebentar, Pak. Nanti ke sini lagi kok.”


“Jangan lama lama, mau nganterin cewek doang kan?”


“Eh, bapak tau aja,” ucap Ares kembali melangkah meninggalkan guru olahraganya itu.


Ares mengedarkan pandangannya, sepertinya kelas 12 IPA sudah pulang. Dilihatnya jam, ini sudah pukul empat sore.


Sampai Ares ingat dia memiliki nomor Cantika, dan menghubunginya. Sebelumnya Ares dipanggil oleh kepala sekolah untuk mempersiapkan pertandingan, jadi dia melupakan Cantika.


“Hallo?” tanya Cantika dari sana.


“Centini, kau dimana?”


“Di perpustakaan.”


“Belum pulang?”


“Belum, aku meminjam beberapa buku dulu.”


“Tunggu aku di sana,” ucap Ares mematikan telponnya dan segera menyusul Cantika ke sana.


Ares masuk ke dalam perpustakaan yang akan tutup satu jam lagi, terlihat masih tersisa beberapa murid kutu buku yang masih memilih beberapa buku di sana.


“Perpustakaan akan segera tutup, pinjam saja dan baca di rumah,” ucap penjaga perpustakaan tersebut.


“Baik,” ucap Ares. Kemudian bergumam, “Lagipula siapa yang akan meminjam, buku buku ini membuat kualitas mataku menurun.”


Sambil berjalan, mata Ares mencari sosok Cantika. Karena perpustakaannya sangat luas, dia harus berjalan jalan. Sampai akhirnya menemukan sosok pendek yang membawa buku ke dalam keranjang.


“Kau mau menjadikan buku itu alas tidurmu atau apa?”


Cantika menoleh. “Oh, kau sudah di sini? Mau pinjam buku apa?”


“Hah?” tanya Ares bingung. “Aku tidak akan meminjam buku apa apa.”


“Lalu kenapa kau ke sini?” tanya Cantika. “Wah… apa kau juga sering membantu orang orang yang sedang belanjar untuk kembali fresh dengan melihat wajahmu?”


“Wah…,” gumam Ares. “Itu ide bagus, Centini.”


“Oh bukan karena itu? Aku bisa merekomendasikan buku jika kau ingin pinjam.”


“Aku ke sini bukan untuk meminjam buku.”


“Lalu untuk apa?”


Ares sendiri bingung. “Kau belum pulang karena menungguku bukan?”


“Tidak,” jawab Cantika santai. “Aku sedang memilih buku.”


“Apa? Kenapa kau tidak menungguku pulang?”


“Kenapa harus?” tanya Cantika heran.


“Karena aku ini tampan. Katakan saja iya supaya aku tidak malu, Centini.”


Sampai percakapan mereka didengar oleh penjaga perpustakaan. “Jangan berisik.”


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


“Kita mau kemana dulu?” tanya Cantika yang kini akhirnya duduk lagi di motor Ares.


“Bukannya ke pasar mengambil uang sayuran?”


“Tidak, sekarang Kakek yang melakukannya.”


Seketika motor berhenti, yang mana membuat tubuh Cantika beradu dengan Ares.


“Aduh.”


“Kenapa tidak bilang dari tadi?” tanya Ares.


“Kau tidak bertanya.”


“Astaga, Centini,” gumam Ares kesal. “Apa kau lapar?”


“Tidak.”


Ares mulai menjalankan lagi motornya, dia berbelok ke arah berlawanan untuk mengantarkan Cantika.


Tidak sampai masuk ke dalam gerbang, Ares hanya mengantarkan sampai di depan gerbang. Cantika turun dari sana.


“Terima kasih.”


“Kau mendapatkan nomor Laura?”


“Aku bertukar nomor dengannya tadi.”


Ares tersenyum. “Kirimkan padakku.”


Seketika wajah tampannya tampak terkejut. “Centini, kau tega membuat sahabat tampanmu ini sedih?”


“Bukan begitu, tapi aku harus meminta izin dulu padanya,” ucap Cantika sambil mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Laura. Cantika sengaja membesarkan volume panggilan. “Hallo? Laura?”


“Ada apa?”


“Seseorang meminta nomormu.”


“Siapa?”


“Ares, pria yang memakai motor sport itu.”


“Jangan berikan.”


“Apa? Tapi dia ingin mengenalmu.”


“Lihat ke arah kanan.”


Saat itulah Cantika menengok, membuat Ares ikut melakukannya. Di sana Laura baru pulang sekolah dengan mobilnya, dia menatap lewat kaca mobil kemudian berkata, “Aku tidak punya alasan untuk menyimpan nomornya, aku tidak tertarik berteman dengannya. Bye, Cantika.”


Kemudian telpon tertutup, membuat Cantika menatap Ares. “Kau mendengarnya?”


“Wahh….,” ucap Ares melihat mobil itu masuk ke dalam gerbang rumah. Dia menggeleng tidak percaya. “Baiklah, bisa kau tanyakan ulang tahunnya kapan?”


“Baiklah, akan aku lakukan.”


🌹🌹🌹🌹🌹


Cantika sedang menelpon Papa nya di kamar.


“Bagaimana sekolah barunya?”


“Menyenangkan.”


“Tika ikut eskul apa?”


“Tidak ikut apa apa, Pah. Cantika lebih suka di rumah menemani Mama dan Nenek.”


“Memangnya di sana tidak ada kelas music? Cantika mau ikut les piano di sana? Ada yang bagus tidak?”


“Papah, ayolah jangan bicara tentang Cantika terus. Papah bagaimana di sana? Emm….., perusahaan Papah?”


“Papah masih memperjuangkannya, jangan khawatir ya.”


“Papah jangan kelelahan.”


“Iya, tidak akan,” ucap Papahnya.


“Cantika!” panggil sang Nenek dari luar kamar.


“Iya, Nek? Sebentar,” ucap Cantika. “Pah, nanti telpon lagi ya. Nenek memanggil.”


“Oke, Sayang.”


Cantika segera keluar kamar dan menghampiri Neneknya. “Kenapa, Nek?”


“Tetangga baru itu mau membeli tomat segar katanya, berikan ini pada mereka. Bilang ini sengaja dilebihkan untuk mereka, bukan memaksa dibeli semua.”


“Baik, Nek. Uangnya sudah?”


“Sudah tadi sore.”


Cantika segera membawa kantong kresek berisi tomat itu menuju ke rumah tetangganya yang tidak lain adalah rumah Laura.


Cantika mengetuk pintu, dan kebetulan yang membukanya adalah Laura.


“Hai, Cantika.”


“Oh, hallo. Maaf mengganggu, ini tomat yang dipesan.”


“Terima kasih, tapi sepertinya ini lebih dari satu kilo.”


“Oh, Nenekku memberi lebih sebagai ucapan selamat datang.”


“Baiklah, double terima kasih untuk Nenekmu.”


Cantika mengangguk. “Oh, maaf menanyakan ini. tapi boleh aku tahu ulang tahunmu kapan?”


“Wah, untuk apa ini?”


“Hanya ingin tahu.”


Laura tersenyum. “Dua minggu lagi aku ulang tahun yang ke-20 tahun.”


“20 tahun?” tanya Cantika terkejut.


“Kenapa terkejut? Aku telat masuk sekolah, bukan bodoh.”


“Ah, aku tidak berfikiran seperti itu. Kau terlihat sangat muda dari usia sesungguhnya.”


Laura tersenyum. “Hanya itu yang ingin kau tanyakan?”


“Iya, terima kasih.”


Saat Cantika berbalik dan melangkah pergi, Laura kembali berkata, “Jangan sampai seseorang yang menitipkan pertanyaan itu lupa tanggal lahir wanita cantik sepertiku.”


🌹🌹🌹🌹


 


 


TO BE CONTINUE