Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Paman part 2



🌹VOTE YA GAIS🌹


Sambil merebah, David melihat lihat online shop di mana dia bisa membeli peralatan di rumah barunya.


"Lilyku, sayangku, kau akan terkejut melihat rumag baru kita," ucap David berbangga diri.


"Aku tidak sabar membuat adik untuk Ares dan Athena."


Dan saat sedang asyik memainkan ponsel, David mendapat telpon dari Luke.


David mengangkatnya. "Hallo, Makhluk Purba, apa kau baik baik saja? Apa Medina memakan organmu."


"Ha ha ha lucu. Diamlah."


"Kau tidak keluar sama sekali."


"Aku terus berada dalam gua nya."


"Shiiiitt! Kalian membuat adonan?"


"Adonan? Apa itu? Apa itu istilahmu? Tentu tidak, Medina bilang hubungan badan membuat tubuhnya tidak bagus."


David tertawa puas. "Jadi kau sedang menjadi toge layu?"


"Sialaaan kau, David." Luke menggertakan giginya. "Oh, istrimu melahirkan?"


"Tidak."


"Tidak? Media ekonomi menyiarkannya."


"Istriku baru saja melewati medan tempur untuk membawa malaikat malaikatku."


Luke bergumam. "Astaga, budak cinta."


"Kau akan datang?"


"Entahlah, terserah Medina."


"Mati saja kau bersama Medina," ucap David kesal. Pasalnya keberadaan Lily tidak membuatnya menjauh dari teman temannya, tapi Luke sangat terlihat jelas. "Jadi apa maumu menelpon?"


"Ada salah satu kerabatku di Amerika, dia hendak kembali ke Indonesia."


"Jadi?"


"Beri dia tumpangan. Dia punya kelainan takut dengan orang."


"Kau pikir aku setan jadi bisa bersanding dengannya?"


Luke berdecak. "Akan aku kirim profilnya lewat email. Bye."


David melempar ponselnya malas, kini dia dapat beban baru.


Tidak berhenti sampai di situ, seseorang menekan bel. Membuat David keluar dan membuka. 


Alangkah terkejutnya dia, itu adalah putra pertama Dena dan kekasihnya.


"Apa yang kau inginkan?" Tanya David dalam bahasa Indonesia, dia yakin pria di depannya paham.


"A… aku..  minta… maaf atas… ibu." Ucapannya terbata bata. "Kau… boleh pergi… and, mother…. he is my responsibility."


🌹🌹🌹


Sebastian terpaksa sembunyi dahulu di kamar mandi demi menunggu Marylin pergi.


"Apa dia sudah pergi? Kenapa Oma belum menghubungiku?"


Rencananya, Sebastian diam di sana sampai Oma mengusir Marylin dari mansion.


Namun, kenyataannya itu tidak terjadi. Oma malah makan keripik kentang sambil melangkah menuju kamar Lily. Di mana dirinya berada di tengah diantara bayi bayinya.


"Mereka sudah menyusu?"


"Sudah, Oma."


"Hei," panggil Oma pada perawat. "Pindahkan sang dewa dan dewi pada box mereka."


"Baik, Nyonya Besar," ucap perawat yang sedang menyusun pakaian bayi di sana.


Bukan hanya satu, melainkan ada empat perawat khusus bayi dan ibu baru melahirkan yang Oma sewa. Mereka bergantian berjaga sampai kondisi Lily benar benar pulih.


"Oma, aku dengar ada Sebastian."


"Ah, si raflesia layu itu."


Lily terkejut. "Raflesia layu?"


"Kenapa raflesia?"


"Lila." Oma duduk di kursi pinggir ranjang. "Dia cantik seperti bunga itu, tapi bau karena tidak memberi Oma uang jajan. Malah Oma yang memberinya."


Lily terdiam, itu jawaban yang tidak terduga. "Di mana dia sekarang?"


"Di kamar mandi, sedang menghindari Marylin."


"Memangnya kenapa?"


"Marylin fans berat Sebastian, sudah biarkan saja."


Dan ketika itu, Marylin datang dengan selimut yang selesai diaa rajut. "Ini akan menghangatkan kaki Nyonya Muda."


"Terima kasih," ucap Lily. Dan dia bingung dengan Marylin yang masih berdiri di sana. "Kenapa, Marylin? Ada yang lain? Bukannya ini waktunya kau pulang?"


"A he he he, Nyonya Muda, bisa aku tahu di mana Tuan Sebastian yang tampan itu? Tadi dia lari dan aku kehilangannya. Aku tertawa mengejarnya, tapi dia malah semakin cepat dan hilang."


Lily diam karena dia memang tidak tahu. Namun, Oma berkata, "Dia di kamar mandi belakang khusus tamu. Sana!"


"Terima kasih, Nyonya Besar! Anda sangat baik dan cantik."


"Juga kaya."


"Ya, anda kaya," ucap Marylin berlari keluar.


Seketika Lily menatap Oma. "Apa yang Oma lakukan?"


"Biarkan saja, dia harus sedikit menerima gertakan."


Di saat bersamaan, Sebastian tersenyum mendengar ada langkah. Pikirnya itu adalah Oma, yang mana membuatnya membuka saat ketukan.


"Om-- Astaga!"


"Tuan Babas! Astaga! Aku sangat suka padamu." Marylin kegirangan.


Dan Sebastian berdehem guna menyesuaikan suara dan berusaha tenang. "Menyingkir dariku sebelum aku bongkar dan selidiki riwayat pajakmu yang pernah merugikan negara."


"Astaga," ucap Marylin menutupnya tidak percaya. Lalu kemudian dia berteriak, "Ya ampunnnnn! Anda semakin tampan dengan kharisma yang mematikan itu. Baiklah, Tuan Babas. Aku tidak akan mengganggu. Maaf, silahkan pergi."


Menahan rasa takut untuk dipeluk, Sebastian berjalan melewati Marylin yang bertepuk tangan di tempat. Awalnya Sebastian melangkah pelan, sampai menemukan belokan dia berlari kencang ketakutan.


Dia langsung masuk ke dalam kamar Lily.


"Hallo, raflesia layu," sapa Oma.


"Oma keterlaluan," ucap Sebastian masih dengan rasa lelahnya. "Aku dijebak! Oma!"


"Diamlah, cicitku sedang tidur!"


Sebastian mendekat. "Hallo, makhluk tidak berdaya. Ini uncle," ucap Sebastian memperkenalkan diri.


Membuat Oma berdecak. "Uncle apanya, panggil saja Paman, atau Mamang."


"Tidak mau," gumam Sebastian. "Aku membawakan ini untukmu."


Lily menerimanya. "Terima kasih. Aku pikir kau sudah pergi ke Amerika."


"Kenapa semua orang menyinggung Amerika?" Gumam Sebastian.


Dia kembali fokus pada bayi laki laki, sampai dia nelihat bayi perempuan. "Eh, astaga. Mereka kembar bukan?"


"Kembar tidak identik," ucap Oma memberi isyarat pada Sebastian lewat kedipan mata. Lily tidak suka jika ada orang bilang seperti itu.


"Wajah mereka beda, yang perempuan ini didominasi kulit putih ibunya."


"Oma bilang mereka tidak identik," ucap Oma lagi mengedipkan mata berulang.


Hal itu membuat Sebastian heran. "Apa kau punya penyakit cacingan, Oma?"


"Dasar bule tua kurang asam! Ini isyarat agar kau keluar, pantas saja kau tidak laku laku!"


"A--- apa? Aku laku, banyak wanita mengantri."


"Ya, wanita yang ingin menguras bak mandi uangmu." Kemudian tatapan Oma fokus pada bayi di dalam box. "Maafkan Oma, sayang sayangku. Nanti kalau besar jangan seperti Mamang mu ya."


"Uncle! Aku ingin dipanggil uncle, bukan Mamang."


🌹🌹🌹


Tbc