Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Modus



🌹VOTE🌹


Lily menatap Megan yang dibawa oleh petugas medis, dia menatap kosong kepergian wanita berbalut handuk di bagian atasnya.


David mendekat. "Sayang…."


"Aku akan pulang sekarang."


"Biar aku antarkan."


"Tidak perlu, aku datang bersama Holland."


David melihat percikan amarah itu, kecemburuan Lily yang enggan dia perlihatkan padanya. Dan entah mengapa itu membuat David tidak karuan, dia merasa gelisah.


"Aku akan mengantarmu."


"Megan bilang kau ada jadwal mengecek properti bukan?"


"Kau marah padaku?"


"Tidak."


"Kau tidak menatapku."


Lily dengan wajah penuh kesabaran menatap David, dia menyembunyikan kemarahannya. "Aku tidak marah."


"Kau marah."


"Kenapa aku marah?" 


David mengangkat bahu. "Kau tidak menyukai Megan karena dia terus menggodaku."


Lily menahan amarahnya. "Baguslah kau menyadarinya."


"Kau ingin aku memecatnya?"


Lily membalikan badan, kini dia menatap mata David. "Kau tahu yang terbaik."


"Jangan marah lagi kalau begitu."


"Aku tidak marah. Oma menungguku, aku akan pulang. Sampai jumpa," ucap Lily memberikan senyum manisnya saat keluar.


Dia menutupi kemarahannya dengan baik sekali. Lily menelan semuanya seorang diri, dia memang merasa sedih.


Sampai Holland pun bertanya. "Ada yang salah, Nyonya?"


"Oh ya, aku ingin ke toko perkakas lebih dulu."


"Baik, Nyonya."


Lily keluar, dia memilih beberapa barang yang Oma inginkan. Tanpa berkata dan bertanya, Holland mengikuti dan membantu Lily mengambil barang barang itu. Sesaat Holland penasaran, tapi dia tidak berani bertanya.


Karenanya, Holland hanya diam.


"Sudah, Nyonya?"


"Sudah, Holland. Kita langsung pulang."


Terlihat Lily yang memang memancarkan wajah penuh kesedihan. Sampai di mansion, Lily keluar dengan peralatan yang dia beli. 


Saat Holland memarkirkan mobil, David menelpon


"Tuan Muda?"


"Bagaimana Lily?"


"Ya?" Holland tidak mengerti.


Membuat David berdecak. "Apakah… dia terlihat marah?"


"Tidak, Tuan. Nyonya baik baik saja, dia banyak diam seperti biasa. Kami baru saja sampai."


"Darimana saja kalian?"


"Nyonya membeli sesuatu ke toko perkakas."


"Apa itu?"


"Tambang, pisau dan silet."


Di sana, David menelan ludahnya kasar. "Apa itu untukku?"


"Saya tidak mengerti, Tuan."


"Sudahlah," ucap David menutup telpon.


🌹🌹🌹


David kebingungan, dia ingat Holland mengatakan bahwa Lily membeli beberapa alat tajam. "Apa dia akan membunuhku? Mengulitiku? Apa yang dia rencanakan?"


Sampai ketukan pintu terdengar, dan seseorang masuk. "Hallo, David."


"Bas? Mau apa kau ke sini?"


"Aku ingin menemuimu."


"Pergilah."


Sebastian malah masuk. "Ke mana Megan?"


"Dia tersiram kopi."


"Apa?"


"Aku tidak bercanda."


Sebastian duduk di sofa. "Kenapa kau terlihat khawatir?"


"Diamlah."


"Aku dengar kau mengusir wanita yang aku beli malam itu, ada apa?"


David terkekeh, dia mendekati Sebastian. "Tentu saja agar aku tetap dalam jalan yang benar."


"Menuju taruhan?"


"Menuju taruhan," ucap David masih dalam kekhhwatiran. Dia ingin Sebastian pergi. Maka darinya dia berkata, "Apa yang kau inginkan?"


"Kau ingin kapal pesiarku bukan?"


"Kau ingin apa? Taruhan?"


"Ayolah, kau lambat."


"Kau tahu…." David menyalakan rokok, dia duduk di sofa depan Sebastian. "Kau tidak pernah merasakan bagaimana wanita perawan bukan?"


"Aku…." Sebastian tergagap, dia memang tidak beruntung mendapatkan wanita perawan.


"Lily sangat tidak tersentuh."


David terkekeh. "Kau akan ketagihan."


"Sepertimu bersama Lily? Kau akan menjadi budaknya."


Percakapan itu mulai membaut David semakin kesal. Apalagi dia ingat Lily yang marah padanya. "Mau apa kau datang?"


"Kapal pesiar itu ditawar oleh seorang pengusaha Jepang, jika kau tidak cepat, maka aku akan memberikanya."


"Batas waktunya sampai Luke menikah."


"Aku tarik, sampai Luke tunangan."


"Dan kapan itu?"


Saat Sebastian memberikan tanggal, David mengumpat kasar. 


"Bagaimana?"


"Kau membuang waktuku."


Sebastian terkekeh, dia segera berdiri. "Kalau begitu aku akan pulang, hanya hendak memberi tahu itu."


Sebastian keluar, membuat David memutar otak. Dia harus membuat Lily tergila gila padanya, David lupa kalau dalam hatinya dia sendiri sedang tergila gila pada Lily. Egonya tinggi, dia memilih dengan kalimat meruskan taruhan untuk bersama dengan Lily.


"Aku harus melakukan cara," ucap David sampai dia mengingat sesuatu.


David segera menghubungi Holland. 


"Tuan?"


"Holland, carikan aku sekretaris baru. Harus manusia yang efisien dengan kinerja bagus. Tidak peduli berapa usianya, asal jangan wanita."


"Baik, Tuan Muda."


"Dan berikan surat pada Megan."


"Saya mengerti, Tuan Muda."


David menutup telpon, dia berharap ini langkah baik untuknya dan Lily dengan menyingkirkan Megan. David selalu menepis pikiran kalau dirinya takut Lily marah padanya, dia memberi alasan dengan taruhan. Padahal dalam jauh di hatinya, David ingin bersama Lily dalam arti sesungguhnya, dia takut perempuan itu menjauh karena prilakunya bersama Megan tadi.


🌹🌹🌹


Oma mengerutkan keningnya saat bersepeda bersama Lily di halaman belakang.


"Ada apa, Lily?"


"Tidak ada, Oma."


"Katakan pada Oma, ayo cepat."


"David…."


Oma menurunkan kecepatan. "Ada apa dengan bocah tengik itu?"


"Apakah…. Megan dan David….?"


"Megan? Sekretarisnya? Ada apa dengan mereka?"


Lily menggeleng, dia berdehem merasa ini tidak perlu diceritakan. Lagipula Lily ingat dirinya masih belum merasa pantas dan berhak atas diri David sepenuhnya. Kenyataanya Lily belum merasa menjadi istri David sebenarnya, meskipun mereka telah tidur bersama.


"Lily, katakan pada Oma," ucap Oma tajam. "Katakan."


"David dan Megan apakah mereka dekat?" Tanya Lily dengan suara pelan.


"Tidak, David tidak memiliki gairah memandang David."


Sebelum Lily berkata, Eta lebih dulu mendekat memanggil Lily.


"Nyonya Muda."


Lily segera berhenti mengayuh sepeda. "Ya? Ada apa Eta?"


"Tuan Muda sudah pulang."


Lily menatap Oma meminta izin.


"Sana, mandikan bule itu."


Lily tersenyum, dia segera menghentikan aktivitasya dan bergegas masuk ke mansion. Lily menuju kamar, di mana di sana David sedang membuka pakaiannya.


"David?"


Tidak ada jawaban dari pria itu, dia sibuk melucuti pakaian.


"David? Kau ingin mandi sekarang?"


"Tidak sekarang, mendekatlah."


Lily mendekat saat David tinggal memakai celana boxer. Pria itu berbalik dan mulai mengusap pinggang Lily yang ramping. 


"David…" Lily mencoba menahan tangan David. "Aku… belum mandi."


"Kalau begitu ayo mandi bersama."


Lily tahu ini bukan sekedar mandi, apalagi sekarang tangan David merayap masuk ke dalam pahanya. Lily bersepeda bukan untuk olahraga, tapi untuk menemani Oma. Dia memakai gaun selutut, yang mana membuat David mudah masuk dan memainkan beberapa titik sensitif Lily.


"Baiklah, ayo….," Ucap Lily menahan tangan David.


"Aku menunggumu di dalam," ucap David dengan sensual.


Membuat Lily agak merinding dengan itu.


Lily berdehem, dia masuk ke dalam mengikuti David. Pria itu sedang menggosok gigi, setelah selesai David berkata, "Aku punya kejutan untukmu."


Lily bertanya dengan suara pelan, "Apa itu?"


"Aku memberhentikan Megan."


"Kau… apa?"


"Aku memberhentikannya," ucap David berbalik. Sebelum Lily berkata, David lebih dulu menyela, "Aku tahu kau cemburu, kau suka padaku dan kau tidak rela aku berdekatan dengan wanita lain. Karenanya aku mencari sekretaris pria, agar kau tidak usah cemburu."


"Ak--"


"Ya, ya, aku memang tampan dan kaya, tidak heran kau selalu ingat padaku dan tidak rela aku berdekatan dengan siapapun. Aku tahu kau terobsesi denganku, Lily. Lihatlah aku….," Ucap David membuka boxer hingga dirinya benar benar polos. "Maka darinya aku memberimu hadiah karena kecemburuanmu itu, yaitu dengan duduk di pangkuanku."


Mata Lily membulat saat David duduk di dalam bathub. Air yang belum penuh belum menenggelamkan kejantanan David yang berdiri tegak. Keras dan kuat membuat kewanitaan Lily menciut ketakutan. David benar benar siap.


"A…. Aku…"


"Aku tahu kau bahagia, Lily Sayang. Datanglah padaku. Ayo kemarilah."


🌹🌹🌹


TO BE CONTINUE....