Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
S3 : ARES FERNANDEZ



🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK, EMAK SAYANG BANGET SAMA KALIAN.🌹


🌹IGEH EMAK JUGA DI FOLLOW  DI : @REDLILY123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN.🌹


Ares bukanlah pria brengsek yang meninggalkan wanita begitu saja, meskipun dia sangat ingin pergi dari sini. Ares tahu bagaimana memperlakukan wanita dalam kesopanan khususnya di tempat umum, tidak mungkin dia meninggalkan Laura di sini sendiri. Apalagi pesta sedang berlangsung.


Matanya melihat Laura yang sedang meliuk liukan tubuhnya mengikuti irama musik. Yang mana membuatnya juga sesekali melihat pada Ares dan mencoba mengajak pria itu untuk ikut melakukan hal yang sama dengannya.


Dan Ares hanya menggelengkan kepalanya sebagai tanda dia tidak tertarik, Ares meninggalkan ruangan itu saat ponselnya berbunyi.


Hak itu membuat Laura menghentikan tariannya, dia mendekat pada kakak sepupunya. "Kak! Dia tidak tertarik denganku! Bagaimana ini? Dia bahkan tidak melihat tubuhku yang indah ini."


"Aneh sekali, apa alasan dia menyukaimu dulu?"


"Karena aku acuh padanya?"


"Lalu lakukan lagi."


Laura tertawa tidak percaya, dia menatap kerabatnya itu dengan remeh. "Mengacuhkannya setelah tau kalau dia adalah calon CEO di masa depan? Gila saja!"


"Dia tidak tertarik dengan tubuhmu, apakah dia normal?"


"Hei! Jangan mengatakan itu! Tubuhnya saja berotot, dan dia tertarik padaku."


"Mungkin kau mengacuhkanya terlalu lama, sekarang ambil kembali perhatiannya dengan melakukan apa yang dia inginkan. Coba turuti apa yang diinginkannya," sarannya yang sudah berpengalaman dengan banyak pria.


Laura menghela nafasnya dalam. "Kalau begitu aku akan pulang dulu ya."


"Iya, cobalah untuk membuatnya nyaman. Buat dia tidak bisa lepas darimu."


"Ish. Ini menyebalkan, aku tidak ingin pulang. Ini bahkan belum lewat tengah malam."


"Sudah sana pergi."


Mau tidak mau, Laura akhirnya pergi dari sana menyusul Ares yang ada di luar ruangan; berada di koridor antara ruangan VVIP. Terlihat dia yang sedang menelpon dan mengakhirinya begitu Laura mendekatinya.


"Ada apa?" Tanya Laura. "Siapa itu?"


"Mommy ku, kau sudah selesai?"


"Kau ada perlu ya? Ayo pergi saja tidak apa."


Yang Laura pikir, Ares akan berkorban untuknya dan tetap bertahan di sini.


Namun, Ares harus benar benar pulang.  Jadi dia mengangguk. "Maaf, Mommy ku menyuruhku pulang."


"Kau benar benar anak Mama ya, sangat lucu."


"Akan menakutkan jika aku anak tetangga, hahahahaha," ucap Ares tertawa sendiri sambil turun ke basement.


Laura hanya terdiam, selera humornya dengan Ares benar benar bertolak belakang. Dia ingin pria yang elegan dan berkorban untuknya. Tapi Laura lebih sering mendapatkan itu dari pria yang usianya sudah matang.


"Terima kasih untuk malam ini, Ares."


"Tentu."


"Um.. apa kau tidak penasaran?" Tanya Laura.


Kini keduanya berada di mobil dalam perjalanan pulang. 


"Penasaran apa?"


"Aku yang bisa kenal dan tahu tentang klab dan bar?"


"Kau belum pernah ke sana ya?"


"Belum."


"Tapi kau tidak terlihat kaget tadi."


"Daddy ku sering bercerita tentang hal hal seperti itu. Bukan hal yang aneh untukku."


"Tidak aneh, kau dari keluarga kaya….."


Ares tidak mendengarkan kelanjutan ucapan Laura, dia sibuk pada sosok mungil yang dia kenali sedang berjalan di tepi jalan yang gelap.


"Tuyul?"


"Apa?"


"Uh, si hobbit," ucap Ares langsung menepikan mobilnya.


🌹🌹🌹🌹


Ares tidak berhenti memarahi Cantika karena perempuan itu pulang sendirian. Disaat Cantika mengatakan kebenarannya, Ares sangat marah. Dia tidak habis pikir, bagaimana jika ada seseorang yang berniat menculiknya dan membuatnya hilang.


"Jangan pernah melupakan nomor ponselku. Kau bisa meminjam ponsel orang dan mengatakan nomorku. Ayo katakan sekali lagi," ucap Ares dengan penuh penekanan.


Cantika menghela nafasnya, kemudian kembali mengatakan nomor Ares yang baru saja dia hafal beberapa menit sebelumnya.


Sementara Laura yang berada di samping Ares itu merasa risih, kesal dengan Ares yang terus memperhatikan Cantika. "Sudahlah, Ares, dia sudah mengerti. Lagipula dia sudah dewasa."


Ares terdiam, entah kenapa dia jadi semarah ini. Dia takut sesuatu terjadi pada Cantika.


Maka dari itu, selama sisa perjalanan, Ares hanya diam. Mengabaikan panggilan dari Laura maupun keterdiaman Cantika.


"Bagaimana kalau lain kali kita jalan jalan lagi?"


Ares tidak menjawab. 


"Ares, kau mendengarku kan?"


"Maaf, aku sedang kesal."


Laura berdecak. "Kau dengar itu Cantika? Kau membuat priaku ini kesal."


Cantika yang duduk di bangku belakang hanya menunduk dan menghela nafasnya dalam. Dia bingung kenapa Ares sampai semarah ini.


Begitu sampai di tujuan, Cantika keluar duluan. "Maaf, Ares. Dan terima kasih atas tumpangannya."


"Ya, segera pergi," ucap Laura mewakilkan.


Cantika mengangguk, kemudian meninggalkan dua orang tersebut di dalam mobil.


Laura berdehem, dia mencoba mencairkan suasana. "Ares?"


"Maaf, aku tidak bisa menemuimu lagi," ucap Ares yang akhirnya bicara setelah dia mencoba memahami dirinya sendiri.


"Apa? Kenapa?"


"Aku sadar, kalau aku tidak mencintaimu. Itu hanya rasa penasaran. Aku minta maaf, yang sebenarnya aku cintai adalah Cantika," ucapnya dengan penuh keyakinan.


🌹🌹🌹🌹


To be continue