
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK SEMUANYA.🌹
🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA SEMUANYA, EMAK SAYANG KALIAN SEMUA.🌹
Ares mengibaskan rambutnya ke belakang, dia mengambil hair-dryer dan menggunakannya sambil bercermin. Sesekali dia tersenyum pada cermin, kemudian berucap, “Wah…. Benar benar sebuah mahakarya,” ucapnya membanggakan diri sendiri.
“Bagaimana bisa ada manusia setampan dirimu? Kau begitu hebat, gagah dan juga…… ini mahakarya,” ucapnya memuji diri sendiri.
Setelah dirasa rambutnya kering, Ares keluar dari kamar mandi. Dan saat itulah dia mendengar ponselnya berdering. Dia mengangkatnya mengingat itu adalah nomor yang menelponnya beberapa jam terakhir ini.
“Hallo?”
“Kenapa baru mengangkatku sekarang?”
“Maaf, kau tahu aku baru pulang dari rumah Cantika,” ucap Ares sambil mendudukan dirinya.
Entahlah, ini jauh berbeda dari bayangannya. Dia pikir hatinya akan berbunga bunga, akan merasakan sensasi baru saat wanita yang diincarnya kini mengejarnya. Nyatanya itu terasa biasa saja.
“Apa yang sebenarnya terjadi diantara kalian?”
“Diantara siapa?”
“Kau dan Cantika, kenapa kalian begitu akrab?”
“Dia sahabatku, kau tahu itu. Lagipula kenapa kau marah?” tanya Ares dengan pelan.
“Apa kau mempermainkanku? Bukankah kau bilang kau tertarik padaku?”
Ares tersenyum pelan, dia mencoba untuk tidak mempermainkan perasaan seseorang. “Bukan begitu, aku hanya lelah. Banyak kejadian yang sudah terjadi saat ini. aku ingin istirahat, aku ingin tidur.”
“Biarkan ponselnya menyala, aku ingin mendengar napasmu saat tidur.”
Ares tersenyum, dia bingung dan merasa… canggung. Sungguh tidak bebas mengekspresikan dirinya.
“Baiklah, terserah untukmu,” ucap Ares membiarkan panggilan menyala, sementara dirinya berbaring dan menuju alam mimpi.
Satu jam…
Dua jam…
Ares lewati begitu saja, sampai suara ketukan membangunkannya.
“Ares! Waktunya makan malam!” teriak Athena dari luar sana.
Ares membuka matanya perlahan, dia melihat ponselnya dan ternyata itu masih menyala.
“Hallo? Apa kau masih di sana?” tanya Ares.
Tidak adanya jawaban membuat Ares mematikan telponnya, dia segera keluar dari kamar dan menemui daddy nya juga baru keluar kamar.
“Aku malas makan malam.”
“Jangan buat mommy mu kesal, Ares.”
“Aku paham.”
“Dan Daddy sudah membeli museum itu tanpa mempertimbangkan apapun, jadi kau harus menerima adik barumu jika Daddy mencetaknya.”
“Iya, daddy,” jawab Ares malas.
🌹🌹🌹🌹
“Apa kata Kakek, Nek?”
“Hutan itu dibeli oleh perusahaan swasta, dengan museumnya juga. Karena pemerintah tidak merawatnya dengan benar, dan swasta memberikan penawaran tinggi, jadi diberikan.”
Cantika yang sedang duduk berselanjar kaki di kasur itu menatap tidak percaya, Ares benar benar kaya.
“Bagaimana kakimu?”
“Sudah baikan, hanya sedikit nyeri saja. oh ya, ponsel Cantika udah beres?”
“Belum, Kakek juga belum pulang,” ucap sang Nenek yang kembali membaluri kaki Cantika dengan beras kencur buatannya.
Cantika tidak memegang ponsel sementara karena rusak, jadi sang kakek membawanya ke tempat service ponsel di depan.
“Nanti makanannya mau Nenek bawa ke sini?”
Cantika menatap keluar jendela yang persis ada di sampingnya, dia menyangga dagunya dengan tangan yang bertumpu pada bingkai jendela, menatap awan sore yang cerah. “Kenapa tadi hujan?” gumamnya tidak percaya.
“Astaga, Ares begitu kaya, aku kira dia tidak sekaya itu sampai bisa membeli hutan. Wah…., pantas saja banyak wanita yang mengejarnya,” gumam Cantika membayangkan wajah Ares di langit sana. “Tapi dia sangat tampan, aku tidak bisa menghapus wajahnya dari memori internal otakku. Oh…. Astaga….., orang tampan memang sulit dilupakan.”
“Cantika! Ada Laura datang!” teriak sang Nenek dari luar.
“Oh, suruh ke sini saja, Nek!” jawabnya menutup pintu jendela yang terbuat dari kayu itu.
Tidak lama kemudian Laura datang ke sana.
“Hai, kau baik baik saja?”
“Ya, bagaimana kau tahu?”
“Aku mendengarnya dari Nenekmu, kakimu sakit?” tanya Laura duduk di pinggir ranjang, berhadapan dengan Cantika.
“Sekarang sudah lebih baik. Ada perlu apa kau datang?”
“Ponselmu mati?”
“Ya, sedang dibawa Kakekku keluar, apa ada tugas dari group kelas?”
“Tidak, aku hanya ingin mengatakan sesuatu.”
Cantika mengerutkan keningnya, dia merasa Laura bicara berbelit belit; apalagi dari tadi mereka sedang bicara. “Katakanlah, kau tampak ragu.”
“Ya, lihat ini,” ucap Laura memperlihatkan layar ponselnya, di sana ada riwayat panggilan Laura dan Ares yang berdurasi lebih dari dua jam.
Cantika dibuat terpaku karenanya. “Wah…., kalian pasti bertukar banyak cerita.”
“Kau paham maksudku bukan?” Laura membalas tatapan kekaguman Cantika dengan penuh kesinisan.
“Maaf?”
“Aku dan Ares akan menjalin hubungan, dan aku melihat kau malah lebih dekat dengannya daripada aku.”
Cantika dibuat tergagap karenanya, bukan karena takut disalahkan, tapi dia takut karena hal itu Laura menjauhi Ares, apalagi Cantika tahu bagaimana Ares sangat menyukai Laura. “Bukan begitu, aku dan Ares bersahabat sejak kecil.”
“Kau menyukainya?”
“Aku hanya kagum padanya.”
“Kau menyukainya?”
“Wajahnya tampan.”
“Apa kau menyukainya?!” tanya Laura dengan nada tinggi.
Cantika terdiam sesaat kemudian mengangguk. “Ya, aku menyukainya.”
“Kau tahu dia menyukaiku bukan?”
Cantika kembali mengangguk. “Tenang saja, rasa sukaku lebih pada kekaguman padanya, dan karena dia teman kecilku, jadi kam⸻”
“Ini peringatan keduaku,” potong Laura. “Jauhi dia, kini aku sudah memiliki nomornya, aku tidak perlu kau lagi dalam hal mengenai Ares. Aku yang akan mengisi jok belakang motornya mulai besok, sebaiknya kau tahu itu dan tidak menunggu kedatangannya.”
Cantika mengagguk. “Baik, aku paham.”
“Kita sama sama wanita, Cantika. Aku yakin jika seseorang yang kau sukai itu bersama orang lain, itu menyebalkan.”
“Kami hanya bersahabat sej⸻”
“Terlepas apapun alasannya. Ares adalah milikku.”
“Oke,” ucap Cantika.
🌹🌹🌹🌹
 
 
TO BE CONTINUE