Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Ledakan paling merdu



🌹VOTE GAIS🌹


Lily mendekati David yang duduk di sofa memandang Oma. 


"David…..," ucap Lily menyentuh bahu suaminya.


Yang mana membuat David memeluk istrinya dari samping.


"Kenapa kau melihat Oma sejak tadi?"


"Entahlah, aku suka saat Oma mendumal. Hari yang aneh memang, kita salah menjamu tamu."


Lily tertawa kecil, itu memang moment yang aneh dan absurd untuknya sendiri. Alhasil, mereka makan bersama dengan dua orang asing yang bicara tidak nyambung.


Oma yang sedang mendumal di dapur sambil didengarkan Eta itu menengok, melihat David dan Lily yang memandangnya. "Apa kalian tidak ada kerjaan memandang Oma huh?"


"Oma, jangan sampai nyinyirmu melukai anak anakku, bukan kami yang salah." David menjawab.


"Astaga, naiklah ke atas, Oma sedang bicara dengan Eta."


David terkekeh. "Yang aku lihat Oma sejak tadi marah marah, apa Oma tidak sadar kuping Eta memerah?"


Seketika Oma menatap Eta. "Benar begitu, Eta? Telingamu panas?"


"Ti… tidak, Nyonya Besar."


"Dia bilang tidak!"


David berdecak, dia merangkul istrinya. "Ayo ke atas, Sayang."


Lily yang merasa lelah dan letih akibat kehamilannya itu mengangguk. "Apa tidak apa meninggalkan Oma?"


"Dia sedang pusing, sudah biarkan saja. Nanti juga setelah meledak dia akan tenang."


"Kemarahannya yang meledak?"


David mengangguk sebagai jawaban. Sebenarnya itu hal lain, jika Oma marah dia akan mengeluarkan kentut besar sehingga amarahnya agak mereda.


Dirangkul oleh David, Lily masuk ke kamar yang biasanya memang dia datangi dua minggu sekali.


Rasa begah di perut membuat Lily mendesah pelan.


"Kenapa, Sayang? Apa sakit? Apa bayi bayi kita ingin berjumpa Daddy nya?"


"Ti… tidak, mereka ingin…"


"Ingin apa, Sayang? Katakan padaku, seluruh dunia saja bisa aku berikan untuk kalian."


Lily ragu berucap, "Aku ingin air madu, bisa… kau buatkan untuku?"


"Hanya itu yang kau inginkan, Sayang?"


"Dan kue lapis yang tadi."


"Baiklah, tunggu di sini," ucap David memberi ciuman di pipi istrinya sebelum pergi ke luar.


Dia turun ke lantai bawah di mana di sana masih ada Eta yang beres beres, beserta Oma yang masih mendumal kesal karena salah menjamu.


"Kenapa kau turun lagi?"


"Sayapku patah, Oma."


"Kau menyebalkan."


"Aku ingin membuatkan air madu untuk istriku tercinta agar perutnya tidak kesakitan karena Oma yang berisik," ucap David sambil membuka pantry. "Kenapa Oma masih marah? Oma belum kentut?"


"Kemarahan ini belum mencapa puncak, baru mengeluarkan lahar, Oma belum bisa meledak," guman Oma dengan wajah marahnya.


"Oma butuh bantuan?"


"Bantuan apa?"


"Untuk menambah kemarahan dan meledak?"


Oma diam, dia mengerutkan keningnya mengira cucunya itu main main saja.


"Sebenarnya, Oma, aku tidak sengaja pernah menumpahkan kopi di gigi paslu Oma."


Dan seketika…. DDDUUUUUUTTTTTTTT!


Oma meledak!


"Dasar cucu tengik! Pantas saja ada banyak serbuk hitam!"


🌹🌹🌹


"Sayang….."


Lily mengeratkan pelukannya pada dada David. Keduanya berbaring di atas ranjang.


"Sayang… aku janji akan pulang secepat mungkin."


Lily merasakan firasat aneh, dia tidak ingin David pergi jauh darinya.


"Sayang…."


"Holland bilang kalian akan di sana selama beberapa minggu," ucap Lily dengan suara serak menahan tangis. "Apa yang sebenarnya terjadi?"


David mencium puncak kepala istrinya. "Ibuku terjerat sebuah kasus, ada pengadilan yang menunggunya."


Lily mengadah, menatap manik David. "Itu memakan banyak waktu."


"Hei… aku akan pulang sebelum bayi bayi kita lahir. Aku janji."


Lily merasa sangat berat. Membayangkannya saja, tidur tanpa David, tanpa disambut oleh gombalan dan kenarsisan suaminya yang begitu hangat. Berbulan bulan mereka bersama, begitu manis dan indah. Dan sekarang harus berpisah.


"Apa tidak bisa diwakilkan?"


"Aku akan pulang secepat mungkin, Sayang."


Lily cemberut, dia kembali menyembunyikan wajahnya di dada sang suami.


David menarik napas dalam bingung, hingga dia mendapatkan sebuah ide. "Bagaimana kalau kita keluar? Jalan jalan malam ini?"


"Tidak mau."


"Kita beli ice cream cokelat?"


"Tidak mau."


"Pancake madu?"


"Tidak."


"Pancake durian?"


Dan akhirnya Lily mengangguk, membuat David bersemangat. "Ayo kita jalan jalan, Sayang."


David membawa jaket Lily dan memakaikannya pada sang istri.


"Lihat, Sayang, aku adalah suami idaman. Aku tidak ingin kau kedinginan hingga aku memakaikan ini dengan penuh cinta. Nilai plus nya, aku tampan dan kaya."


Lily sedikit terhibur oleh itu. David yang ada di bawahnya melingkarkan tangan di pinggangnya sebelum mencium perutnya. "Tunggu daddy ya, daddy janji akan pulang cepat. Dan pastikan setiap hari kalian melihat wajah tampan Daddy supaya menular pada kalian."


"Apanya yang menular?"


"Tentu saja ketampananku, Sayang. Lihat aku, gagah dan tampan, itu patut diturunkan untuk kedua bayi bayiku."


Lily kikuk, dia hanya menerima uluran tangan David menuju ke bawah.


Di sana ada Oma yang sedang makan kue sambil menonton tv bersama Eta.


"Oma, aku dan Lily akan keluar."


"Terserah."


David mengerutkan kening. "Apa Oma butuh sesuatu untuk mendorong ledakan lagi?"


"Sudah sana pergi."


"Oma, bagelen yang Oma makan itu sudah tengik satu hari yang lalu."


Dan Oma menatap perlahan David. "Apa kau bilang?! Dasar Bule tengik!"


Dan ketika semburan Oma terjadi, Lily tergelonjak kaget sambil memegang tangan suaminya. 


"David," ucap Lily ketakutan.


"Tidak apa, Sayang. Kau harus melakukan ini agar marah Oma reda."


Dan benar saja, setelah ledakan terjadi, Oma berkata, "Oma ingin ice cream vanilla. Oh ya, hati hati di jalan, Lila. Astaga…., Ternyata orang tua zaman dulu benar, keluarkan dari balik mana saja, itu akan membuatmu lega. Maaf membuatmu kaget Lila, he he he. Kau harus mencobanya saat David membuatmu marah, Lila."


🌹🌹🌹


TBC