Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
S2 : Nyonya Fernandez



🌹Jangan lupa kasih emak vote yaaa anak anak.🌹


🌹Ajak yang lain juga buat baca karya receh emak ini ya.🌹


🌹Jangan lupa follow : Ig @RedLily123.🌹


🌹Selamat membaca anak anak.🌹


Karena semalam Lily tidur bergitu lelap, jadi yang menjaga Ares adalah David. Tidak ingin tergantung pada pengasuh menjadi alasan, selain itu David juga ingin menjadi ayah yang dapat diandalkan sang anak.


Sebenarnya semalaman Lily melihat Ares ditimang oleh David sampai akhirnya tertidur, tapi sisi lain dari dirinya ingin melihat sebesar mana kesabaran sang suami. Dan ternyata luar biasa, David begitu sabar. Dia bahkan tidur di sofa supaya anak anaknya tidak merasakan kesempitan.


Yang mana membuat Lily duduk di karpet dengan dagu bersandar di sofa sambil menatap suaminya.


Tangan Lily terangkat mengusap surai David yang berwarna hitam legam.


Saat itulah David terbangun, setelah memiliki anak dirinya lebih peka terhadap sentuhan.


“sayang, kenapa kau duduk di sini? Bangunlah, bayi kita bisa kedinginan.”


Belum juga David mendudukan dirinya, dia melihat air mata istrinya mengalir. “Sayang kenapa kau menangis?”


Sontak saja David langsung ikut duduk di atas karpet, tangannya merangkup pipi sang istri dengan manik yang menatap tajam. “Sayang, ada apa? Kenapa kau menangis?”


“David.”


“Hei, iam here,” ucap David segera membawa istrinya ke dalam pelukan. Dia akan membiarkan istrinya tenang dulu dengan usapan lembut di kepala, dengan ciuman kecil di bahu ditambah suara yang menengkan. “Tidak papa, jangan menangis. Aku di sini, katakana padakku ada apa.”


Setelah mulai tenang, David meregangkan pelukan. Dia kembali merangkup kedua pipi istrinya. “Ada apa?”


“Aku merasa bersalah.”


“Untuk apa?”


“Kau menggendong Ares sepanjang malam, sementara aku tertidur. Maafkan aku.”


Tanpa diduga, David malah tertawa kemudian memberikan hujan ciuman di pipi istrinya. Yang mana malah membuat Lily semakin menangis. 


“Sayang, sudah hentikan.”


“Aku merasa bersalah.”


“Dengarkan aku, lihat aku.”


Lily menatap manik David, kemudian dia mendapatkan usapan di pipinya dengan begitu lembut. “Sayang, aku hanya beradang satu malam, sementara kau mengandungnya Sembilan bulan. Makan tidak enak, tidur tidak nyenyak, jadi berhentilah merasa bersalah.”


🌹🌹🌹🌹🌹


“Apa anak anak tidak akan membuat kekacauan?” tanya Lily menatap suaminya yang sedang sarapan.


Keduanya sarapan di hotel, sementara anak anaknya mengikuti Oma untuk menemui Sebastian dan istrinya.


“Aku harap begitu.”


“Jangan memikirkan apa pun. Sudah makan saja.”


Lily tersenyum dan menerima suapan dari suaminya. “Setelah ini ayo antar aku periksa kandungan.”


“Apapun akan aku lakukan demi dirimu.”


Lily tersenyum melihat suaminya, hatinya tidak berhenti bersyukur atas karunia Tuhan. “Kenapa kau sangat tampan?”


“Astaga, Lily,” ucap David menatap manik istrinya tidak percaya. “Lihat siapa yang bicara.”


Lily malah tertawa. “Aku iri pada Nana.”


“Apa? Kenapa kau iri? Aku lebih muda dari Sebastian.”


“Mereka bulan madu.”


“Tenang, sayang. Kita akan menyusul.”


Lily semakin tersenyum senang. “David?”


“Ya, katakana padaku apa lagi yang kau inginkan?”


“Makanan di sini enak.”


David mengangguk paham. “Akan aku bungkus.”


“terima kasih, aku akan menunggu anak anak.”


Setelah selesai makan, Lily keluar dari restaurant itu dan menunggu anak anaknua turun ke lobi. Saat sedang menunggu, Lily melihat ada Nana yang sedang berbicara dengan seorang wanita berparas cantik, dia terlihat mengintimidasi Nana. Dan sayangnya, tidak ada Sebastian, Oma maupun seseorang yang menjaga Nana di sana.


Membuat Lily datang mendekat. Apalagi Lily ingat jika wanita modis itu adalah mantan pacar Sebastian yang kini menjadi ibu tirinya.


“Hallo, Aneh. Apa kau tersesat?”


“Siapa kau?”


“Lily Fernandez.”


Tentu saja nama Fernandez sangat berpengaruh, apalagi David adalah sahabat Sebastian.


Lily melanjutkan perkataannya. “Kau ingin tetap berdiri di sini? Urusanmu belum selesai? Mungkin aku bisa membantu.”


Dan akhirnya Lucille pergi sambil bergumam, “Sialaaan sekali.”


🌹🌹🌹🌹


To Be Continue