
🌹Ajak yang lain untuk baca ini guys🌹
Lily bangun lebih dulu, dia merasakan David masih memeluknya dari belakang. Sudah tiga hari mereka tinggal di apartemen, Lily merasa menjadi istri sesungguhnya. Dia menjalankan semua pekerjaan seorang istri di sini.
Kemarin sore, David dan Lily mengunjungi Oma untuk mengatakan bahwa mulai sekarang mereka akan tinggal di apartemen. Dan Oma menyetujuinya, karena dia tahu bukan sembarang orang bisa masuk ke area pribadi David. Melihat David membuka pintu lebar untuk Lily adalah hal yang baik bagi Oma. Dia tahu semua berjalan dengan semestinya.
Lily membasuh wajah dan menggosok gigi sebelum menyiapkan pakaian yang akan dipakai David nanti. Agar sarapan hangat, Lily membangunkan David lebih dulu untuk memandikan pria itu.
"David… bangun, sudah siang. Waktunya mandi."
David menggeliat, dan seperti biasanya, dia menarik Lily ke dalam pelukan untuk beberapa saat.
"David… sudah siang."
"Sebentar."
"Matahari sudah tinggi."
David membuka matanya malas, menatap tirai yang sudah terbuka lebar. Dia mengerutkan kening. Bukan tanpa alasan David tidur larut, semalam dia menahan keinginan bermain bersama Lily. Maka darinya David memilih sendirian di kamar mandi, dia mematikan ponsel guna menahan keinginan dan godaan dari Sebastian untuk keluar.
"Bangun…."
"Aku bangun," ucap David mendudukan diri, dia menatap Lily yang berwajah cantik. "Beri aku ciuman."
CUP.
Satu kecupan mendarat di bibir David. "Ayo mandi."
Terpaksa, David menyibakan selimut dan memperlihatkan dirinya yang hanya memakai boxer saja. Dia pergi ke kamar mandi, di mana sudah disiapkan air hangat untuk David. Lily menyusul saat David sudah dalam bathub.
"Kenapa tidak mandi bersama?"
"Aku masih berdarah."
"Sampai kapan akan selesai?" Tanya David mengadahkan kepala, di mana Lily duduk di belakang David, tapi bukan di dalam bathub.
"Aku tidak tahu."
"Aku sangat kasihan padamu, Sayang, kau pasti merindukanku, maka darinya cepat selesaikan. Oke?"
Lily hanya mengangguk dan memandikan David, sesaat Lily risih melihat perut kotak kotak David yang begitu liat. Sejenak Lily diam, ingat bagaimana dirinya menggeliat di bawah kukungan David sambil mencakar perutnya yang begitu kuat.
Setelah selesai mandi, Lily membereskan kamar mandi lebih dulu.
"Aku akan membuat sarapan," ucap Lily pada David yang sedang memakai pakaian.
"Oke, pakai tuna."
Lily mengangguk, dia pergi sebelum David selesai. Seperti inilah rutinitas beberapa hari terakhir ini, David dan Lily hanya berdua di rumah. Jika Lily ingin keluar, Lily hanya perlu menghubungi Holland, pria itu selalu siaga selama 24 jam bersiap.
Memasak telur tuna dan roti panggang, juga cream sosis bayam. Lily selalu memadukan makann barat dengan khas Indonesia.
"Wow, aromanya enak," ucap David turun, dia memberi Lily gigitan di telinga sebelum duduk. "Makan di sampingku."
Lily melakukannya.
"Oma mengajakku senam pagi ini."
David diam. "Jangan terlalu kelelahan, senam saja di sekitar apartemen."
"Kasihan Oma."
"Tempatnya cukup jauh, kau harus kembali untuk membuat makan siang."
"Bagaimana jika aku membuat makan siang di rumah Oma?"
David diam sesaat, dia kembali mengunyah dan mengangguk. "Baiklah, lakukan itu."
Lily bertepuk tangan senang.
"Beritahu aku jika ingin pergi ke manapun."
"Aku tahu."
Diam diam David menatap Lily, dia tidak tahu hidupnya akan seperti ini. Yang David tahu saat ini, menyenangkan hidup bersama wanita mungil ini.Â
Apalagi saat diantar sampai ke depan pintu, David selalu mencium Lily lama, ******* bibirnya dan menarik pinggangnya seperti sekarang ini.
"Hmmmpphh… siang….," Ucap Lily di sela ciuman mereka.
David melepaskan ciuman, dia menatap Lily lama, tangan David menyentuh pipi halus istrinya. "Jaga diri di rumah."
Lily mengangguk.
"Beri aku kecupan lagi."
Kesulitan, Lily berjinjit, tapi tetap saja tidak sampai. David seolah mempermainkannya dengan berdiri tegak.
"David, sulit."
David terkekeh, dia akhirnya menunduk. "Baik, cium bibirku."
🌹🌹🌹
"Nyonya Besar, Nyonya Lily sudah datang."
Seketika Oma menghentikan aktivitas senamnya, dia berlari menuju pintu dan menyambut kedatangan Lily. "Sayangku Lila, Oma merindukanmu."
Lily terkekeh, dia datang dan memeluk Oma. "Hallo, Oma. Lily juga merindukanmu."
Sebenarnya, Oma kesepian dengan ketidakadanya Lily di sini. Namun, demi kebaikan David, demi cucunya menjalani hidup lebih benar, Oma rela kesepian.
"Lihat, pipimu semakin besar, kau makan terus?"
Lily memegang pipinya. "David suka menciumnya setiap malam," ucap Lily malu malu.
Oma tersenyum bahagia. "Apa kau belum selesai haid?"
"Tinggal sedikit lagi Oma, mungkin besok selesai. Ada apa?"
Lily berhenti melangkah menuju ke ruangan senam. "Oma, Lily malu."
"Kenapa haru malu? Kau harus sering melakukannya agar punya bayi dengan cepat."
"Oma…"
Lily terkejut saat mendapati Marylin di ruangan senam dengan berbagai macam pakaian seksi dan peralatan salon yang begitu banyak.
"Oma," ucap Lily menatap Oma kaget.
"Apa? Kau tidak akan senam."
"Semalam Oma menangis meminta Lily datang untuk senam."
"Ya, Oma senam sendiri, kau akan dipermak."
"Tapi, Oma." Lily menahan tangan Oma agar tidak pergi. "David suka pipi Lily yang besar."
"Marylin akan membuatnya semakin kenyal, sudah pergi saja."
Sementara Oma pergi menemui Eta. "Eta."
"Ya, Nyonya?"
"Bagaimana dengan Dena dan si muka merah itu?"
Muka merah adalag Megan, wajahnya yang merah oleh blush on membuat Oma sering mengejeknya. "Masih di Indonesia?"
"Ya, Nyonya, mereka masih di sini."
"Apa yang mereka lakukan?"
"Yang saya tahu, kemarin mereka menemui Tuan Sebastian."
Oma mengepalkan tangannya, dia menatap ke arah lain seolah siap memukulkannya pada Dena dan Megan. "Awas saja mereka."
"Dan… nyonya besar…."
"Apa lagi?"
"Tuan David meminta Holland mengambil beberapa pakaiannya lagi."
Oma tersenyum. "Biarkan dia membawanya."
"Apakah…. Tidak apa, Nyonya Besar?" Seingat Eta, majikannya sangat ingin tinggal bersama cucunya. Dan sekarang dia melepaskannya dengan begitu mudah.
"Tidak, David ingin kehidupan baru bersama Lily. Biarkan mereka melakukan apa yang mereka inginkan."
"Baik, Nyonya Besar."
"Dan Eta…"
"Ya, Nyonya Besar?"
"Carikan jamu kuat untuk David dan buat Lily membawanya, biarkan Lily membawanya. Tapi jangan buat Lily mengetahuinya, Lily harus tahu itu hanya untuk menambah stamina."
"Eum…" Eta sedikit bingung. "Sejenis perangsang, Nyonya?"
"Ya, David harus mengeluarkan benihnya cukup banyak."
"Saya mengerti, Nyonya Besar."
🌹🌹🌹
Megan dan Dena tertawa kuat melihat banyaknya barang bukti yang dia dapatkan selama tiga hari terakhi ini. Mulai dari David yang menjadikan Lily taruhan, yang menjadikan Lily bahan guyonan, dan juga bagaimana David bermain di luar sana bersama wanita lain.
Yang diyakini Dena, Lily akan sakit hati saat melihatnya.
"Tenang saja, Megan. Jika bersamamu, David tidak akan melakukan ini."
Megan mengangguk bodoh. "Aku mengerti, Mama."
"Aku akan menyingkirkan wanita itu, jika rencana ini gagal, aku akan membuat orangtuanya mempermalukan David dan nenek tua itu hingga nama perusahaan kotor. Dan mereka akan mengusirnya."
Megan tertawa dalam hati, dia memainkan peran dengan sangat baik. Dia senang Dena ada di pihaknya, dan akan Megan buat keduanya berpisah dengan bantuan Dena.
Namun, hal lain yang menjadi penghambat adalah Dena yang harus pulang ke Amerika karena anak dan suaminya sakit. Jadi mereka hanya punya waktu sampai lusa.
"Jangan khawatir, Megan Sayang. Kita akan memisahkan mereka segera. Kau akan menjadi satu satunya di hati David. Yang benar saja aku ingin menantu bodoh seperti Lily."
Megan tersenyum senang. "Kita pergi sekarang, Mama?"
"Ya."
Keduanya meluncur menuju apartemen David, dengan berbekal bukti.
Namun, saat mengetuk pintu apartemen David, tidak ada siapapun di sana.Â
"Bagaimana ini, Mama?"
"Simpan saja di sana."
Megan melakukannya, dia menyimpan sebuah kotak itu di depan pintu apartemen.Â
Megan dan Dena meninggalkan tempat itu.Â
Dan beberapa jam setelah itu, Lily yang selesai mengirimkan makan siang untuk David telah pulang.
Dia mengerutkan kening.
"Kotak apa ini?"
Dan sialnya, Lily mengambil dan membukanya.
🌹🌹🌹
to be continue...