Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Pertahanan



🌹Kasih Vote Guys🌹


Setelah mandi, David lebih banyak menghabiskan waktunya dengan laptop di balkon, dengan ditemani beberapa buah. David bilang Marylin akan datang dan membawa baju yang David pesan, tapi sampai sekarang Lily mematung diam di atas ranjang sambil menonton televisi.


Sesekali Lily melirik David yang memakai kacamata, dia terlihat sangat tampan saat fokus pada pekerjaannya. Lily akui, diantara David, Sebastian dan Luke, yang paling tampan adalah Luke. Namun, David memiliki daya tarik lain. Dia sangat berkharisma hingga bisa menggeser Luke dalam pandangan Lily.


"Apa kau sedang menatapku, Sayang?"


"Tidak," ucap Lily pelan segera mengalihkan pandangannya.


"Sebentar lagi aku selesai, sekretaris baruku akan mengambil file ini."


Lily diam.


"Dia laki laki."


"Aku tahu."


"Maka dari itu jangan mengerucutkan bibir, sebentar lagi aku selesai."


Lily merebahkan dirinya di atas kasur, merasakan leembutnya sprei putih. Tidak ada lagi pekerjaan, semuanya sudah beres. Lily hanya ingin berbaring, dia kelelahan akibat semalam dan barusan. Walau pun saat mandi mereka hanya bercumbu, itu membuat Lily lelah.


David harus berhenti menancapkan kejantanannya karena pekerjaan datang menghampiri.


"Marylin akan datang sore."


Lily tidak menjawab, dia mengantuk berat. Sampai dering telpon menyadarkannya, Lily mengangkat.


"Hallo, Oma?"


"Sayang, apa kau akan datang?"


"Tidak, Oma. David tidak pergi ke kantor, dia sedang bekerja di apartemen."


"Astaga, apa kalian melakukan hal berat semalam?"


Lily menggigit bibir bawahnya malu.


"Sudah Oma duga, Oma akan datang ke sana. Beritahu David."


"Tap--" Sebelum Lily menyelesaikan kalimatnya, Oma lebih dulu memutuskan panggilan.


Lily mendudukan dirinya malas, dia berjalan ke arah David.


"David…"


"Ada apa, Sayang?"


"Oma bilang dia akan datang."


David berhenti mengetik, dia menatap Lily yang terlihat lelah. "Apa kau baik baik saja?"


Lily mengangguk. "Aku akan membuat makanan untuk Oma."


"Tunggu." Tangan David menahan gerakan Lily. "Kau terlihat lelah."


"Aku baik baik saja," jawab Lily lalu menguap kecil tidak lama kemudian. Tubuhnya saja lesu, Lily terlihat sangat mengantuk.


Yang mana membuat David menarik Lily agar duduk di pangkuannya. "David, aku harus memasak."


"Tidurlah, Sayang. Kau mengantuk." David memaksa Lily bersandar di dadanya, dengan David yang memeluk pinggang Lily.


Meninggalkan laptop di meja demi mengusap punggung istrinya. Tubuh Lily yang kecil membuat Lily pas di sofa pendek. Dia bersandar pada David dan merasakan kantung yang berlebih.


Lily melawan rasa kantuknya dengan mencoba mendorong dada David. "Aku harus memasak."


"Tidur, Sayang, tidur. Pelukanku itu eksklusif, kau hanya akan mendapatkannya beberapa kali saja."


Tangan David terus mengusap kepala Lily sampai akhirnya istrinya memejamkan mata.


Sebelum terlelap pun, Lily masih berucap, "Aku harus memasak."


David menyunggingkan senyuman. "Ya, kau akan masak di mimpimu, Sayang."


Sangat mudah bagi David membuat Lily tidur. Yaitu dengan membuatnya kelelahan atau dengan pelukan. Dan cara seperti ini, membuat Lily terlihat seperti bayi besar yang menggemaskan. Apalagi rambutnya yang panjang menghalangi sebagian wajahnya yang cantik.


David gemas, sesekali dia mencium pipi Lily sebelum kembali mengusapnya.


David menatap ke luar balkon, taman di depan apartemen yang dia tatap sering kali. Sekarang ada perbedaan, dengan seseorang yang menemani.


Mendengar suara bel berbunyi, David segera berdiri dan menidurkan Lily di atas ranjang. Dia mengusap kepala istrinya sebelum mematikan televisi.


David turun ke lantai bawah, membuka pintu.


"Selamat siang, Nyo…..," ucapan Eta menggantung. "Tuan."


"Eta, masuklah. Di mana Oma?"


"Aku di sini," ucap Oma baru keluar dari lift dan berjalan menuju David. "Minggir, Oma ingin lihat bagaimana apartemen yang selalu kau lindungi ini."


DUK.


Oma menyenggol bahu David. "Astaga, Oma, kau semakin mahir seperti pemain sinetron."


"Apa kau bilang? Ayo Eta masuk, dan susun jamu yang aku bawa."


"Baik, Nyonya Besar." Eta langsung mencari dapur.


David bingung, dia mendekati Oma yang sedang melihat sekeliling. "Apa yang Oma bawa?"


"Di mana Lily?"


"Dia tidur, jangan mengganggunya."


Oma menengok. "Di lantai dua?"


"Oma, jangan pergi ke sana. Lily sedang tidur."


"Oma akan ke dapur, bule tengik. Oma hendak membuat makanan. Kenapa kau tidak ke kantor dan malah membuat istrimu lelah?"


"Aku mempersiapkan diri untuk pesta pertunangan Luke."


Oma berhenti melangkah menuju dapur. "Luke akan tunangan? Dia tidak mengundang."


"Kau bilang itu tunangan," ucap Oma menahan kesal.


"Maksudku sama saja, nanti mereka bertukar cincin, dan di hari lain juga melakukan hal yang sama."


"Oh iya, sangat romantis karena pernikahan mereka bukan permainan. Pernahkah kau memberikan Lily cincin?"


David terdiam, dia tidak pernah melakukannya. Cincin pernikahan Lily dibeli secara mendadak dengan desain yang asal asalan.


"Kau baru sadar? Istrimu tidak pernah merasakan bagaimana romantisnya dilamar dan mendapatkan cincin impian."


David semakin diam.


🌹🌹🌹


David pergi ke suatu tempat, tepatnya ke kediaman Marylin. Di sana dia disambut oleh asistennya yang sama sama laki laki dengan gaya gemulai.


"Selamat datang, Tuan Fernandez."


"Jangan sentuh aku," ucap David saat pria itu hendak bersalaman dengannya. "Dimana Marylin?"


"Dia sedang di dalam. Masuklah."


"Menyingkir, aku tidak ingin bersentuhan denganmu."


"Astaga," gumam pria itu. "Silahkan masuk."


David berjalan sesuai arahan, sampai dia berhenti di ruang tamu yang berantakan di mana di sana Marylin sedang menelpon. David ditinggalkan bersama Marylin yang masih sibuk dan tidak menyadari kehadirannya.


Sampai saat Marylin berhenti menelpon, dia berbalik dan terkejut melihat David. "Astaga! Tuan Fernandez!"


"Apa kau menerima pekerjaan dari orang lain?"


"Tuan, aku bisa jelaskan."


"Jangan mendekat, beri jarak dua meter."


Marylin langsung berhenti melangkah dan mundur perlahan. Dia kembali memasang wajah menyesal. "Tuan, ini tidak seperti yang anda duga."


"Aku menyewamu untuk bekerja padaku dan menjadi penata rias dan busana istriku dan diriku, pantas saja kau sering terlambat."


"Bukan seperti itu, Tuan…" Marylin menghentakan kakinya merasa menyesal yang amat kuat. "Tuan David."


"Ingat perjajiannya? Aku bisa melaporkanmu karena tidak mematuhi poin dalam perjanjian."


"Tuan, aku tidak sengaja menerima orderan dari orang lain," ucap Marylin bersimpuh di depan David dari kejauhan. "Maafkan aku."


"Aku akan memaafkanmu."


Marylin tertawa. "Terima kasih, Tuan."


"Jika kau melakukan ini."


Marylin mendekat. "Melakukan apa?"


"Mundur lagi."


Dan dia melakukannya. "Melakukan apa, Tuan?"


"Buatkan aku cincin seperti ini," ucap David memberikan gambar yang dia buat di kertas kosong.


"Apa ini?" Tanya Marylin bingung, yang dia lihat hanyalah corat coret layaknya anak SD. "Apa ini benang kusut?"


"Itu desain cincin yang akan aku buat untuk istriku!"


Marylin terkejut. "Tapi ini seperti benang kusut, Tuan."


David menyandarkan punggungnya di sofa, dia melipat tangannya di dada. "Coba kau cari ujungnya."


Marylin menyipitkan mata, dia tidak bisa menemukan ujung benang kusut yang bercampur hingga terlihat seperti bulatan hitam tanpa ujung. "Tidak ada ujungnya, Tuan."


"Ya, itulah yang akan aku lakukan padamu jika kau tidak bekerja maksimal dan memberikan pelayanan terbaik, aku akan menuntutmu dan membuatmu menderita di penjara tanpa ujung."


Seketika Marylin melempar kertas itu, dia bersujud di kaki David dari kejauhan. "Ampun, Tuan. Ampuni aku, aku janji akan setia padamu."


David bergidik ngeri, pasalnya suara Marylin membuat David merasa kesal.


"Berhenti menggunakan nada itu!"


"Ampun, Tuan."


David berdehem. "Buatkan aku desain cincin yang mewah tapi elegan yang cocok untuk Lily, dan itu harus selesai sebelum pesta Luke. Jika tidak, akan aku buat kau seperti benang kusut pada gambarku."


"Baik, Tuan."


David berdiri, membuat Marylin ikut melakukannya.


"Apa yang akan kau lakukan?"


"Mengantarkan anda ke depan," ucapnya dengan kalimat lembut.


David semakin jijik. "Berhenti mempedulikanku dan buat segera gaun, jas dan cincin untukku. Jika tidak…."


"Ampun, Tuan Muda. Ampun."


David berdecak, semakin sering orang bertemu dengan Oma, orang tersebut akan ikut menyebalkan sehingga David harus mengeluarkan tenaga dari mulutnya.


Dia pergi dari kediaman Marylin, dan segera menelpon Holland.


"Hallo, Tuan?"


"Holland, belikan aku suatu alat pendeteksi virus corona, aku tidak ingin ada satupun virus yang mendekati keluargaku."


"Baik, Tuan."


"Dan sewa laboratorium di Amerika, tempatkan dokter terbaik dari Asia. Peralatan yang canggih harus diisi oleh orang yang pintar. Aku ingin mereka menemukan obatnya, Indonesia sedang diserang, aku tidak ingin keluargaku salah satunya."


"Baik, Tuan Muda."


🌹🌹🌹


to be continue....